Harga Minyak Dunia Kembali Melesat Usai Turun Tajam, Ini Penyebabnya

5 hours ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia menguat pada Kamis, (9/4/2026). Kenaikan harga minyak ini setelah Iran menuding Amerika Serikat (AS) melanggar beberapa elemen dari kesepakatan gencatan selama dua pekan, meningkatkan kekhawatiran ketegangan dapat meningkat lagi dan menganggu pasokan energi.

Mengutip CNBC, Kamis pekan ini, harga minyak Brent untuk pengiriman Juni melompat 2,08% menjadi USD 96,83. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei bertambah 2,86% menjadi USD 97,27.

Pergerakan harga minyak ini terjadi sehari setelah harga minyak mentah AS mencatat penurunan harian terbesar sejak 2020.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf menuturkan pada Rabu, 8 April 2026, AS telah melanggar ketentuan kesepakatan gencatan senjata.

"Ketidakpercayaan historis yang mendalam yang kami miliki terhadap Amerika Serikat berasal dari pelanggaran berulang-ulang terhadap semua bentuk komitmen, sebuah pola yang sayangnya telah terulang kembali,” kata Ghalibaf dalam sebuah pernyataan yang diposting di media sosial.

Ghalibaf mengatakan tiga elemen dari proposal gencatan senjata 10 poin Iran telah dilanggar: serangan Israel yang terus berlanjut di Lebanon, sebuah drone yang memasuki wilayah udara Iran, dan apa yang ia gambarkan sebagai penolakan hak Teheran untuk memperkaya uranium.

Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Selasa di Amerika Serikat proposal Iran dapat menjadi dasar untuk pembicaraan.

Wakil Presiden JD Vance menanggapi tuduhan tersebut saat melakukan perjalanan ke Hongaria pada Rabu. “Gencatan senjata selalu rumit,” kata Vance, menanggapi insiden drone yang dilaporkan di wilayah udara Iran.

Periode Transisi

Ia menambahkan, AS berpendapat Iran tidak boleh diizinkan untuk memperkaya uranium, dan mengatakan gencatan senjata apa pun yang mencakup Lebanon tidak termasuk dalam perjanjian tersebut.

"Sekarang harga minyak di bawah USD 100 per barel, kilang minyak harus “menggunakan kesempatan ini untuk melanjutkan pembelian yang lebih oportunistik,” kata wakil presiden pasar komoditas Rystad Energy, Janiv Shah.

“Namun, periode transisi itu sendiri dapat menghadirkan tantangan berikutnya. Jika kilang menunda pembelian dengan mengantisipasi penurunan harga lebih lanjut sementara aliran fisik tetap terbatas, kelangkaan produk dapat memburuk bahkan di tengah de-eskalasi,” ia menambahkan.

Harga Minyak Dunia Merosot

Sebelumnya, harga minyak dunia merosot pada Rabu, 8 April 2026 waktu setempat (Kamis pagi Jakarta). Koreksi harga minyak dunia terjadi setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran menyepakati gencatan senjata selama dua pekan yang memungkinkan jalur aman melalui Selat Hormuz. Namun, kesepakatan yang rapuh ini belum menghasilkan terobosan dalam lalu lintas kapal tanker sejauh ini.

Mengutip CNBC, Kamis (9/4/2026), harga kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei 2026 turun lebih dari 16% dan ditutup ke USD 94,41 per barel. Penurunan satu hari terbesar sejak April 2020 di tengah pandemi COVID-19.

Harga minyak Brent Internasional untuk pengiriman Juni merosot 13% dan ditutup ke USD 94,75 per barel.

Presiden Donald Trump mengatakan gencatan senjata dua minggu itu bergantung pada persetujuan Iran untuk pembukaan Selat Hormuz yang lengkap, segera, dan aman. AS menerima proposal 10 poin dari Iran yang merupakan dasar yang dapat diterapkan untuk negosiasi, katanya.

“Hampir semua poin perselisihan masa lalu telah disepakati antara Amerika Serikat dan Iran, tetapi periode dua minggu akan memungkinkan Perjanjian tersebut untuk diselesaikan dan diwujudkan,” kata Trump dalam sebuah unggahan di media sosial.

Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi mengatakan, Iran akan mengizinkan jalur aman melalui selat selama gencatan senjata melalui “koordinasi dengan Angkatan Bersenjata Iran dan dengan mempertimbangkan keterbatasan teknis.”

“Jika serangan terhadap Iran dihentikan, Angkatan Bersenjata kita yang kuat akan menghentikan operasi pertahanan mereka,” kata Araghchi dalam sebuah unggahan di media sosial.

Perjanjian Hormuz yang Rapuh

Gencatan senjata yang tampak ini terjadi kurang dari dua jam sebelum tenggat waktu pukul 8 malam ET Selasa yang ditetapkan Trump bagi Iran untuk membuka kembali selat tersebut. Presiden telah mengancam akan membom setiap jembatan dan pembangkit listrik di Iran jika para pemimpinnya tidak memenuhi tenggat waktu AS.

Trump mengatakan, pada Rabu pagi dalam sebuah unggahan di media sosial AS akan membantu “dengan penumpukan lalu lintas di Selat Hormuz” selama gencatan senjata.

Namun, kesepakatan tentang jalur aman tampaknya mulai runtuh hanya beberapa jam setelah pengumuman gencatan senjata. Lalu lintas kapal tanker minyak melalui Selat telah dihentikan karena Israel terus menyerang Lebanon, menurut kantor berita negara Iran, Fars.

Lalu lintas kapal belum meningkat di atas jumlah kapal harian yang telah melakukan perjalanan sepanjang perang, menurut data dari Kpler.

“Kita mungkin hanya akan melihat 10-15 [kapal] mengingat Iran masih memeriksa siapa yang boleh lewat: itu akan menjadi kecepatan yang mirip dengan yang terlihat dalam beberapa hari terakhir,” kata analis minyak di Kpler, Matt Smith.

Sementara itu, Teheran berencana untuk menuntut agar pemilik kapal membayar tol dalam mata uang kripto untuk melewati Selat, menurut sebuah laporan di Financial Times.

“Saya rasa kita tidak akan melihat normalisasi dalam dua minggu ini,” ujar analis Lloyd’s List, Tomer Raanan.

Pasokan Minyak dari Selat Hormuz

Ia menuturkan, pemilik kapal yang terjebak di Teluk Persia akan mencoba keluar jika memungkinkan, tetapi kemungkinan akan enggan untuk mengirim kapal kembali.

“Kita juga harus ingat, meskipun kapal-kapal ingin kembali berlayar normal bolak-balik, telah terjadi serangan terhadap infrastruktur minyak dan pengurangan produksi,” kata Raanan.

“Seluruh sistem sedang dalam keadaan tidak stabil.”

Ekspor minyak melalui selat tersebut anjlok selama perang karena serangan Iran terhadap pelayaran komersial, yang memicu gangguan pasokan minyak mentah terbesar dalam sejarah.

Sekitar 20% pasokan minyak global melewati selat tersebut sebelum AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari. Jalur laut sempit ini menghubungkan produsen di Teluk Persia ke pasar global.

Harga minyak mentah, bahan bakar jet, solar, dan bensin telah melonjak selama perang. Para analis dan eksekutif perusahaan minyak telah memperingatkan kekurangan bahan bakar akan berdampak ke seluruh dunia jika selat tersebut tidak sepenuhnya dibuka kembali.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |