Robot Minta Tip Menuai Kontroversi hingga Kritik

5 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Kini, pelayan robot mulai meminta tip, sehingga menuai kontroversi dan kritik dari pelanggan, lantaran tidak jelas uang tersebut akan diberikan kepada siapa. Sebuah bar, The Tipsy Robot adalah salah satu dari perusahaan yang menerapkan ini.

Melansir BBC, Selasa (25/8/2026), sebuah robot di bar tersebut melayani pesanan secara digital dan menyajikannya secara langsung dengan tangan-tangannya. Minuman yang disajikan dihargai sebesar US$ 17, atau Rp 301.678 (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.745), tetapi terdapat tambahan “biaya layanan” sebesar 10%.

Ini bukan hal baru, lantaran robot barista di Artly Coffee di New York juga pernah memberlakukan hal yang sama. Selain itu, sebuah mesin kasir mandiri di Bandara Internasional Newark Liberty menyarankan pemberian tip untuk pembelian air kemasan di kios tanpa staff. Sementara di Portland, Oregon, seorang pelayan manusia mencatat pesanan di sebuah restoran, Top Burmese, namun yang menyajikan adalah sebuah robot.

Reporter BBC tersebut mengatakan, dia tidak masalah membayar tip 20% kepada pelayan manusia, tetapi jika untuk robot dia ragu. Kebijakan untuk membayar tip tidak berlaku saat yang memintanya adalah robot, dan seringkali tidak jelas siapa yang menerima uang itu.

Perwakilan dari The Tipsy Robot dan Artly Coffee mengatakan pekerja manusia membagi tip tersebut secara merata, dan perusahaan tidak mendapat apapun. Artly juga dilaporkan telah menonaktifkan fitur tersebut sejak kunjungan oleh BBC. Namun, ini tidak berlaku untuk semua. Bahkan, beberapa pakar mengatakan ini adalah praktik dari skema yang lebih besar untuk memeras lebih banyak dari pekerja dan pelanggan.

"Wajar jika kita percaya perusahaan meraup semua untung dari tip robot ini untuk mereka sendiri,” ujar seorang profesor madya ilmu politik di Universitas Lehigh, AS, dan salah satu penulis buku ‘Gratuity’, Holona Ochs.

"Pertanyaan yang penting adalah siapa yang diuntungkan maupun dirugikan," ia menambahkan.

Pemerasan melalui Robot

Sejak pandemi, permintaan tip semakin merajalela, dan seringkali difasilitasi melalui sistem pembayaran digital. Konsumen mengeluhkan “pemerasan emosional” seiring naiknya persentase tip, dan hal ini berlaku di seluruh dunia.

Kebijakan yang berubah menjadi titik rawan di Amerika Serikat (AS), di mana tip memberikan celah untuk perusahaan membayar pekerja dengan gaji di bawah UMR. Di AS, UMR dipatok sebesar US$ 7,25, atau Rp 128.657 per jam, tetapi angka ini dipangkas menjadi US$ 2,13, atau Rp 37.798 bagi karyawan yang menerima tip.

Saat tip diberikan kepada karyawan di AS, hukum mengatakan perusahaan, pemilik, maupun supervisor tidak dapat menerima sepeser pun. Namun, saat tip diberikan kepada sebuah mesin, mungkin akan ada titik buta.

“Standar legal untuk siapa yang menerima tip robot belum ditetapkan,” tutur Ochs.

Pemerintahan Trump membuat laporan masalah oleh karyawan mengenai tip semakin sulit, dan karyawan merahasiakan ceritanya demi mempertahankan posisinya. Kini, masih sulit untuk mengetahui apakah perusahaan menerima tip dari robot.

“Seringkali kita bisa melihat orang yang bekerja di dapur maupun di bar, namun tip mungkin saja diambil oleh perusahaan. Tidak ada peraturannya,” dia melanjutkan.

Respons terhadap Komplain Pelanggan

Meski demikian, ini bukan berarti otomatisasi industri itu buruk untuk pekerja sektor layanan. Keunikan dari robot adalah poin penting dari Tipsy Robot dan Artly Coffee, jadi orang yang bekerja dengan mesin ini bergantung dengan hal tersebut.

Artly mengatakan, keputusan untuk menonaktifkan fitur tip dan menaikkan gaji karyawan adalah respons terhadap komplain pelanggan mengenai tip. Beberapa cabang kini memiliki toples tip fisik, dan 100% dari tip tersebut diterima oleh karyawan manusia, ujar direktur konten di Artly, Abigail Smathers.

“Kami tidak percaya efisiensi biaya dengan mengorbankan manusia,” kata Smathers.

Terdapat kekurangan tenaga kerja di industri layanan, dan robot dapat membantu tanpa menggantikan manusia, menuruut dia. Namun, dia juga menyorotiAI kini mengambil tempat yang tidak seharusnya.

“Namun, ini letak masalahnya. Teknologi ini tidak tercipta jahat. Moralitasnya terletak di niat dan penggunaan. Namun, kami berusaha untuk membangun dengan niat, bertindak dengan integritas, dan memastikan teknologi ini menguntungkan banyak orang, bukan hanya segelintir,” Smathers mengungkapkan.

Tip Bisa Dipakai untuk Membayar Tenaga Kerja yang Diperlukan

Di sisi lain, seorang profesor madya yang meneliti teknologi pelayanan di Universitas Mississippi, AS, Katerina Berezina, mengatakan industri ini berhak mendapat lebih banyak pengakuan. Dia berpendapat bahwa tip adalah norma di industri ini, dan perusahaan bekerja di bawah batasan pasar.

“Saya rasa tidak adil untuk berasumsi ini adalah cara perusahaan untuk meraup uang apapun konsekuensinya,” kata Berezina.

“Tip atau biaya layanan ini bisa jadi digunakan untuk membayar tenaga kerja yang diperlukan atau pembaruan yang dibutuhkan robot,” lanjutnya.

Namun, beberapa orang, seperti kelompok advokat One Fair Wage berpendapat robot hanyalah bentuk upaya untuk membayar gaji kecil, yang menjadi alasan kurangnya tenaga kerja di restoran.

Apapun faktor yang berperan, ahli berpendapat masa depannya bergantung pada cara pelanggan merespons hal ini.

Pilihan Tak Memberi Tip

Seringkali, kita memberi tip untuk mengapresiasi layanan baik, atau perbuatan tulus untuk merespon gaji pelayan yang kecil. Selain itu, ada pula pertanyaan mengenai status dan penerimaan.

Profesor emeritus di Universitas Cornell, AS, dan penulis buku ‘The Psychology of Tipping’, Michael Lynn, mengungkap perasaan sebagian orang, “Jika tidak memberi tip, mereka akan membenci saya.”

"Hampir semua ini tidak berlaku untuk robot, jadi tidak ada alasan untuk memberi tip,” dia melanjutkan.

Pun begitu, beberapa orang tetap melakukannya. Dalam sebuah studi, sebesar 11% partisipan mengatakan mereka akan memberi tip pada bartender robot.

"Orang yang memiliki pengalaman dengan bartender robot lebih condong untuk memberi tip dibanding orang yang belum,” kata Berezina, salah satu penulis studi tersebut.

Tak Beri Tip ke Robot

Meskipun sebagian mengatakan tidak akan memberi tip kepada robot, sekitar 42% mengubah pikirannya jika tip tersebut diterima oleh karyawan manusia.

Di balik semua itu, Lynn berpendapat ini adalah praktik yang tidak populer, dan mungkin akan tetap begitu. Perusahaan menghadirkan tip robot untuk meraup untung, tapi jika tip ini menjauhkan pelanggan, ini mungkin akan dihentikan.

"Tidak ada yang mengatur tip, tidak ada yang bisa membuat siapapun membayar. Peraturannya datang dari bawah. Saya rasa perusahaan akan melihat ini dan menghentikan hal tersebut,” ujar dia.

"Siapapun yang mengatakan bisa memprediksi masa depan pasti berbohong," ia menambahkan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |