Harga Emas Dunia Bangkit, Pasar Cermati Kebijakan The Fed

4 hours ago 12

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas menguat lebih dari 1% pada perdagangan Rabu setelah sempat menyentuh level terendah hampir satu bulan. Penguatan terjadi ketika dolar AS dan imbal hasil obligasi Treasury mundur dari level tertingginya.

Investor kini menanti data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang akan dirilis akhir pekan ini. Data tersebut menjadi petunjuk bagi pasar mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Mengutip CNBC, Kamis (3/9/2026), harga emas spot naik 1,1% menjadi US$ 4.373,87 per ons, setelah sebelumnya menyentuh level terendah sejak 7 Agustus 2026.

Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember naik 0,6% menjadi US$ 4.423,90 per ons.

Direktur perdagangan logam High Ridge Futures, David Meger, mengatakan penurunan imbal hasil obligasi membantu harga emas bangkit dari level terendah.

“Salah satu alasan emas mampu kembali bergerak di atas level sebelumnya adalah karena kita melihat sedikit penurunan imbal hasil pada hari ini. Hal itu memungkinkan emas bangkit dari beberapa level terendah baru-baru ini,” kata David Meger.

Ia menambahkan, sektor energi dan imbal hasil obligasi masih menjadi perhatian utama pasar emas.

Data Tenaga Kerja AS Jadi Perhatian Investor

“Sektor energi dan imbal hasil obligasi jelas masih menjadi fokus utama bagi pasar emas ke depannya,” ujar Meger.

Imbal hasil Treasury AS turun setelah sempat menyentuh level tertinggi hampir tiga tahun pada perdagangan tersebut. Dolar AS juga melemah dari level tertinggi hampir tiga minggu.

Presiden Federal Reserve Bank of New York, John Williams, mengatakan kenaikan imbal hasil obligasi jangka panjang bukan disebabkan kekhawatiran terhadap inflasi. Menurutnya, kenaikan tersebut mencerminkan kondisi ekonomi yang solid.

Sementara itu, pertumbuhan tenaga kerja swasta AS pada Agustus berada di bawah ekspektasi. Namun, harga emas relatif tidak banyak bergerak karena investor lebih menantikan laporan nonfarm payrolls yang akan dirilis Jumat.

Kepala analisis pasar StoneX, Rhona O'Connell, menilai data ketenagakerjaan swasta tidak selalu dapat dijadikan acuan.

“Data ketenagakerjaan tidak dapat diandalkan dan mungkin memberikan gambaran awal mengenai nonfarm payrolls, tetapi data nonfarm payrolls jauh lebih penting bagi pasar,” kata O'Connell.

Pasar kini memperkirakan peluang 64% terjadinya kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed bulan ini, berdasarkan CME FedWatch.

Belanda Pindahkan 86 Ton Emas ke London

Di sisi lain, bank sentral Belanda mengungkapkan telah memindahkan 86 metrik ton emas dari New York dan Ottawa ke London dalam enam bulan terakhir.

Pemindahan tersebut dilakukan untuk meningkatkan kemudahan perdagangan emas sekaligus memperkuat kesiapan menghadapi kondisi krisis.

Pergerakan sejumlah logam mulia lainnya juga mencatat penguatan.

Harga perak spot naik 1,6% menjadi US$ 65,2858 per ons. Platinum menguat 1,8% menjadi US$ 1.771,52 per ons.

Sementara itu, harga palladium naik 2,4% menjadi US$ 1.342,50 per ons.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |