Harga Minyak Dunia Diprediksi Masih Bergejolak pada Kuartal II 2026

4 hours ago 12

Liputan6.com, Jakarta - Pergerakan harga minyak pada kuartal II 2026 diprediksi tetap berada dalam tekanan volatilitas tinggi, meski muncul sinyal negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berpotensi meredakan konflik.

Pengamat Komoditas Wahyu Laksono menilai ketegangan geopolitik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat masih menjadi faktor utama pembentuk harga minyak. Risiko gangguan pasokan di Selat Hormuz tetap membayangi pasar, meskipun terdapat perkembangan diplomasi.

"Eskalasi militer yang melibatkan serangan langsung AS-Israel ke Iran memicu ketakutan akan gangguan pasokan di salah satu titik paling kritis di dunia: Selat Hormuz,” ujar Wahyu kepada Liputan6.com, Senin (6/4/2026).

Di tengah eskalasi tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut masih membuka ruang negosiasi dengan Iran dan optimistis konflik dapat segera diakhiri. Sejumlah laporan juga menyebut adanya komunikasi yang terus berlangsung serta dorongan menuju gencatan senjata, meski diiringi ancaman militer jika Selat Hormuz tidak kembali dibuka .

Trump bahkan disebut meyakini tujuan operasi militer hampir tercapai dan perang bisa segera diselesaikan. Ia juga memberi sinyal penghentian serangan tetap dimungkinkan meskipun kondisi Selat Hormuz belum sepenuhnya normal. Di sisi lain, wacana invasi darat Amerika Serikat ke Iran dinilai masih sebatas tekanan tanpa kejelasan arah kebijakan.

Namun, Wahyu mengingatkan potensi lonjakan harga tetap terbuka jika konflik kembali memanas, terutama bila terjadi gangguan terhadap infrastruktur minyak utama.

"Jika terjadi blokade atau serangan pada infrastruktur minyak utama (seperti Terminal Kharg di Iran), harga bisa meroket hingga USD 120 per barel,” katanya.

Dengan kombinasi antara risiko konflik dan peluang negosiasi, harga minyak jenis Brent pada kuartal II hingga semester I 2026 diperkirakan bergerak dalam rentang luas, yakni USD 70 hingga USD 150 per barel. Rentang ini mencerminkan tarik-menarik antara sentimen negatif akibat konflik dan sentimen positif dari upaya deeskalasi yang masih berlangsung.

Harga Minyak Naik Tipis Usai Trump Ancam Serang Infrastruktur Iran

Sebelumnya, harga minyak dunia bergerak naik tipis pada perdagangan Senin, setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menegaskan ancamannya terhadap Iran.

Trump menyatakan akan menghancurkan infrastruktur sipil Iran jika negara tersebut tidak segera membuka kembali Selat Hormuz yang merupakan jalur penting bagi distribusi minyak global.

Mengutip CNBC, Selasa (7/4/2026), harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) kontrak Mei naik 0,78% dan ditutup di level USD 112,41 per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent sebagai acuan global menguat 0,68% menjadi USD 109,77 per barel.

“Kita harus memiliki kesepakatan yang bisa saya terima, dan bagian dari kesepakatan itu adalah—kami ingin lalu lintas bebas untuk minyak dan hal lainnya,” ujar Trump dalam konferensi pers.

Trump juga menegaskan batas waktu bagi Iran untuk membuka Selat Hormuz hingga Selasa pukul 20.00 waktu setempat.

Ancaman Serangan Infrastruktur dan Dampaknya ke Pasokan

Meski menyebut Iran sebagai pihak yang bersedia bernegosiasi, Trump tetap mengeluarkan peringatan keras.

“Saya bisa katakan bahwa kami memiliki pihak yang aktif dan bersedia di sisi lain. Mereka ingin mencapai kesepakatan. Saya tidak bisa mengatakan lebih banyak,” ujar Trump.

Namun demikian, ia juga mengancam akan menghancurkan seluruh jembatan dan pembangkit listrik di Iran dalam waktu empat jam setelah tenggat waktu berakhir.

“Butuh 100 tahun bagi mereka untuk membangun kembali,” katanya.

Di sisi lain, Iran disebut efektif menutup Selat Hormuz melalui serangan terhadap kapal tanker minyak. Jalur laut tersebut sebelumnya menjadi rute bagi sekitar 20% pasokan minyak dunia.

Penutupan ini memicu gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah, dengan harga minyak mentah, bahan bakar jet, solar, dan bensin melonjak sejak konflik dimulai.

Dalam pidato nasional pekan lalu, Trump bahkan menyebut konflik ini berpotensi berlangsung selama dua hingga tiga minggu.

Gangguan Pasokan Global

Lembaga riset memperkirakan dampak konflik terhadap pasokan energi global akan sangat besar.

Menurut TD Securities, hampir 1 miliar barel minyak akan hilang hingga akhir bulan ini, terdiri dari sekitar 600 juta barel minyak mentah dan 350 juta barel produk olahan.

“Dengan konflik yang diperkirakan berlangsung hingga pertengahan April, perhitungan pasokan minyak menjadi semakin suram,” ujar analis komoditas senior TD Securities Ryan McKay.

Sementara itu, Rapidan Energy memperkirakan total kehilangan bersih mencapai 630 juta barel hingga akhir Juni, meskipun ada upaya pengalihan distribusi melalui pipa, pelepasan cadangan darurat, dan pengurangan stok.

Di tengah kondisi ini, kelompok OPEC+ sepakat meningkatkan produksi sebesar 206.000 barel per hari mulai Mei. Namun, distribusi minyak tetap menjadi tantangan selama Selat Hormuz masih tertutup.

Selain itu, Kuwait Petroleum Corporation melaporkan sejumlah fasilitas operasionalnya diserang drone dan mengalami kerusakan signifikan.

OPEC+ juga memperingatkan bahwa perbaikan infrastruktur energi yang rusak akibat serangan membutuhkan biaya besar dan waktu lama, sehingga berpotensi mengganggu ketersediaan pasokan global dalam jangka panjang.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |