Rupiah Masih Tertekan, Kurs Dolar di Bank Besar Bertahan di Rp 17.000

7 hours ago 9

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah masih berada dalam tekanan di tengah sentimen global yang belum mereda. Hal ini tercermin dari pergerakan kurs dolar AS di sejumlah bank besar yang kompak berada di kisaran Rp 17.000 per dolar AS.

Berdasarkan data per Selasa (7/4/2026), kurs e-Rate di Bank Central Asia (BCA) tercatat di level Rp 16.995 per dolar AS untuk pembelian dan Rp 17.065 per dolar AS untuk penjualan.

Sementara itu, kurs e-Rate di Bank Rakyat Indonesia (BRI) berada di Rp 16.948 per dolar AS untuk beli dan Rp 17.100 per dolar AS untuk jual. Adapun Bank Negara Indonesia (BNI) mencatat kurs Rp 16.990 per dolar AS untuk beli dan Rp 17.070 per dolar AS untuk jual.

Di sisi lain, kurs referensi Bank Mandiri per 6 April 2026 menunjukkan posisi Rp 16.985 per dolar AS untuk beli dan Rp 17.015 per dolar AS untuk jual.

Rentang kurs tersebut mengindikasikan bahwa rupiah masih bergerak di level psikologis Rp 17.000 per dolar AS, mencerminkan tekanan yang belum sepenuhnya mereda di pasar keuangan.

Harga Minyak Ikut Mempengaruhi

Sebelumnya, rupiah tercatat melemah pada awal pekan. Pada perdagangan Senin (6/4/2026) pagi, nilai tukar rupiah turun tipis sekitar 16 poin atau 0,09% ke posisi Rp 16.996 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 16.980 per dolar AS.

Pelemahan ini dipicu kombinasi faktor global, terutama meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta lonjakan harga minyak dunia. Kondisi tersebut mendorong penguatan dolar AS dan memberi tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai tekanan terhadap rupiah masih akan berlanjut seiring meningkatnya kekhawatiran pasar.

“Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS di tengah kekhawatiran eskalasi perang di Timteng dan harga minyak mentah yang masih terus naik,” ujarnya dikutip dari Antara.

Harga minyak mentah dunia juga sempat melonjak signifikan. Minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) sempat menyentuh level USD 115 per barel sebelum terkoreksi ke kisaran USD 112 per barel. Kenaikan ini memicu kekhawatiran inflasi global dan memperkuat posisi dolar AS sebagai aset safe haven.

Pernyataan Donald Trump

Kekhawatiran pasar semakin meningkat setelah pernyataan dari Donald Trump terkait potensi serangan di Iran. Ia memperingatkan kemungkinan serangan terhadap infrastruktur vital seperti pembangkit listrik dan jembatan.

Dalam pernyataannya, Trump juga menegaskan bahwa Teheran harus membuka Selat Hormuz atau menghadapi konsekuensi besar.

“Trump mengancam Iran akan menjadi neraka besok Selasa (7/4/2026) apabila Hormuz tidak dibuka,” kata Lukman.

Selat Hormuz merupakan jalur distribusi minyak global yang sangat krusial. Ancaman gangguan di kawasan ini langsung berdampak pada lonjakan harga energi dunia.

Situasi ini mendorong pelaku pasar untuk menghindari aset berisiko dan beralih ke dolar AS, sehingga tekanan terhadap rupiah masih berpotensi berlanjut dalam jangka pendek.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |