IEA, IMF hingga Bank Dunia Ungkap Efek Perang di Timur Tengah

8 hours ago 12

Liputan6.com, Jakarta - Kepala Badan Energi Internasional atau the International Energy Agency (IEA), International Monetary Fund (IMF) dan Bank Dunia menilai dampak perang di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel dan Iran sangat besar. Perang itu menyebabkan kenaikan harga minyak, gas hingga pupuk.

Mengutip laman imf.org, ditulis Selasa (14/4/2026), IEA, IMF, dan Bank Dunia bertemu pada Senin, 13 April 2026 sebagai bagian dari kelompok koordinasi yang dibentuk pada awal April untuk memaksimalkan respons lembaga terhadap dampak energi dan ekonomi dari perang di Timur Tengah. Pada akhir pertemuan,  IEA, IMF dan Bank Dunia mencatat awal bulan ini, dampak perang di Timur Tengah sangat besar, global dan sangat asimetris, secara tidak proporsional mempengaruhi importir eneri terutama negara-negara berpenghasilan rendah.

"Guncangan itu telah menyebabkan kenaikan harga minyak, gas, dan pupuk, memicu kekhawatiran tentang ketahanan pangan dan kehilangan pekerjaan. Beberapa produsen minyak dan gas di Timur Tengah juga mengalami penurunan pendapatan ekspor yang dramatis,” demikian seperti dikutip.

Tiga lembaga itu menyebutkan, situasinya tetap sangat tidak pasti dan pengiriman melalui Selat Hormuz belum normal. Bahkan setelah dimulainya kembali arus pengiriman regular melalui selat akan membutuhkan waku bagi pasokan global komoditas utama untuk kembali ke tingkat sebelum konflik, dan harga bahan bakar dan pupuk mungkin tetap tinggi untuk jangka waktu lama mengingat kerusakan infrastruktur.

Dampak Perang AS-Iran

Akibat gangguan pasokan, kekurangan input utama kemungkinan akan berdampak pada energi, pangan dan industri lainnya. Perang juga telah memaksa pengungsi, berdampak pada lapangan kerja, dan mengurangi perjalanan dan pariwisata yang mungkin membutuhkan waktu untuk pulih.

"Hari ini, kami membagikan penilaian terbaru kami, menjelang rilis Laporan Pasar Minyak bulanan IEA dan Prospek Ekonomi Dunia IMF pada Selasa, 14 April. Kami juga membahas situasi negara-negara yang paling terdampak oleh guncangan tersebut serta tanggapan dari lembaga-lembaga kami. Tim kami bekerja sama erat, termasuk di tingkat negara, untuk memanfaatkan keahlian masing-masing dan membantu negara-negara melalui saran kebijakan yang disesuaikan dan, dalam kasus IMF dan Bank Dunia, dukungan keuangan jika diperlukan.”

"Kami akan terus memantau dan menilai dampak perang terhadap pasar energi, ekonomi global, dan masing-masing negara, serta mengoordinasikan tanggapan dan dukungan kami kepada negara-negara anggota kami, bekerja sama dengan, dan memanfaatkan, keahlian organisasi internasional lainnya sesuai kebutuhan untuk meletakkan dasar bagi pemulihan yang tangguh yang memberikan stabilitas, pertumbuhan, dan lapangan kerja.”

Harga Minyak Nyaris Sentuh USD 100 Lagi Gara-gara Donald Trump

Sebelumnya, harga minyak mentah dunia melonjak tajam pada awal pekan setelah Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran. Langkah ini diambil menyusul kegagalan perundingan damai antara kedua negara pada akhir pekan.

Mengutip CNBC, Selasa (14/4/2026), Minyak mentah berjangka AS untuk pengiriman Mei naik lebih dari 2% dan ditutup di level USD 99,08 per barel. Sementara itu, minyak Brent sebagai acuan global untuk pengiriman Juni melonjak lebih dari 4% menjadi USD 99,36 per barel.

Blokade resmi diberlakukan pada Senin pukul 10.00 waktu AS Timur. Komando Pusat AS atau U.S. Central Command menyatakan bahwa langkah ini tidak akan menghambat kapal yang menuju atau berasal dari pelabuhan non-Iran.

“Blokade akan diberlakukan secara imparsial terhadap kapal dari semua negara yang masuk atau keluar dari pelabuhan Iran, termasuk seluruh pelabuhan Iran di Teluk Arab dan Teluk Oman,” demikian pernyataan resmi mereka.

Ketegangan Memanas, Selat Hormuz Jadi Kunci

Presiden Donald Trump memerintahkan blokade setelah negosiasi antara AS dan Iran di Pakistan gagal menghasilkan kesepakatan untuk mengakhiri perang. Bahkan, Trump mengancam akan menghancurkan kapal militer Iran yang mendekati area blokade.

Ia juga memerintahkan Angkatan Laut untuk menghentikan kapal yang diduga membayar biaya kepada Iran untuk melintasi Selat Hormuz. Jalur laut sempit ini merupakan salah satu jalur vital distribusi minyak dunia dari Timur Tengah ke pasar global.

Sebagai respons, militer Iran mengancam pelabuhan di seluruh kawasan Teluk Persia. Ancaman tersebut langsung berdampak pada lalu lintas kapal tanker yang anjlok drastis.

Sebelum konflik meningkat, sekitar 20% pasokan minyak global melewati Selat Hormuz. Namun kini, gangguan tersebut disebut sebagai salah satu disrupsi pasokan minyak terbesar dalam sejarah.

Meski sempat ada kesepakatan gencatan senjata selama dua minggu, situasi tetap belum pasti. Trump bahkan mempertimbangkan serangan terbatas untuk memecah kebuntuan negosiasi.

AS Dinilai Gagal

Pemerintah Iran menegaskan bahwa keamanan pelayaran selama masa gencatan senjata tetap bergantung pada persetujuan mereka. Penasihat senior pemimpin tertinggi Iran, Ali Akbar Velayati, menegaskan bahwa kendali Selat Hormuz masih berada di tangan Iran.

“‘Kunci Selat Hormuz’ tetap berada di tangan Republik Islam,” ujarnya.

Data menunjukkan hanya tiga kapal tanker raksasa yang melintas pada Sabtu, jauh di bawah kondisi normal sebelum perang yang bisa mencapai lebih dari 100 kapal per hari.

Wakil Presiden AS, JD Vance, menyebut kegagalan negosiasi terjadi karena Iran tidak memberikan komitmen tegas untuk tidak mengembangkan senjata nuklir.

Sementara itu, Ketua Parlemen Iran, Mohammad-Bagher Ghalibaf, menilai AS gagal membangun kepercayaan dalam perundingan.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |