8 Startup Indonesia Masuk Forbes Asia 100 to Watch 2026

9 hours ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Sebanyak delapan perusahaan asal Indonesia masuk daftar Forbes Asia100 to Watch 2026”, yang menyoroti perusahaan kecil dan startup dengan potensi pertumbuhan di kawasan Asia-Pasifik. Delapan perusahaan tersebut bergerak di sektor teknologi enterprise, keuangan, e-commerce, kesehatan, teknologi konsumen, serta energi dan teknologi hijau.

Forbes Asia menempatkan inovasi berbasis kecerdasan buatan (AI) sebagai tema utama daftar 2026. Hampir seperempat perusahaan yang masuk daftar bergerak di bidang teknologi enterprise berbasis AI, sedangkan sektor robotika dan teknologi hijau juga mencatat perkembangan kuat.

Indonesia menempati posisi bersama Australia sebagai negara dengan jumlah perusahaan terbanyak kelima dalam daftar tersebut dengan masing-masing delapan perusahaan. Posisi Indonesia berada di bawah India dengan 19 perusahaan, Singapura 15 perusahaan, China 10 perusahaan, serta Jepang dan Korea Selatan masing-masing sembilan perusahaan.

Delapan perusahaan asal Indonesia menunjukkan spektrum startup nasional yang semakin beragam. Cekat.AI bergerak di teknologi enterprise, Durianpay di keuangan, Grouu dan Loluna di e-commerce dan ritel, Satu Dental dan Sirka di kesehatan, Soul Parking di teknologi konsumen, serta Waste4Change di energi dan teknologi hijau.

Secara regional, perusahaan yang masuk “100 to Watch 2026” telah mengumpulkan total pendanaan US$2,4 miliar. Hampir US$1 miliar dari pendanaan tersebut dihimpun sepanjang 2026.

Forbes Asia menyusun daftar tersebut melalui nominasi dari akselerator, inkubator, universitas, modal ventura, dan pihak lain dengan mempertimbangkan antara lain dampak industri, kecocokan pasar, model bisnis, inovasi, pertumbuhan pendapatan, dan kemampuan menarik pendanaan.

1. Cekat.AI, membawa AI ke kebutuhan bisnis

Cekat.AI menjadi salah satu wakil Indonesia dalam kategori teknologi enterprise. Perusahaan yang didirikan pada 2023 dan dipimpin Matthew Sebastian tersebut mencerminkan masuknya startup Indonesia ke dalam tren teknologi perusahaan berbasis AI yang menjadi tema dominan Forbes Asia 2026.

Kehadiran Cekat.AI menjadi penting karena teknologi enterprise menjadi salah satu kategori terbesar dalam daftar Forbes Asia. Tren tersebut menunjukkan bahwa pengembangan AI tidak hanya menyasar konsumen, tetapi juga kebutuhan operasional dan produktivitas perusahaan.

2. Durianpay, memperkuat sektor teknologi keuangan

Durianpay masuk dalam kategori keuangan dan menjadi salah satu dari delapan perusahaan Indonesia yang mendapat sorotan Forbes Asia. Startup yang berdiri pada 2020 itu dipimpin Natasha Ardiani.

Masuknya Durianpay memperlihatkan bahwa sektor teknologi keuangan masih menjadi bagian penting dari ekosistem startup Indonesia. Posisi tersebut juga menunjukkan bahwa inovasi digital di Indonesia berkembang tidak hanya melalui layanan konsumen, tetapi juga melalui solusi untuk kebutuhan transaksi dan bisnis.

3. Grouu, membawa inovasi ke e-commerce dan ritel

Grouu masuk dalam kategori e-commerce dan ritel. Perusahaan yang berdiri pada 2020 tersebut dipimpin Jessica Marthin.

Grouu memperlihatkan bahwa sektor perdagangan digital masih memiliki ruang pertumbuhan di tengah perubahan perilaku konsumen. Masuknya perusahaan ini ke daftar Forbes Asia juga memperluas gambaran tentang sektor startup Indonesia yang berkembang di luar teknologi finansial dan AI.

4. Loluna, mewakili generasi baru perdagangan digital

Loluna menjadi perusahaan Indonesia lainnya dalam kategori e-commerce dan ritel. Startup yang didirikan pada 2022 tersebut dipimpin Bianca Belnadia Lie.

Kehadiran Loluna menunjukkan perusahaan rintisan yang relatif muda masih memiliki peluang untuk memperoleh perhatian regional. Forbes Asia memasukkan perusahaan tersebut ketika sektor e-commerce dan ritel menghadapi perubahan pola konsumsi serta meningkatnya pemanfaatan teknologi digital.

5. Satu Dental, mengembangkan layanan kesehatan gigi

Satu Dental masuk kategori bioteknologi dan kesehatan dengan model layanan kesehatan gigi yang menyasar kebutuhan masyarakat. Perusahaan yang berdiri pada 2021 itu dipimpin Satria Situmorang.

Menurut Forbes Asia, Satu Dental telah memiliki 56 klinik di wilayah Jabodetabek dan dua kota lain di Jawa hingga Juni 2026. Perusahaan tersebut juga bekerja sama dengan jaringan 500 dokter gigi dan dokter umum serta telah menghimpun pendanaan lebih dari US$20 juta melalui sejumlah putaran pendanaan. 

Satu Dental menargetkan jumlah klinik lebih dari 60 lokasi hingga akhir 2026. Perusahaan juga berencana memperluas layanan ke sejumlah kota lain di Indonesia.

6. Sirka, mengembangkan ekosistem kesehatan preventif

Sirka juga masuk kategori bioteknologi dan kesehatan dalam daftar Forbes Asia. Startup yang didirikan pada 2021 tersebut dipimpin Rifanditto Adhikara.

Sirka awalnya mengembangkan aplikasi wellness yang memberikan pendampingan pola makan dan konsultasi profesional. Perusahaan kemudian memperluas layanan melalui kerja sama dengan klinik kesehatan sebelum membuka klinik sendiri pada 2024.

Klinik Sirka berfokus pada manajemen berat badan, kesehatan pencernaan, diabetes, dan pengelolaan penyakit kronis. Hingga 2026, perusahaan memiliki dua klinik di wilayah Jabodetabek dan berencana membuka tiga klinik tambahan dalam satu tahun.

Sirka sebelumnya menghimpun US$2,6 juta dalam pendanaan tahap seed pada 2022 dari ACV Capital dan Wavemaker Partners.

7. Soul Parking, membawa teknologi ke pengelolaan parkir

Soul Parking masuk kategori teknologi konsumen dalam daftar Forbes Asia. Perusahaan yang berdiri pada 2020 tersebut dipimpin Kenneth Darmansjah.

Kehadiran Soul Parking memperlihatkan transformasi digital Indonesia juga menyentuh kebutuhan sehari-hari, termasuk layanan parkir. Posisi tersebut membuat sektor teknologi konsumen menjadi salah satu ruang inovasi yang ikut mendapatkan perhatian dalam ekosistem startup Indonesia.

8. Waste4Change, mengubah persoalan sampah menjadi bisnis berkelanjutan

Waste4Change menjadi satu-satunya perusahaan Indonesia dalam daftar tersebut yang masuk kategori energi dan teknologi hijau. Perusahaan yang didirikan pada 2014 itu dipimpin Mohamad Bijaksana Junerosano.

Waste4Change mengembangkan layanan pengelolaan sampah untuk mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir. Perusahaan mengklaim telah mengelola lebih dari 90.000 ton sampah sejak berdiri, termasuk 38.000 ton pada 2025 melalui program daur ulang material dan pengomposan sampah organik.

Perusahaan tersebut juga memiliki sekitar 400 pelanggan korporasi dan 21.000 pelanggan rumah tangga. Waste4Change sebelumnya memperoleh pendanaan US$5 juta dalam putaran Series A pada 2022 dari ACV Capital dan Barito Mitra Investama.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |