Cuaca Panas Eropa Jadi Tamparan Keras Sektor Ekonomi

9 hours ago 14

Menurut laporan Global Head of Macro ING, Carsten Brzeski pada Juni, peningkatan intensitas dan frekuensi cuaca ekstrim membuat Eropa harus menghadapi biaya pendinginan, layanan kesehatan, infrastruktur darurat, transportasi, dan pertanian.

“Fakta yang susah diterimanya adalah gelombang panas ini lambat laun berubah dari ‘peristiwa cuaca’ menjadi ‘variabel makro,” ujarnya.

Gelombang panas, kekeringan, dan banjir di musim panas 2025 menyebabkan ekonomi Eropa kehilangan keluaran sebesar 0,3%, dan dampaknya bisa membengkak ke 0,8% pada 2029, lantaran terdapat pengurangan produktivitas, gangguan rantai pasokan, dan penghasilan pariwisata yang lesu, menurut sebuah makalah bersama tahun 2025 dari Universitas Mannheim dan Bank Sentral Eropa.

Selain itu, komoditas pangan seperti kakao, kopi, dan gandum diprediksi menjadi aset yang paling terdampak oleh gelombang panas, karena cuaca yang lebih panas dan tidak stabil mengancam hasil panen dan menaikkan harga pangan.

Sedangkan, peristiwa cuaca ekstrim seperti kebakaran hutan di Eropa kemungkinan besar akan memengaruhi anggaran fiskal negara karena harus membayar biaya evakuasi, pemadam kebakaran, dan perbaikan infrastruktur, tutur Zachmann.

“Sebagai contoh, kebakaran di California pada 2025 menghabiskan biaya langsung sebanyak US$ 40-60 miliar (Rp 721,6 triliun hingga Rp 1 kuadriliun), dan biaya tidak langsungnya diestimasikan sekitar US$ 300 miliar (Rp 5,4 kuadriliun). Jadi ini adalah isu besar,” tambahnya

Zachmann menyatakan bencana yang terjadi dengan pola acak bisa memicu inflasi. “Biaya hidup akan naik. Premi risiko meningkat bagi mereka yang ingin membangun di sana di masa depan,” ujar dia.

Perusahaan asuransi juga membayar kerugian US$ 56,3 miliar, atau sekitar Rp 1,01 kuadriliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 18.006) pada tahun 2010, yakni enam kali lipat dari US$ 8,7 miliar, atau Rp 156,6 triliun yang dikeluarkan pada tahun 2000, berdasarkan laporan Allianz Commercial pada bulan Juni.

Sektor yang paling terpukul adalah utilitas dan energi, properti, pembangunan, pertanian, dan transportasi.

Brzeski mengatakan, konsekuensi campur aduk dari kebakaran hutan Prancis dan Spanyol adalah kegiatan ekonomi positif yang akan muncul ketika dimulainya pembangunan ulang, seperti yang terjadi setelah bencana alam lainnya.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |