Nilai Tukar Yen Terpuruk, AS Dikabarkan Turun Tangan Borong Mata Uang Jepang

8 hours ago 13

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah Amerika Serikat (AS) dilaporkan melakukan intervensi di pasar valuta asing dengan membeli mata uang yen guna menopang nilai tukar Jepang yang terus melemah. Jika dikonfirmasi, langkah tersebut menjadi intervensi langsung pertama Washington untuk mendukung yen sejak 2011 atau lebih dari satu dekade lalu.

Mengutip CNBC, Minggu (2/8/2026), Departemen Keuangan AS membeli yen melalui Federal Reserve Bank of New York. Transaksi tersebut disebut dilakukan melalui Goldman Sachs dan Morgan Stanley, meski nilai pembeliannya belum diungkapkan.

Sebelumnya, dilaporkan bahwa Departemen Keuangan AS telah memberi tahu sejumlah bank bahwa pemerintah kemungkinan akan melakukan intervensi di pasar yen. Bank-bank tersebut juga diminta bersiap apabila diperlukan langkah lanjutan.

Indikasi rencana tersebut semakin menguat setelah foto catatan Menteri Keuangan AS Scott Bessent saat rapat kabinet di Camp David memperlihatkan tulisan "Buy Japanese Yen (JPY) US$ 5-10 bil", yang mengindikasikan rencana pembelian yen senilai sekitar US$ 5 miliar hingga US$ 10 miliar.

Hingga berita ini ditulis, Departemen Keuangan AS belum memberikan komentar terkait laporan tersebut. Federal Reserve Bank of New York dan Morgan Stanley juga belum memberikan tanggapan, sementara Goldman Sachs menolak berkomentar.

Kabar Intervensi Dorong Penguatan Yen

Kabar mengenai potensi intervensi tersebut langsung memengaruhi pergerakan pasar. Nilai tukar dolar AS terhadap yen melemah tajam pada perdagangan Jumat sore waktu setempat.

Berdasarkan data LSEG, kurs dolar turun menjadi sekitar 157,6 yen menjelang penutupan perdagangan dari posisi sekitar 158,9 yen hanya dalam waktu kurang dari satu jam. Padahal dalam beberapa pekan terakhir, dolar sempat menguat hingga mendekati 164 yen, level tertinggi sejak 1986.

Sementara itu, kantor berita Kyodo melaporkan pemerintah Jepang dan Amerika Serikat berpotensi mengumumkan kebijakan bersama secepatnya pada pekan ini guna mengatasi pelemahan yen. Kebijakan tersebut ditujukan untuk meredam aksi spekulatif yang dinilai memberi tekanan terhadap mata uang Jepang sekaligus menjaga stabilitas pasar keuangan.

Langkah itu mengingatkan pada intervensi bersama negara-negara G7 pada 2011, ketika Amerika Serikat membantu menopang yen setelah Jepang dilanda gempa bumi dan tsunami besar.

Jepang Terus Berupaya Menahan Pelemahan Yen

Selain dukungan dari Amerika Serikat, Jepang juga terus melakukan berbagai upaya untuk menahan pelemahan mata uangnya. Data bank sentral Jepang menunjukkan Tokyo kemungkinan telah menjual sekitar US$ 58,97 miliar untuk membeli yen pada Kamis lalu.

Surat kabar Nikkei juga melaporkan pemerintah Jepang kembali melakukan intervensi saat perdagangan di New York pada Jumat. Meski demikian, Kementerian Keuangan Jepang belum memberikan komentar resmi terkait laporan tersebut.

Di sisi lain, pemerintah Jepang berupaya menenangkan pasar dengan menegaskan bahwa otoritas moneter memiliki berbagai instrumen untuk menjaga likuiditas dan stabilitas pasar.

"Kami tetap siap menggunakan berbagai instrumen yang tersedia bila diperlukan untuk mendukung fungsi pasar yang tertib."

Salah satu instrumen yang dapat dimanfaatkan adalah Foreign and International Monetary Authorities Repo Facility (FIMA Repo Facility) milik Federal Reserve. Fasilitas yang diperkenalkan pada 2020 tersebut memungkinkan Jepang memperoleh likuiditas dolar AS tanpa harus menjual surat utang pemerintah Amerika Serikat secara langsung.

Analis menilai kombinasi intervensi pasar dan koordinasi kebijakan antara Tokyo dan Washington berpotensi menjadi faktor penting dalam menentukan arah pergerakan yen dalam beberapa waktu ke depan. Namun, efektivitas langkah tersebut masih akan sangat bergantung pada kondisi ekonomi global, kebijakan suku bunga Federal Reserve, serta sentimen pelaku pasar terhadap aset berisiko.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |