ADB Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Sentuh 5,2% pada 2026

8 hours ago 19

Liputan6.com, Jakarta - Asian Development Bank (ADB) memprediksi Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tumbuh 5,2% pada 2026 dan 2027. Pertumbuhan PDB itu seiring peningkatan investasi dan konsumsi yang stabil.

ADB menilai, meski kondisi global sulit PDB Indonesia tumbuh 5,1% pada 2025 karena permintaan domestik yang tangguh dan inflasi terkendali.

ADB prediksi inflasi tetap terkendali dalam kisaran target 2,5% pada 2026 dan 2027.

"Risiko terhadap prospek meningkat dengan konflik berkepanjangan di Timur Tengah. Mempertahankan pertumbuhan inklusif jangka panjang membutuhkan penciptaan lapangan kerja formal yang lebih kuat,” demikian seperti dikutip dari laporan Asian Development Outlook (ADO) April 2026, ditulis Jumat (10/4/2026).

ADB menyebutkan perekonomian memperoleh momentum pada awal 2026. ADB melihat, kombinasi faktor siklus dan kebijakan mendorong pertumbuhan yang diharapkan.

“Peningkatan produktivitas pertanian berkontribusi pada ketahanan pendapatan pedesaan dan pasokan pangan, memberikan dukungan awal bagi pertumbuhan pada awal tahun,” demikian seperti dikutip dari laporan ADB.

Hal ini diperkuat oleh permintaan musiman yang terkait dengan perayaan Ramadan dan Lebaran pada Maret 2026 yang meningkatkan konsumsi rumah tangga di sektor makanan, ritel, transportasi dan perhotelan.

Indikator frekuensi tinggi ditunjukkan dari konsumsi yang menguat. The Purchasing Manager’s Index (PMI) telah berada di wilayah ekspansi sejak paruh kedua 2025 dan semakin mengaut pada awal 2026 dengan laju tercepat sejak Maret 2025.

Namun, data Maret 2026 menunjukkan penurunan yang signifikan, meskipun tetap berada di dekat ambang batas ekspansi, menunjukkan kemungkinan dampak awal dari meningkatnya ketidakpastian eksternal terutama terkait denhgan perkembangan di Timur Tengah.

ADB melihat momentum pertumbuhan awal mungkin akan berlanjut. Konsumsi swasta akan tetap tumbuh, didukung oleh pertumbuhan pendapatan yang stabil dan dukungan kebijakan yang berkelanjutan.

Investasi Bakal Naik Bertahap

Selain itu, ADB juga melihat investasi akan meningkat secara bertahap seiring perkembangan hilir dan partisipasi swasta yang semakin meningkat.

“Kemajuan dalam pengolahan mineral, manufaktur dan rantai pasokan terkait diperkirakan terus menarik investasi domestik dana sing, mendukung penciptaan lapangan kerja formal,” demikian seperti dikutip.

Selain itu,reformasi struktural untuk memperkuat iklim bisnis bersama dengan kondisi pembiayaan yang mendukung kemungkinan akan mendorong pembentukan modal. Infrastruktur publik dan proyek-proyek strategis akan tetap menjadi pelengkap penting bagi investasi swasta.

Prediksi Inflasi

ADB prediksi rata-rata inflasi akan naik menjadi 2,5% pada 2026 dan 2027, sesuai dalam target. Lingkungan harga yang stabil memberi Bank Indonesia (BI) fleksibilitas untuk menyeimbangkan pertumbuhan dan stabilitas, sementara pengeluaran prioritas yang berkelanjutan di bawah anggaran 2026 mempertahankan daya beli rumah tangga dan momentum investasi.

"Sikap kebijakan moneter yang terkalibrasi dengan baik bersama dengan langkah-langkah makroprudensial yang akomodatif seharusnya membantu perluasan kredit bersama dengan investasi swasta,” demikian seperti dikutip.

Selain itu, ADB juga melihat sektor eksternal seharusnya tetap seimbang secara luas dengan defisit transaksi berjalan yang terkendali selama periode tersebut.

Pertumbuhan ekspor mungkin akan melambat mengingat ekspansi yang lebih lambat di antara mitra dagang utama termasuk Amerika Serikat, China dan zona euro  dan harga komoditas yang lebih rendah.

“Diversifikasi pasar ekspor sebagian akan membantu,” demikian seperti dikutip.

Selain itu, pertumbuhan impor kemungkinan menguat seiring investasi dan konsumsi domestik yang lebih kuat, terutama untuk barang modal dan barang setengah jadi. “Arus masuk investasi langsung yang solid secara berkelanjutan diharapkan dapat membantu membiayai kesenjangan eksternal dan mendukung stabilitas nilai tukar,” demikian seperti dikutip.

Konflik di Timur Tengah

ADB juga melihat risiko terhadap prospek meningkat seiring konflik berkepanjangan di Timur Tengah. Ketidakpastian eksternal yang tinggi dan implementasi reformasi yang lebih lambat dari perkiraan dapat membebani kinerja ekonomi.

Perkembangan di Timur Tengah  memerlukan pemantauan ketat, karena memastikan keamanan energi dan pangan tetap penting di samping implementasi kerangka kebijakan makroekonomi yang sehat.

"Eskalasi yang berkepanjangan dapat memperketat kondisi pembiayaan global, menganggu rantai pasokan global dan menaikkan harga energi dan input lainnya yang berpotensi memperlambat pertumbuhan dan menaikkan harga konsumen sehingga mempersulit kalibrasi kebijakan makroekonomi,” demikian seperti dikutip.

Selain itu, penundaan dalam pelaksanaan reformasi struktural dan mobilisasi pendapatan yang lebih lemah dari perkiraan dapat meredam sentimen investor. Di sisi positif, meredanya ketegangan geopolitik, percepatan momentum eformasi, kinerja pendapatan fiskal yang kuat, kemajuan berkelanjutan dalam meningkatkan keamanan energi dan pangan, serta peningkatan lebih lanjut dalam iklim investasi dapat mendorong pertumbuhan di atas proyeksi saat ini.

“Sebagai respons awal terhadap konflik di Timur Tengah,pemerintah telah menerapkan serangkaian langkah terkoordinasi untuk mengelola permintaan energi, menjaga ruang fiskal melalui peningkatan efisiensi dan penyesuaian yang terukur terhadap pengeluaran prioritas, dan mempercepat reformasi untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil impor,” demikian seperti dikutip.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |