Dari Hobi Koleksi Kain, Pekatan Batik Tumbuh jadi Usaha Pelestari Wastra Nusantara

11 hours ago 17

Liputan6.com, Depok - Bagi sebagian orang, kain mungkin hanya dipandang sebagai bahan pakaian. Namun bagi Ifti, kain justru menyimpan cerita panjang tentang budaya, tradisi, dan identitas bangsa. Dari kecintaan itulah lahir Pekatan Batik, sebuah usaha yang berfokus pada pelestarian wastra Nusantara melalui pendekatan yang lebih modern.

Ifti yang berasal dari Pekalongan memulai perjalanan usahanya dari kegemaran sederhana, yaitu mengoleksi kain tradisional dari berbagai daerah. Minat tersebut semakin kuat setelah ia bertemu dengan suaminya yang memiliki ketertarikan serupa terhadap wastra Nusantara.

Dari kebiasaan membawa pulang kain sebagai oleh-oleh perjalanan, muncul gagasan untuk menghadirkan usaha yang tidak hanya menjual produk, tetapi juga menghidupkan kembali kecintaan terhadap kain tradisional Indonesia.

Pekatan Batik kemudian resmi berdiri di Depok, Jawa Barat pada akhir November 2019. Namun perjalanan usaha tersebut tidak berjalan mulus sejak awal. Tidak lama setelah didirikan, pandemi COVID-19 melanda dan membuat aktivitas usaha sempat terhenti.

Situasi tersebut memaksa Ifti untuk beradaptasi. Pekatan Batik akhirnya kembali berjalan dengan memanfaatkan penjualan secara daring. Dari titik itulah usaha ini mulai menemukan jalannya kembali dan perlahan berkembang.

Dalam perjalanannya, Pekatan Batik menghadirkan berbagai produk berbasis batik tulis, tenun Badui, serta lurik dari Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Produk-produk tersebut dirancang dalam bentuk koleksi pesisiran maupun busana siap pakai atau ready-to-wear.

Bagi Ifti, batik dan tenun bukan sekadar produk tekstil. Keduanya merupakan bagian dari warisan budaya yang perlu terus dijaga agar tetap dikenal dan digunakan oleh generasi berikutnya.

Karena itu, Pekatan Batik mencoba menghadirkan desain yang lebih segar dan modern tanpa meninggalkan nilai tradisi. Melalui pendekatan tersebut, Ifti ingin mengubah pandangan bahwa batik hanya identik dengan acara resmi atau generasi tertentu.

Selain fokus pada desain, Pekatan Batik juga berusaha menerapkan konsep produksi yang lebih berkelanjutan. Dalam proses pembuatan koleksi, sisa potongan kain tidak dibuang begitu saja, tetapi diolah kembali menjadi produk baru. Cara ini membuat setiap koleksi hadir dalam jumlah terbatas sekaligus membantu mengurangi limbah produksi.

Perlahan namun pasti, produk Pekatan Batik mulai dikenal lebih luas. Koleksi mereka tidak hanya dipasarkan di dalam negeri, tetapi juga pernah dibawa ke luar negeri, termasuk ke Korea dan beberapa negara di Eropa. Bahkan, produk Pekatan juga kerap dipilih sebagai suvenir dalam berbagai kegiatan internasional yang diselenggarakan oleh instansi maupun perusahaan.

Perjalanan usaha ini semakin berkembang ketika Ifti bergabung dengan Rumah BUMN BRI Jakarta pada 2024. Melalui program tersebut, ia memperoleh berbagai pelatihan yang membantu meningkatkan kemampuan dalam mengembangkan usaha.

“Saya mengikuti pelatihan fashion, desain, bisnis, dan keuangan. Meski tidak berlatar belakang desainer, saya banyak belajar tentang desain dan pengelolaan bisnis, serta mendapat kesempatan pameran dan business matching,” ungkapnya.

“Menurut saya, proses yang paling berdampak adalah expo dan pelatihan desain. Dari expo saya bisa melihat produk dan model yang paling diminati pasar. Dari pelatihan desain, saya belajar banyak karena tidak punya latar belakang sebagai seorang desainer,” ujar Ifti.

Program Rumah BUMN sendiri menjadi salah satu inisiatif BRI dalam mendukung pengembangan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Program ini dirancang sebagai ruang kolaboratif yang membantu pelaku usaha meningkatkan kemampuan bisnis serta memperluas jaringan.

Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya menjelaskan bahwa Rumah BUMN BRI hadir sebagai wadah yang memungkinkan pelaku usaha memperoleh berbagai pelatihan serta kesempatan untuk mengembangkan usahanya.

Ia juga menegaskan bahwa pembinaan terhadap UMKM menjadi bagian dari komitmen berkelanjutan BRI dalam mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Hingga saat ini, BRI tercatat telah membina 54 Rumah BUMN dan menyelenggarakan lebih dari 18.218 pelatihan bagi pelaku UMKM di berbagai wilayah Indonesia.

Melalui dukungan tersebut, diharapkan semakin banyak pelaku usaha lokal yang mampu berkembang sekaligus berkontribusi dalam menjaga kekayaan budaya Indonesia, termasuk melalui karya-karya wastra Nusantara seperti yang dilakukan oleh Pekatan Batik.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |