Harga Emas Melemah 6 Hari Beruntun, Kebijakan Fed dan Perang Iran Jadi Pemicu

19 hours ago 13

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia melemah tajam setelah bank sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan.

Mengutip CNBC, Kamis (19/3/2026), Harga emas spot tercatat turun 2,2% menjadi USD 4.895,61 per ounce. Sementara itu, kontrak berjangka emas juga merosot 2,4% ke level USD 4.889,80 per ounce.

Keputusan The Fed ini sebenarnya sudah sesuai dengan ekspektasi pasar. Bank sentral tetap mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5% hingga 3,75%.

Meski demikian, The Fed masih memproyeksikan adanya satu kali penurunan suku bunga pada 2026.

Dalam pernyataan resminya, The Fed hanya melakukan sedikit perubahan terhadap pandangan ekonomi. Mereka mencatat pertumbuhan ekonomi sedikit lebih cepat dan proyeksi inflasi yang lebih tinggi untuk 2026.

The Fed memperkirakan ekonomi AS akan tumbuh 2,4% tahun ini, lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya.

Meski ketidakpastian meningkat, pejabat The Fed tetap memberi sinyal adanya peluang pemangkasan suku bunga ke depan.

Harga Emas Melemah 6 Hari, Inflasi dan Energi Jadi Tekanan

Sedangkan dikutip dari The Street, pada perdagangan Kamis pagi di sesi Asia, harga emas (XAU/USD) kembali mengalami tekanan dan berada di kisaran USD 4.830 per ounce. Penurunan ini menandai pelemahan selama enam hari berturut-turut, menjadi tren terburuk sejak akhir 2024.

Tekanan terhadap emas dipicu pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell yang menilai kenaikan harga energi akan mendorong inflasi lebih tinggi.

The Fed kembali menahan suku bunga dalam pertemuan Maret—menjadi kali kedua berturut-turut tanpa perubahan—di tengah ketidakpastian ekonomi akibat perang Iran dan inflasi yang masih tinggi.

Meski bank sentral masih memberi sinyal pemangkasan suku bunga, pelaku pasar mulai mengurangi ekspektasi penurunan suku bunga pada 2026.

Kepala strategi logam MKS PAMP SA, Nicky Shiels, menilai sikap Powell masih cenderung berhati-hati.

“Powell sedikit menarik kembali pernyataannya, yang tidak seagresif yang dikhawatirkan, namun tetap fokus pada mandat ganda dengan menjaga suku bunga tetap ketat lebih lama,” ujarnya.

Konflik Timur Tengah Bisa Dorong Permintaan Safe Haven

Di sisi lain, meningkatnya ketegangan di Timur Tengah berpotensi mendorong permintaan aset safe haven seperti emas.

Iran dan Israel dilaporkan saling melancarkan serangan terhadap fasilitas energi penting di kawasan tersebut.

Serangan ini terjadi setelah peringatan dari Kepala Angkatan Darat Iran, Amir Hatami, yang berjanji akan melakukan balasan tegas.

Ia menyebut akan melancarkan “pembalasan yang tegas dan disesalkan” atas tewasnya pejabat keamanan Ali Larijani dalam serangan udara Israel.

Kondisi ini berpotensi menciptakan sentimen beragam di pasar emas. Di satu sisi, tekanan inflasi dan kebijakan suku bunga menekan harga. Namun di sisi lain, meningkatnya risiko geopolitik dapat menjadi pendorong bagi harga emas sebagai aset lindung nilai.

Pasar pun kini mencermati arah kebijakan The Fed serta perkembangan konflik global yang dapat menentukan pergerakan harga emas ke depan.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |