Harga Emas Pegadaian Kompak Naik Hari Ini 26 Maret 2026: Cek Rincian Galeri24 dan UBS!

7 hours ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas yang dijual oleh PT Pegadaian (Persero) kompak naik pada perdagangan Kamis ini. Kenaikan harga emas Pegadaian terjadi untuk jenis UBS dan Galeri24. 

Mengutip laman Sahabat Pegadaian, Kamis (26/3/2026) pukul 08.00 WIB, harga emas UBS dipatok Rp 2.862.000 per gram. Naik Rp 10.000 dari perdagangan kemarin yang dilego Rp 2.852.000 per gram. 

Hal yang sama juga terjadi dengan harga emas Galeri24 yang hari ini dipatok di angka Rp 2.849.000 per gram. Angka ini naik Rp 11.000 dari kemarin yang sebesar Rp 2.838.000 per gram.

Untuk Galeri24 dijual dengan kuantitas 0,5 gram hingga 1.000 gram atau 1 kilogram. Sementara, emas UBS dijual dengan kuantitas 0,5 gram hingga 500 gram.

Harga jual emas UBS dan Galeri24 di Pegadaian sewaktu-waktu bisa berubah.

Rincian lengkap harga emas Pegadaian: 

Galeri24

  • 0,5 gram: Rp 1.494.000
  • 1 gram: Rp 2.849.000.
  • ‎2 gram: Rp 5.629.000
  • ‎5 gram: Rp 13.969.000
  • ‎10 gram: Rp 27.864.000
  • ‎25 gram: Rp 69.284.000
  • ‎50 gram: Rp 138.460.000
  • ‎100 gram: Rp 276.781.000
  • ‎250 gram: Rp 690.254.000
  • ‎500 gram: Rp 1.380.506.000
  • ‎1.000 gram: Rp 2.761.012.000.

UBS

  • 0,5 gram: Rp 1.547.000
  • ‎1 gram: Rp 2.862.000
  • ‎2 gram: Rp 5.681.000
  • ‎5 gram: Rp 14.037.000
  • 10 gram: Rp 27.927.000
  • ‎25 gram: Rp 69.679.000
  • ‎50 gram: Rp 139.070.000
  • ‎100 gram: Rp 278.032.000
  • 250 gram: Rp 694.874.000
  • ‎500 gram: Rp 1.388.116.000.

Harga Emas Tiba-tiba Melonjak, Ini Prediksi Goldman Sachs

Harga emas dunia melonjak pada Rabu setelah penurunan harga minyak membantu meredakan kekhawatiran inflasi yang berkepanjangan. Sentimen ini muncul di tengah laporan bahwa Washington tengah menyiapkan proposal untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah.

Mengutip CNBC, Kamis (26/3/2026), harga emas spot tercatat naik hampir 2% menjadi USD 4.558,81 per ounce. Sementara itu, kontrak berjangka emas untuk pengiriman April melonjak lebih dari 3% ke level USD 4.552,30 per ounce.

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, mengatakan pada Selasa bahwa Amerika Serikat dan Iran saat ini sedang melakukan negosiasi. Ia juga menyiratkan bahwa Teheran menunjukkan minat untuk mencapai kesepakatan damai, meskipun pihak Iran membantah adanya pembicaraan langsung dengan Washington.

Berbicara di Oval Office, Trump mengungkapkan bahwa ia memutuskan untuk tidak melanjutkan ancaman serangan terhadap infrastruktur energi Iran karena adanya proses negosiasi.

“Mereka berbicara dengan kami, dan mereka berbicara dengan masuk akal,” kata Trump saat menjelaskan perubahan sikapnya.

Iran Bantah Negosiasi, Ketegangan Masih Terasa

Meski demikian, pihak Iran membantah adanya negosiasi langsung. Juru bicara militer Iran, Ebrahim Zolfaqari, menegaskan bahwa negaranya tidak akan membuat kesepakatan dengan AS.

“Seperti yang selalu kami katakan... tidak ada pihak seperti kami yang akan membuat kesepakatan dengan Anda. Tidak sekarang. Tidak akan pernah,” ujarnya melalui televisi pemerintah.

Di sisi lain, Teheran mengonfirmasi akan mengizinkan kapal “non-hostile” atau tidak bermusuhan untuk melintas di Selat Hormuz, jalur penting pengiriman minyak dunia.

Pemerintah Iran menyatakan bahwa kapal dari negara lain yang tidak terlibat dalam operasi agresif terhadap Iran serta mematuhi aturan keamanan dapat melintas dengan aman melalui jalur tersebut.

Sebelumnya, blokade di Selat Hormuz sempat memicu lonjakan harga energi selama hampir empat pekan sejak konflik dimulai.

Namun pada Rabu pagi, harga minyak justru turun. Minyak mentah Brent melemah sekitar 5% menjadi USD 99,13 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) turun sekitar 4% ke USD 88,42 per barel.

Prospek Emas Masih Bullish Meski Koreksi

Di tengah penguatan terbaru, harga emas masih berada sekitar 17% di bawah puncaknya pada akhir Januari.

Bank investasi Goldman Sachs menilai pelemahan harga emas sebelumnya masih sesuai dengan pola historis. Faktor utama yang memengaruhi adalah ekspektasi kenaikan suku bunga serta volatilitas pasar.

“Kami tidak melihat penurunan ini sebagai sesuatu yang mengejutkan,” ujar Co-Head Global Commodities Research Goldman Sachs, Daan Struyven.

Ia menjelaskan bahwa kenaikan ekspektasi suku bunga telah menekan minat investor, terutama pada instrumen ETF berbasis emas yang sangat sensitif terhadap perubahan suku bunga.

Selain itu, tekanan pasar ekstrem juga dapat memicu penjualan emas, karena investor yang menghadapi margin call cenderung melepas berbagai aset, termasuk emas.

Struyven menambahkan bahwa reli emas sebelumnya sempat melampaui fundamental, sehingga koreksi saat ini mencerminkan proses normalisasi.

Meski demikian, Goldman Sachs tetap mempertahankan pandangan bullish terhadap emas, dengan proyeksi harga mencapai USD 5.400 per ounce pada akhir tahun.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |