Harga Minyak Turun di Tengah Isu Negosiasi AS-Iran

8 hours ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia melemah pada Rabu setelah muncul sinyal negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, serta langkah Teheran yang membuka akses bagi kapal tertentu di Selat Hormuz.

Presiden AS Donald Trump, mengatakan bahwa Washington dan Teheran saat ini sedang berada dalam proses negosiasi. Ia juga mengindikasikan bahwa Iran tertarik mencapai kesepakatan damai, meskipun pemerintah Iran membantah adanya pembicaraan langsung.

Mengutip CNBC, Kamis (26/3/2026), harga minyak mentah Brent turun 2,2% ke level USD 102,22 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga melemah 2,2% ke USD 90,32 per barel.

Berbicara dari Oval Office, Trump mengungkapkan bahwa ia mengurungkan rencana serangan terhadap infrastruktur energi Iran karena adanya proses negosiasi.

“Mereka berbicara dengan kami, dan mereka berbicara dengan masuk akal,” ujar Trump.

Proposal Damai dan Ketidakpastian Sikap Iran

Laporan dari The New York Times menyebutkan bahwa AS telah mengirimkan proposal perdamaian berisi 15 poin kepada Iran. Proposal tersebut dikirim melalui Pakistan.

Namun, belum jelas sejauh mana proposal tersebut telah disebarkan di kalangan pejabat Iran. Selain itu, masih belum pasti apakah Israel, yang turut melakukan serangan bersama AS terhadap Iran, akan mendukung rencana tersebut.

Di sisi lain, juru bicara komando militer gabungan Iran memperingatkan bahwa pasar minyak masih akan bergejolak. Ia menegaskan harga tidak akan kembali stabil hingga kawasan berada di bawah kendali militer Iran.

Secara terpisah, misi Iran di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan bahwa kapal “non-hostile” atau tidak bermusuhan diizinkan melintas di Selat Hormuz, selama berkoordinasi dengan otoritas Iran.

Langkah ini dinilai sebagai protokol baru, di mana kapal dari negara seperti China, India, dan Pakistan mulai dapat melintasi jalur tersebut di tengah meningkatnya kontrol Iran.

Gangguan Pasokan dan Risiko Geopolitik

Media pemerintah Iran juga menegaskan bahwa negara tersebut tidak akan menerima upaya gencatan senjata dari AS.

Krisis di Timur Tengah telah mengganggu ekspor minyak melalui Selat Hormuz sejak serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari. Jalur laut ini biasanya mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia, serta menjadi jalur penting perdagangan pupuk.

Bank investasi Goldman Sachs menyebut gangguan ini sebagai salah satu guncangan terbesar terhadap pasokan global dalam beberapa dekade terakhir.

Co-Head Global Commodities Research Goldman Sachs, Daan Struyven, mengatakan bahwa pergerakan harga saat ini lebih dipengaruhi oleh ketidakpastian skenario terburuk dibandingkan perubahan fundamental.

Menurut Goldman Sachs, harga minyak kini mencerminkan premi risiko geopolitik, seiring investor mengantisipasi potensi gangguan berkepanjangan dan penurunan stok global.

Meski demikian, skenario dasar bank tersebut memperkirakan arus pasokan melalui Selat Hormuz akan kembali normal pada April, dalam periode sekitar empat minggu.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |