Hilirisasi Tambang jadi Penopang Ketahanan Indonesia, dari Pertahanan hingga Energi

1 day ago 32

Di tengah perannya menopang kebutuhan energi saat ini, pertambangan juga menjadi bagian dari fondasi transisi energi Indonesia.

Melalui kolaborasi ANTAM, Indonesia Battery Corporation (IBC), dan sejumlah mitra strategis internasional, Indonesia tengah membangun rantai pasok baterai kendaraan listrik yang terintegrasi dari Halmahera Timur hingga Karawang.

Proyek tersebut menghubungkan sejumlah komoditas strategis seperti nikel, tembaga, aluminium, timah, hingga karbon dalam satu ekosistem industri.

Pada sisi hilir, Indonesia akan memiliki fasilitas manufaktur sel baterai dengan kapasitas mencapai 15 GWh per tahun. Kapasitas tersebut diperkirakan cukup untuk memenuhi kebutuhan sekitar 300 ribu kendaraan listrik setiap tahun.

Untuk memastikan ketersediaan bahan baku dalam ekosistem baterai, Vale Indonesia juga mengembangkan tiga proyek Indonesia Growth Project (IGP) di Pomalaa, Morowali, dan Sorowako.

Ketiga proyek tersebut akan menambah kapasitas produksi hingga 240 ribu ton nikel per tahun dalam bentuk mixed hydroxide precipitate (MHP).

Berkembangnya ekosistem kendaraan listrik diharapkan dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar minyak dari luar negeri. Hilirisasi dengan demikian tidak hanya memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga menjadi salah satu jalan menuju transisi energi yang lebih bersih.

Indonesia Didorong Naik Kelas dalam Rantai Nilai Global

CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani menilai Indonesia perlu meningkatkan posisinya dalam rantai nilai global dan tidak lagi sekadar menjadi pemasok bahan mentah.

"Sudah saatnya Indonesia naik kelas dalam rantai nilai material maju," ujarnya dalam acara Danantara's Advanced Materials Industry Dialogue: From Minerals to Manufacturing pada Juli 2026.

Pandangan mengenai pentingnya hilirisasi juga disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia. Dia menilai industrialisasi dan hilirisasi menjadi syarat bagi negara berkembang untuk bertransformasi menjadi negara maju.

"Dalam teori ekonomi tidak ada sebuah negara pun yang memiliki sumber daya alam yang banyak dari negara berkembang menjadi negara maju tanpa ada industrialisasi dan hilirisasi. Gak ada itu," tegasnya dalam kuliah umum di Jakarta pada Februari 2026.

Pada akhirnya, besarnya kekayaan mineral Indonesia tidak hanya berkaitan dengan jumlah sumber daya yang dapat ditambang. Nilai strategisnya juga ditentukan oleh kemampuan Indonesia mengolah kekayaan tersebut menjadi produk yang memberikan manfaat lebih luas.

Ketika hasil pertambangan mampu mendukung industri pertahanan, memperkuat perekonomian, meningkatkan produktivitas pertanian hingga menopang kemandirian energi, peran sektor tersebut berkembang melampaui sekadar penghasil komoditas.

Hilirisasi, inovasi, dan integrasi industri menjadi jalan untuk mengoptimalkan kekayaan yang berasal dari perut bumi sebagai salah satu fondasi menuju Indonesia yang semakin tangguh, mandiri, dan berdaulat.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |