Kurs Dolar Melemah, Rupiah Bergerak ke Rp 16.740 di Awal Pekan

1 month ago 69

Liputan6.com, Jakarta - Kurs dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah dibuka melemah pada awal perdagangan di Jakarta, Senin. Seiring pergerakan tersebut, nilai tukar rupiah tercatat menguat 10 poin atau sekitar 0,06 persen ke level Rp 16.740 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya di Rp 16.750 per dolar AS.

Penguatan rupiah ini dinilai dipengaruhi meningkatnya optimisme pelaku pasar terhadap arah kebijakan moneter Bank Indonesia (BI).

Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menyebut ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga BI menjadi salah satu faktor utama yang mendorong pergerakan kurs dolar di pasar domestik.

"(Rupiah berpotensi menguat seiring) meningkatnya optimisme pelaku pasar terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan dan arah kebijakan bunga BI yang akan mendukung pertumbuhan ekonomi," ucapnya dikutip dari Antara, Senin (22/12/2025).

Optimisme pasar tersebut turut diperkuat oleh pernyataan Gubernur BI Perry Warjiyo yang menyatakan bahwa ruang penurunan suku bunga acuan masih terbuka pada 2026. Pernyataan ini memberikan sinyal kebijakan yang relatif akomodatif di tengah proyeksi inflasi yang dinilai tetap rendah dan terkendali.

Sentimen ini membuat pergerakan kurs dolar cenderung tertekan, sementara rupiah mendapatkan dukungan tambahan.

Kebijakan Suku Bunga Lebih Longgar

Perry Warjiyo menekankan bahwa kebijakan suku bunga yang lebih longgar tetap harus dibarengi dengan upaya bersama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Kolaborasi antara Bank Indonesia, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan dinilai penting untuk menjaga stabilitas makroekonomi.

Terkait peluang penurunan suku bunga ke depan, Bank Indonesia akan terus melakukan evaluasi secara berkala. Asesmen dilakukan setiap bulan dengan mempertimbangkan sejumlah indikator utama, mulai dari inflasi, pertumbuhan ekonomi, stabilitas nilai tukar rupiah, hingga kondisi moneter secara keseluruhan.

Sebagai catatan, Bank Indonesia sebelumnya telah menurunkan suku bunga acuan BI-Rate sebanyak enam kali dengan total penurunan mencapai 150 basis points (bps). Penurunan suku bunga tersebut dilakukan satu kali pada 2024 dan lima kali sepanjang 2025, sehingga BI-Rate saat ini berada di level 4,75 persen.

Kebijakan moneter yang lebih longgar ini diharapkan mampu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi, sekaligus menahan gejolak pergerakan kurs dolar terhadap rupiah.

Aliran Dana ke Aset Berisiko

Selain faktor domestik, Rully Nova menilai pergerakan kurs dolar juga dipengaruhi sentimen global dan faktor musiman jelang akhir tahun. Optimisme pasar yang meningkat biasanya mendorong aliran dana ke aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang.

"Pertumbuhan ekonomi Indonesia masih akan meningkat ditopang oleh kebijakan moneter yg longgar dan membaiknya harga komoditas," ungkap dia.

Sentimen eksternal yang turut memberi dukungan berasal dari data inflasi Amerika Serikat yang tercatat lebih lemah dari perkiraan. Kondisi tersebut memunculkan ekspektasi bahwa kebijakan moneter The Federal Reserve akan lebih longgar, sehingga menekan kurs dolar secara global.

"Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan menguat di kisaran Rp 16.700-Rp 16.760 dipengaruhi masih oleh sentimen global data inflasi AS yang lebih lemah dari perkiraan dan meningkatnya optimisme pasar menjelang akhir tahun yang biasanya pasar selalu menguat," katanya.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |