Kurs Dolar Melemah, Rupiah Perkasa Usai Trump Kalah di MA

18 hours ago 10

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah menguat terhadap kurs dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan di Jakarta, Senin (23/2/2026). Penguatan ini dipicu melemahnya dolar AS setelah Mahkamah Agung AS membatalkan kebijakan tarif Presiden Donald Trump serta rilis data ekonomi AS yang jauh di bawah ekspektasi.

Pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Senin (23/2/2026), rupiah menguat 20 poin atau 0,12 persen menjadi Rp 16.868 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp 16.888 per dolar AS.

Penguatan rupiah terjadi di tengah tekanan terhadap dolar AS yang melemah di pasar global. Sentimen positif datang dari keputusan Mahkamah Agung Amerika Serikat yang menganulir kebijakan tarif Presiden Donald Trump.

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai kondisi tersebut menjadi katalis utama pergerakan rupiah.

“Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS yang melemah tajam setelah data pertumbuhan ekonomi yang jauh di bawah ekspektasi dan keputusan MA yang menganulir tarif Trump,” katanya dikutip dari Antara. 

Selain faktor kebijakan perdagangan, pelemahan kurs dolar juga dipengaruhi oleh kondisi ekonomi AS yang menunjukkan perlambatan. Data terbaru mencatat pertumbuhan ekonomi Negeri Paman Sam hanya mencapai 1,4 persen, jauh di bawah perkiraan pasar sebesar 3 persen.

Kondisi tersebut mendorong pelaku pasar global untuk mengurangi eksposur terhadap dolar AS dan beralih ke aset negara berkembang, termasuk rupiah.

Dampak Putusan MA AS terhadap Kurs Dolar

Putusan Mahkamah Agung AS yang membatalkan sebagian kebijakan tarif global Presiden Trump menjadi sorotan utama pasar keuangan dunia. Mengutip Sputnik, keputusan tersebut dinilai memberi dampak besar terhadap posisi politik dan ekonomi AS.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyebut putusan itu memberikan pukulan serius bagi rakyat AS serta mengurangi pengaruh signifikan Trump di kancah global.

Pada Jumat (20/2/2026) waktu setempat, MA AS dengan suara 6-3 memutuskan bahwa Trump tidak memiliki kewenangan memberlakukan tarif global berdasarkan Undang-Undang Kekuasaan Ekonomi Darurat Internasional (IEEPA).

Namun, Trump merespons putusan tersebut dengan nada keras. Ia menyebut keputusan itu “sangat mengecewakan” dan menuduh MA telah dipengaruhi oleh “kepentingan asing”.

Meski demikian, pasar menilai keputusan tersebut sebagai sinyal positif bagi stabilitas perdagangan global, yang turut menekan pergerakan kurs dolar.

Prospek Rupiah di Tengah Tekanan Ekonomi AS

Selain faktor kebijakan tarif, penguatan rupiah juga dipengaruhi oleh lemahnya fundamental ekonomi AS. Lukman Leong menilai perlambatan ekonomi menjadi beban tambahan bagi dolar AS.

“Dampak sebenarnya masih tidak jelas karena Trump masih ngotot, walau paling tidak ini adalah keputusan yang positif buat dunia,” ujar Lukman.

Ia menambahkan, rendahnya pertumbuhan ekonomi AS disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk penutupan sebagian aktivitas pemerintah serta melemahnya daya beli masyarakat akibat kebijakan tarif.

“Mayoritas disebabkan oleh shutdown pemerintah dan daya beli yang memang lemah oleh tarif,” katanya.

Ke depan, pergerakan rupiah masih akan dipengaruhi oleh dinamika global, termasuk kebijakan moneter AS dan perkembangan geopolitik. Selama tekanan terhadap kurs dolar masih berlanjut, rupiah berpeluang mempertahankan tren penguatannya.

Meski demikian, investor tetap diminta waspada terhadap volatilitas pasar yang dapat berubah sewaktu-waktu seiring munculnya sentimen baru dari Amerika Serikat.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |