Miliarder Australia Ini PHK 1.600 Pegawai

5 hours ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Perusahaan perangkat lunak Atlassian Corp. milik miliarder Australia Mike Cannon-Brookes memangkas sekitar 1.600 karyawan, atau sekitar 10% dari total tenaga kerjanya. Langkah ini dilakukan ketika perusahaan meningkatkan investasi pada teknologi kecerdasan buatan (AI) di tengah perlambatan industri software global.

Dalam memo kepada karyawan, Cannon-Brookes yang merupakan cofounder sekaligus CEO Atlassian mengatakan keputusan tersebut diambil agar perusahaan dapat membiayai ekspansi teknologi AI secara mandiri sekaligus memperkuat posisi keuangan perusahaan.

“Kami melakukan langkah ini agar dapat membiayai sendiri investasi lebih lanjut pada AI dan penjualan ke segmen enterprise, sekaligus memperkuat profil keuangan perusahaan,” ujar Cannon-Brookes dalam memo tersebut, dikutip dari forbes, Sabtu (14/3/2026).

Atlassian menyebut program pemutusan hubungan kerja ini diperkirakan akan menelan biaya sekitar USD 225 juta hingga USD 236 juta. Informasi tersebut disampaikan perusahaan dalam dokumen resmi kepada regulator.

Pengumuman ini turut memengaruhi pergerakan saham perusahaan. Dalam perdagangan di New York pada Rabu, saham Atlassian ditutup turun sekitar 3,3%.

Langkah efisiensi ini mencerminkan tekanan yang tengah dihadapi perusahaan teknologi, khususnya sektor software, yang kini harus menyesuaikan diri dengan perubahan cepat akibat perkembangan AI.

Saham Atlassian Tertekan di Tengah Persaingan AI

Sepanjang tahun ini, saham Atlassian telah kehilangan lebih dari setengah nilainya. Pelemahan tersebut terjadi seiring lesunya saham perusahaan software secara global.

Salah satu faktor utama yang memicu penurunan tersebut adalah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap persaingan dari teknologi AI baru yang berkembang sangat cepat.

Jika dibandingkan dengan puncaknya pada 2021, harga saham Atlassian bahkan telah turun sekitar 84%. Pada masa pandemi Covid-19, perusahaan ini sempat menikmati lonjakan permintaan karena banyak pekerja bekerja dari rumah dan membutuhkan alat kolaborasi berbasis cloud.

Meski demikian, Cannon-Brookes menegaskan bahwa perusahaan masih mencatat pertumbuhan pendapatan. Namun, standar kinerja industri kini telah berubah.

“Standar tentang seperti apa perusahaan software yang ‘hebat’—baik dari sisi pertumbuhan, profitabilitas, kecepatan, maupun penciptaan nilai—kini semakin tinggi,” katanya.

Ia menambahkan bahwa Atlassian memilih untuk menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut.

“Kami memilih untuk beradaptasi. Dengan cara yang matang, tegas, dan cepat, demi mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan dan menguntungkan.”

Chief Technology Officer Mundur dari Jabatan

Sebagai bagian dari proses reorganisasi dan restrukturisasi perusahaan, Chief Technology Officer Atlassian Rajeev Rajan akan mundur dari jabatannya mulai 31 Maret. Rajan telah bekerja di perusahaan tersebut selama hampir empat tahun.

Cannon-Brookes menegaskan bahwa strategi AI perusahaan bukan berarti menggantikan peran manusia sepenuhnya.

“Kami pada dasarnya percaya bahwa manusia dan AI bersama-sama akan menghasilkan hasil terbaik,” ujarnya.

Namun ia juga mengakui bahwa perkembangan teknologi ini akan mengubah kebutuhan tenaga kerja.

“Pendekatan kami bukanlah ‘AI menggantikan manusia’. Tetapi tidak jujur jika kita berpura-pura bahwa AI tidak mengubah kombinasi keterampilan yang kami butuhkan atau jumlah peran di beberapa bidang. Faktanya, perubahan itu memang terjadi.”

Akuisisi

Cannon-Brookes menegaskan bahwa pemangkasan tenaga kerja ini merupakan bagian dari transformasi perusahaan.

Di tengah langkah efisiensi tersebut, Atlassian juga aktif melakukan ekspansi melalui akuisisi. Pada September tahun lalu, perusahaan menyepakati pembelian platform produktivitas pengembang software DX senilai USD 1 miliar.

Kesepakatan itu terjadi hanya beberapa minggu setelah Atlassian mengumumkan akuisisi The Browser Company senilai USD 937 juta, yang membuat perusahaan masuk ke persaingan langsung dengan raksasa teknologi seperti Apple, Google, dan Microsoft di ranah mesin pencari internet.

“Ini pada dasarnya tentang beradaptasi. Kami sedang membentuk ulang komposisi keterampilan dan mengubah cara kerja kami untuk membangun masa depan.”

Atlassian sendiri didirikan pada 2002 oleh Cannon-Brookes bersama rekannya Scott Farquhar, tak lama setelah mereka lulus kuliah. Perusahaan ini awalnya didanai menggunakan kartu kredit pribadi.

Menurut data Forbes, Cannon-Brookes memiliki kekayaan sekitar USD 7,3 miliar, menjadikannya salah satu orang terkaya di Australia. Ia juga memiliki investasi di perusahaan energi surya Sun Cable serta perusahaan energi Australia AGL Energy.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |