Nilam Bisa Jadi Senjata Tawar Indonesia di Pasar Global

20 hours ago 13

Liputan6.com, Jakarta - Komoditas nilam kini tak lagi dipandang sekadar bahan baku minyak atsiri. Di tengah meningkatnya kebutuhan industri parfum dan kosmetik dunia, nilam mulai diposisikan sebagai instrumen strategis Indonesia dalam peta perdagangan global.

Kepala Atsiri Research Center (ARC), Syaifullah Muhammad, menegaskan Indonesia menguasai sekitar 90% pasokan minyak nilam dunia yang digunakan di 41 negara.

“Kalau pemerintah melihat ini sebagai komoditas strategis, nilam bisa menjadi bargaining position Indonesia terhadap perusahaan-perusahaan besar dunia,” ujarnya di Universitas Syiah Kuala, Aceh, dikutip Kamis (26/2/2026).

Secara historis, tata niaga nilam telah berlangsung sejak era kolonial. Perdagangan komoditas ini pernah dikelola perusahaan Belanda bernama Netherlands Indische Leinboe Aceh Mascapai. Hingga kini, tanaman nilam jenis Pogostemon cablin yang tumbuh di Aceh dikenal memiliki karakter aroma paling unggul dibandingkan daerah lain.

Ketergantungan industri global terhadap nilam Indonesia, khususnya dari Aceh, dinilai sangat nyata. Sejumlah rumah parfum ternama dunia, termasuk di Prancis, menjadikan minyak nilam sebagai komponen utama dalam formulasi wewangian mereka.

“Kalau pasokan terganggu, mereka juga terdampak. Di situlah sebenarnya posisi tawar Indonesia,” kata Syaifullah.

Dengan dominasi pasokan global tersebut, nilam berpotensi menjadi kartu strategis Indonesia dalam memperkuat daya saing dan pengaruhnya di industri wewangian internasional.

Nilam Aceh Mendunia, Ekspor hingga Prancis

Sebelumnya, kualitas nilam Aceh semakin mendapat pengakuan di pasar internasional. Tingginya permintaan ekspor, termasuk ke Prancis melalui jalur udara demi menjaga mutu, menjadi bukti daya saing komoditas unggulan ini sebagai fondasi pengembangan industri parfum terintegrasi di Banda Aceh.

Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, menegaskan bahwa kualitas nilam Aceh telah terbukti mampu bersaing di pasar global. Permintaan ekspor ke Prancis tetap tinggi, bahkan pengiriman dilakukan melalui jalur udara meski biayanya lebih mahal, demi menjaga kualitas bahan baku.

Menurutnya, hal tersebut menjadi sinyal kuat bahwa nilam dari Bumi Serambi Mekkah memiliki standar mutu tinggi dan diminati industri parfum dunia.

“Kalau (ekspor) lewat laut bisa 30 hari, lewat udara hanya 2–3 hari. Mereka tetap pilih kualitas,” katanya saat ditemui di kantornya di Banda Aceh, dikutip Kamis (26/2/2026).

Ia menilai, kondisi ini menunjukkan daya saing nilam Aceh sangat kuat sebagai fondasi membangun industri parfum terintegrasi, mulai dari parfum, aromaterapi, hingga produk kosmetik.

Kolaborasi Berbagai Pihak

Transformasi tersebut melibatkan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, perguruan tinggi seperti Universitas Syiah Kuala (USK), pusat riset, pelaku UMKM, hingga mitra internasional termasuk ILO. Pemerintah kota juga tengah menyiapkan revitalisasi pusat UMKM yang akan dilengkapi laboratorium formulasi parfum.

Tak hanya itu, pemerintah berencana menyekolahkan lima anak muda Aceh untuk mendalami ilmu parfum secara profesional. Langkah ini bertujuan mencetak peracik (perfumer) lokal yang mampu bersaing di pasar global.

“Kita ingin ada generasi muda kreatif yang meracik parfum khas Aceh. Nantinya wisatawan bisa datang, meracik sendiri, dan membawa pulang parfum racikan khas Banda Aceh sebagai souvenir,” ujarnya.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |