Pengusaha Lapor Mendag: Biaya Logistik Mahal Imbas Perang AS-Israel vs Iran

6 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Kalangan pengusaha diketahui mulai merasakan kenaikan biaya logistik ditengah memanasnya perang Amerika Serikat (AS) - Israel dengan Iran. Biaya logistik disebut naik imbas melonjaknya harga minyak dunia ditambah rute pengiriman.

Keluhan tersebut diakui langsung oleh Menteri Perdagangan Budi Santoso. Menurutnya, sudah ada aduan yang disampaikan para kalangan pengusaha soal biaya logistik, baik ekspor maupun impor.

"Teman-teman (pengusaha) memang bilang kalau biaya logistik ini meningkat, sebagian tetap jalan dengan kondisi biaya logistik tinggi, sebagian juga masih memang ada yang wait and see," kata Budi, di Kantor Kemendag, Jakarta, Jumat (27/3/2026).

Dia mengatakan, para pengusaha itu sejatinya masih ingin memperlancar proses ekspornya. Mengingat lagi, adanya tambahan permintaan dari beberapa negara, termasuk dari kawasan Timur Tengah.

"Ya cuma mereka mungkin berpikir dengan cost yang tinggi berani enggak ya mungkin untungnya berkurang gitu kali ya. Tetapi kan kalau teman-teman sebenarnya tetap ingin jalan kalau saya tanya ke mereka," jelasnya.

Ketika ditanya memgenai pihak yang menanggung kenaikan biaya logistik, Budi mengaku masih berdiskusi untuk mencari jalan keluarnya. "Lagi dicari jalan keluarnya lah, mana yang terbaik. Karena mereka juga sebenarnya butuh barang itu kan gitu, negara-negara importir ya. Ini kita cari solusinya bersama antar, sebenarnya itu kan B2B (business to business) sebenarnya," tuturnya.

Tak Pengaruhi Komoditas Tertentu

Budi menerangkan lagi, dampak rembetan perang AS-Israel dan Iran ini cenderung mempengaruhi biaya logistik, namun tidak pada komoditas tertentu. Alhasil, setiap kiriman komoditas ekspor terkena imbas kenaikan biaya logistik tersebut.

"Karena ini berkaitan dengan logistik ya bisa dikatakan hampir semua komoditas ekspor. Karena kan dampaknya di logistiknya bukan dampaknya permintaan yang di sana produk tertentu itu enggak ngambil misalnya. Bukan begitu karena yang kita ekspor itu non-migas bukan pangan atau apa gitu ya," bebernya.

Dia memastikan belum ada sektor atau komoditas tertentu yang tersendat total imbas memanasnya geopolitik di Timur Tengah. "Belum kalau saya lihat kalau komunikasi dengan teman-teman (pengusaha) belum. Jadi ya dia memang hanya menyampaikan memang cost-nya semakin tinggi untuk biaya logistiknya," ucap Budi.

Kinerja Ekspor RI Bisa Melemah

Sebelumnya, Menteri Perdagangan Budi Santoso memperkirakan kinerja ekspor Indonesia bisa lebih rendah dari tahun lalu. Hal ini bisa terjadi jika perang Amerika Serikat (AS), Israel dan Iran terus berlanjut.

Eskalasi perang Iran dan AS-Israel yang terjadi membuat arus logistik, utamanya di Selar Hormuz terganggu. Biaya logistik juga melonjak imbas kenaikan harga minyak dunia. Budi melihat dampaknya terhadap produk asal Indonesia.

"Tentu kalau ini enggak selesai, misalnya, enggak selesai terus-menerus ya bisa dampaknya ke ekspor kita. Paling tidak ekspor kita bisa pertumbuhannya bisa lebih rendah daripada tahun lalu. Tapi mudah-mudahan cepat selesai," kata Budi di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Jumat (27/3/2026).

Ganggu Akses Logistik

Dia mencatat, ekspor RI ke Timur Tengah sepanjang 2025 mencapai USD 9,87 miliar, dengan tujuan terbesar yakni Uni Emirat Arab (UEA) dan Arab Saudi. Budi menyoroti biaya logistik yang mempengaruhi paling besar.

"Dampaknya (dari perang) sebenarnya lebih banyak faktor ke logistik, alat angkutnya. Karena memang harga minyak kan naik. Jadi pengaruhnya ke logistik dan juga salah satunya rute pengalihan. Jadi kan semakin panjang sekarang karena ada beberapa port yang ditutup," ungkapnya.

Budi menyebut, para eksportir sebetulnya masih sanggup mengirimkan barangnya. Hanya saja, biayanya menjadi lebih tinggi. "Permintaan dari Timur Tengah memang masih jalan. Ya, cuman itu tadi, cost-nya mungkin lebih tinggi untuk biaya transportasinya," jelas dia.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |