Perjanjian Dagang ART 2026 Bisa Beri Indonesia Posisi Strategis di ASEAN, Ini Komoditasnya

19 hours ago 15

Liputan6.com, Jakarta - Kebijakan tarif resiprokal (Agreement on Reciprocal Trade/ART) Amerika Serikat (AS) dinilai bisa menempatkan Indonesia pada posisi strategis di antara negara yang berada di kawasan Asia Tenggara (ASEAN). Adanya kebijakan ini berpotensi membuka ruang kompetitif yang signifikan bagi Indonesia, khususnya bagi sektor tekstil dan komoditas unggulan lainnya.

Penilaian ini merupakan temuan dari hasil kajian strategis Prognosa Research & Consulting. "Perjanjian ini menghadirkan peluang sekaligus risiko yang perlu diantisipasi secara cermat oleh pemerintah dan pelaku industri di Tanah Air," kata Director Prognosa Research & Consulting, Garda Maharsi dalam keterangannya di Jakarta.

Garda menjelaskan pada kajian ini pihaknya membahas dampak penuh hilirisasi ekspor Indonesia ke AS dari 32% menjadi 19%, disertai komitmen pembelian produk AS senilai USD 38,4 miliar. Kemudian dibahas juga mengenai penyesuaian kebijakan non-tarif, termasuk implikasinya terhadap daya saing industri, ketergantungan impor, dan agenda hilirisasi.

Menurut Garda, kondisi itu membuka ruang kompetitif yang signifikan, khususnya bagi sektor tekstil dan komoditas unggulan lainnya.

Dia melanjutkan, kewajiban pembelian produk AS senilai USD 38,4miliar yang mencakup sektor energi, dirgantara, dan pertanian justru berpotensi mengubah struktur perdagangan nasional secara fundamental jika tidak dikelola dengan kebijakan mitigasi yang tepat.

"Penting untuk Pemerintah memastikan sektor terdampak didukung dengan komitmen transfer ofknowledge & transfer of technology, sejalan dengan agenda penciptaan nilai tambah ekonomi,"katanya.

Untuk itu, pemerintah Indonesia disarankan untuk mengambil langkah strategis guna menjaga daya saing industri nasional. "Untuk selamat, sebaiknya Pemerintah sinkronisasi standar luar, bangun industri logistik, dan pembiayaan berkelanjutan. Perjanjian semacam ini bisa jadi proses integrasi ke Global Value Chains, asalkan daya dukung sektoralnya dipenuhi," ujar Garda.

Dalam kajian ini, Garda menjelaskan pendekatan yang digunakan adalah Vector Error CorrectionModel (VECM) dan analisis Impulse Response Function (IRF).

Lewat pendekatan tersebut, kajian ini memetakan dampak jangka pendek dan panjang terhadap neraca perdagangan, ketahanan industri sektoral, serta kinerja pembangunan berkelanjutan Indonesia.

Kajian Prognosa ini menghadirkan juga analisis sektoral yang komprehensif untuk memetakan posisi masing-masing industri dalam menghadapi implementasi ART.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |