Prabowo Soroti Impor Kakao Rp 18,7 Triliun di Tengah Produksi Melimpah

9 hours ago 11

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto menyoroti tingginya impor kakao meski Indonesia dikenal sebagai salah satu produsen utama komoditas tersebut. Nilai impor bahan baku utama cokelat itu bahkan mencapai USD 1,1 miliar atau sekitar Rp 18,7 triliun (kurs Rp 17.000 per dolar AS) setiap tahun.

Padahal, Indonesia mampu memproduksi sekitar 600 ribu ton kakao per tahun. Namun, industri dalam negeri masih bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan bahan baku yang memiliki standar kualitas, volume, dan kontinuitas yang konsisten.

Founder dan CEO Supply Chain Indonesia (SCI), Setijadi, menilai kondisi ini sebagai paradoks dalam struktur industri nasional. Menurutnya, persoalan utama bukan terletak pada produksi, melainkan pada rantai pasok dan sistem logistik yang belum terintegrasi secara optimal.

"Produksi yang didominasi petani kecil menyebabkan pasokan tersebar dan kualitas tidak seragam. Sehingga sulit memenuhi kebutuhan industri dalam skala besar," ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (23/3/2026).

Di sisi hilir, kapasitas industri pengolahan kakao nasional sebenarnya telah mencapai sekitar 739 ribu ton per tahun. Namun, realisasi produksinya baru sekitar 422 ribu ton atau hanya 50-60 persen dari kapasitas terpasang.

Sementara itu, impor kakao masih berada di kisaran 157 ribu ton per tahun dengan nilai mencapai USD 1,1 miliar. "Menunjukkan bahwa industri dalam negeri belum sepenuhnya mampu mengandalkan pasokan domestik," tambah Setijadi.

Tantangan Logistik hingga Peluang Penghematan Devisa

Dari sisi logistik, tantangan utama terletak pada sistem pascapanen dan distribusi yang belum efisien. Proses fermentasi, pengeringan, penyimpanan, hingga pengumpulan hasil produksi masih belum terstandardisasi dengan baik.

Di sisi lain, biaya distribusi domestik dalam beberapa kasus justru lebih tinggi dibandingkan impor, sehingga bahan baku dari luar negeri menjadi lebih kompetitif.

"Kondisi ini membuat bahan baku impor lebih kompetitif dari sisi kualitas dan kepastian pasokan," kata Setijadi.

Padahal, perbaikan rantai pasok berpotensi memberikan nilai ekonomi yang besar. Jika impor bisa ditekan hingga 25 persen, Indonesia berpeluang menghemat devisa sekitar USD 275 juta. Bahkan, jika mencapai 50 persen, penghematan bisa mencapai USD 550 juta.

Selain itu, peningkatan utilisasi industri hingga 75 persen diperkirakan mampu menghasilkan tambahan nilai ekonomi lebih dari USD 1 miliar per tahun.

Dorongan Hilirisasi dan Integrasi Rantai Pasok

Untuk meningkatkan daya saing industri kakao nasional, SCI memberikan sejumlah rekomendasi strategis. Salah satunya adalah mendorong hilirisasi melalui pengembangan industri pengolahan berbasis bahan baku domestik.

Langkah ini perlu didukung dengan insentif investasi, kemudahan perizinan, serta pembangunan klaster industri di dekat sentra produksi guna memperkuat integrasi hulu hingga hilir.

Selain itu, penguatan rantai pasok juga perlu dilakukan melalui agregasi petani, peningkatan peran offtaker, serta standardisasi kualitas produk.

Perbaikan sistem pascapanen seperti fermentasi, pengeringan, dan penyimpanan juga menjadi kunci, disertai peningkatan konektivitas logistik dan efisiensi distribusi.

Tak kalah penting, diperlukan sinergi antara kementerian, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan penyedia jasa logistik. Kemitraan seperti contract farming serta pemanfaatan digitalisasi juga dinilai mampu memperkuat integrasi antara pasokan dan permintaan.

Dengan langkah tersebut, industri kakao nasional diharapkan mampu mengurangi ketergantungan impor sekaligus meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |