Rupiah Loyo terhadap Dolar AS Hari Ini 4 Februari 2026, Investor Antisipasi Data Ekonomi AS

2 hours ago 3

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah diprediksi melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu, (4/2/2026). Investor yang mengantisipasi deretan data ekonomi Amerika Serikat (AS) dan Indonesia yang akan dirilis mempengaruhi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Nilai tukar rupiah turun 9 poin atau 0,05% menjadi 16.763 per dolar AS dari sebelumnya 16.754 per dolar AS pada pembukaaan perdagangan Rabu, (4/2/2026).

"Rupiah diperkirakan akan berkonsolidasi dengan potensi melemah terbatas terhadap dolar AS. Investor cenderung sideline mengantisipasi serentetan data ekonomi penting AS beberapa hari ke depan dan data Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal IV-2025 Indonesia besok, Kamis, 5 Februari 2026,” ujar dia dikutip dari Antara, Rabu pekan ini.

Data Institute for Supply Management (ISM) AS jasa diperkirakan menurun dari 54,4 ke 53,5.

Adapun data Non-Farm Payrolls (NFP) yang dirilis pada Jumat, 6 Februari 2026 diprediksi menambahkan 68 ribu pekerjaan, lebih tinggi dari 50 ribu pada bulan sebelumnya.

Mengutip Xinhua, Biro Statistik Tenaga Kerja AS telah mengumumkan bahwa laporan NFP bulan Januari 2026 yang dijadwalkan pada Jumat, 6 Januari 2026, akan ditunda tanpa batas waktu seiring penutupan sebagian pemerintah AS yang sedang berlangsung. Penutupan, yang dimulai pada 31 Januari, berasal dari kebuntuan Kongres AS atas pendanaan Departemen Keamanan Dalam Negeri.

Selain itu, data PDB kuartal IV-2025 Indonesia diestimasi berada di angka 5 persen year-on-year (yoy), yang berarti tumbuh 1,43 persen.

“Sentimen domestik masih belum sepenuhnya pulih, terlebih sentimen di Asia diperkirakan akan risk off hari ini mengekori Wall Street, (yang mana terjadi) sell off saham tech (teknologi) di AS, (yang membuat) perusahaan tech Asia diperkirakan juga akan jatuh,” kata Lukman.

Berdasarkan faktor-faktor itu, rupiah diprediksi bergerak di 16.700-16.850 per dolar AS.

Penutupan Rupiah 3 Februari 2026

Sebelumnya, Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi, mencatat nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat di 16.754 pada penutupan perdagangan sore ini, Selasa (3/2/2026). Salah satu penguatan rupiah terhadap dolar AS dibantu komentar dari Presiden AS Donald Trump.

"Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup menguat 44 poin sebelumnya menguat 45 poin  di level Rp 16.754 dari penutupan sebelumnya di level Rp 16.798," kata Ibrahim dalam keterangannya, Selasa, 3 Februari 2026.

Adapun penguatan rupiah didukung oleh berbagai faktor, di antaranya pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengatakan Iran "serius berbicara" dengan Washington, diperkirakan melanjutkan pembicaraan nuklir pada Jumat di Turki, kata para pejabat dari kedua pihak kepada Reuters pada Senin.

Sentimen Eksternal

Selain itu, Donald Trump memperingatkan dengan kapal perang besar AS yang menuju Iran, hal-hal buruk dapat terjadi jika kesepakatan tidak tercapai. Pembicaraan dengan AS harus dilanjutkan untuk mengamankan kepentingan nasional Iran selama "ancaman dan harapan yang tidak masuk akal" dihindari, tulis Presiden Iran Masoud Pezeshkian di X pada Selasa.

Di bidang perdagangan, Trump pada Senin mengumumkan kesepakatan dengan India yang memangkas tarif AS atas barang-barang India menjadi 18% dari 50% sebagai imbalan atas penghentian pembelian minyak Rusia oleh India dan penurunan hambatan perdagangan.

"Trump mengumumkan kesepakatan itu di media sosial setelah melakukan panggilan telepon dengan Perdana Menteri India Narendra Modi, dan mencatat bahwa India telah setuju untuk membeli minyak dari AS dan mungkin juga Venezuela," ujarnya.

Sentimen Penunjukan Calon Ketua The Fed

Kemudian, Presiden AS Donald Trump menominasikan mantan gubernur Federal Reserve Kevin Warsh sebagai ketua bank sentral berikutnya. Meskipun nominasi tersebut menghilangkan poin ketidakpastian utama bagi pasar, mengurangi permintaan aset aman, Warsh juga dipandang sebagai pilihan yang kurang lunak daripada yang diharapkan pasar.

Warsh sebagian besar mendukung tuntutan Trump untuk suku bunga yang lebih rendah.

Namun, ia juga mengkritik aktivitas pembelian aset Fed dan menyerukan neraca yang lebih kecil – tema yang dapat membuat kebijakan moneter tetap relatif ketat dalam beberapa tahun mendatang.

Faktor Internal

Sementara di dalam negeri yang mempengaruhi penguatan rupiah yakni, S&P Global Market Intelligence mencatat Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia berada di level 52,6 pada Januari 2026. Angka tersebut naik dari level 51,2 pada Desember 2025. Kenaikan tergolong sedang dan pertumbuhan terus meningkat dengan indeks di atas 50.

Kenaikan itu didorong oleh peningkatan berkelanjutan pada output dan permintaan baru. Data tersebut berdasarkan survei yang dilakukan pada 12-23 Januari 2026 dengan cara menyebar kuesioner kepada para manajer pembelian dari panel terpilih yang berasal dari 400 perusahaan manufaktur. Mereka dipilih agar mencerminkan kondisi industri yang sebenarnya.

Dalam survei tersebut, perusahaan sering mengaitkan kenaikan dengan permintaan pasar atas barang yang meningkat. Kondisi permintaan terlihat didorong oleh perekonomian domestik, karena permintaan internasional menurun selama lima bulan terakhir di tengah penurunan laporan bahwa tarif menghambat permintaan luar negeri.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |