Rupiah Menguat Awal Pekan ini, Tersengat Angin Segar Diplomasi Nuklir AS-Iran

12 hours ago 9

Liputan6.com, Jakarta - Mata uang rupiah ditutup menguat ke level Rp 16.802 per dolar AS pada perdagangan Senin (23/2/2026), dipicu oleh sentimen positif meredanya ketegangan nuklir AS-Iran. Meski APBN Januari 2026 mencatatkan defisit sebesar Rp54,6 triliun, penguatan mata uang garuda tetap terjaga di tengah volatilitas pasar global akibat kebijakan tarif baru Presiden Trump.

"Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup menguat 86 poin sebelumnya sempat menguat 90 poin di level Rp 16.802 dari penutupan sebelumnya di level Rp 16.888," ujar Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi, dalam keterangannya, Senin (23/2/2026).

Adapun faktor yang mempengaruhi penguatan rupiah yakni, pasar terus mengamati putaran ketiga pembicaraan nuklir antara AS dan Iran pada hari Kamis di Jenewa, meningkatkan harapan bahwa ketegangan dapat mereda.

Dimana Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan kepada program "Face the Nation" CBS pada hari Minggu (22/2/2026) bahwa ada peluang bagus untuk mencapai solusi diplomatik dan bahwa solusi tersebut berada dalam jangkauan mereka, komentar yang ditafsirkan pasar sebagai sinyal kesediaan untuk berkompromi.

Kemudian, Presiden Trump mengatakan akhir pekan lalu bahwa ia akan mengenakan tarif 10% pada impor global selama 150 hari berdasarkan Pasal 122 undang-undang perdagangan AS, setelah Mahkamah Agung AS membatalkan rezim tarif sebelumnya yang lebih luas.

Pemerintahan kemudian menaikkan tarif menjadi 15%, maksimum yang diizinkan berdasarkan undang-undang tersebut, yang meningkatkan kekhawatiran tentang tindakan balasan dan potensi gangguan pada rantai pasokan global.

"Ketidakpastian mengenai durasi dan cakupan tarif, serta kemungkinan tantangan hukum dan kongres, menambah volatilitas pasar," ujarnya.

Sementara itu, rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) untuk kuartal keempat tahun lalu menurun dari 4,4% menjadi 1,4% secara YoY, yang disebabkan oleh penutupan pemerintah AS selama 43 hari.

Di sisi lain, data PCE inti terbaru semakin memperkuat pandangan bahwa Fed mungkin akan mempertahankan suku bunga tetap dalam beberapa bulan mendatang. PCE inti tingkat tahunan meningkat menjadi 3,0% dari 2,8%, tetap di atas target 2% bank sentral.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |