Sejak Kapan Mudik Jadi Tradisi di Indonesia? Ini Penjelasannya

5 hours ago 9

Liputan6.com, Jakarta - Tradisi mudik setiap menjelang Lebaran sudah menjadi fenomena tahunan di Indonesia. Jutaan orang melakukan perjalanan dari kota tempat mereka bekerja, kembali ke kampung halaman untuk berkumpul dengan keluarga.

Namun dari sudut pandang ilmu sosial, mudik ternyata memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar pulang kampung.

Kepala Pusat Riset Masyarakat dan Budaya Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Aulia Hadi, mengatakan tidak ada catatan pasti kapan tradisi mudik mulai muncul di Indonesia. Meski demikian, sejumlah pakar memperkirakan praktik pulang ke kampung halaman sudah ada sejak masa kerajaan di Nusantara.

“Tidak ada data spesifik yang menjelaskan sejak kapan mudik dimulai. Tetapi sejumlah pakar menyebut fenomena pulang ke kampung halaman ini sudah ada sejak zaman kerajaan di Nusantara,” jelas Aulia, dikutip dari laman brin.go.id, Jumat (20/3/2025).

Menurutnya, tradisi mudik semakin menguat pada masa Indonesia modern, terutama sejak era 1970-an ketika industrialisasi dan urbanisasi meningkat pesat. Pada masa itu, banyak masyarakat dari daerah berpindah ke kota-kota besar, seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Semarang, hingga Medan dan Makassar untuk bekerja.

Perpindahan penduduk tersebut memunculkan pola mobilitas baru, yakni bekerja di kota, tetapi tetap mempertahankan hubungan kuat dengan daerah asal. Ketika ada momen tertentu seperti Lebaran, para perantau kembali ke kampung halaman.

“Pada era industrialisasi tahun 1970-an, urbanisasi meningkat dan banyak kota menjadi pusat industri. Dari situ tradisi mudik semakin kuat,” ujar Aulia.

Meski sangat identik dengan Indonesia, fenomena perjalanan massal, seperti mudik, sebenarnya juga terjadi di negara lain. Aulia menyebut negara dengan populasi besar dan wilayah luas, seperti Tiongkok, India, dan Amerika Serikat juga memiliki tradisi mobilitas serupa pada momen tertentu.

Di Tiongkok, mobilitas besar terjadi saat perayaan Tahun Baru Imlek yang dikenal sebagai Chunyun, yang bahkan disebut sebagai salah satu pergerakan manusia terbesar di dunia. Sementara di India mobilitas besar sering terjadi saat festival Diwali, sedangkan di Amerika Serikat saat perayaan Thanksgiving dan Natal.

Kesamaan dari berbagai fenomena tersebut adalah adanya mobilitas pekerja yang meninggalkan daerah asal untuk bekerja di kota lain. Ketika hari besar tiba, mereka kembali ke rumah untuk berkumpul bersama keluarga.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |