Selat Hormuz Ditutup, Ekspor Minerba RI Tak Terdampak Langsung

21 hours ago 12

Liputan6.com, Jakarta - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) melihat ekspor mineral dan batubara (minerba) tidak terdampak langsung penutupan Selat Hormuz. Mayoritas, ekspor minerba menyasar kawasan Asia Timur.

Diketahui, Selat Hormuz ditutup pihak Iran pascaeskalasi perang dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Ketua Komite Mineral dan Batubara, Bidang ESDM Apindo Hendra Sinadia mengatakan, jalur Selat Hormuz cenderung berdampak langsung ke aktivitas ekspor impor minyak dan gas bumi (migas).

"Belum tahu sih eskalasi ini seperti apa kan kalau ekspor lebih ke migas ya ke Selat Hormus kan banyak," kata Hendra, ditemui di Kantor Apindo, Jakarta, dikutip Selasa (3/3/2026).

Dia mencatat, ekspor batubara dari Indonesia cenderung mengarah ke Asia Timur. Sehingga pengirimannya tidak terdampak penutupan jalur perdagangan tersebut.

"Kalau nikel kita belum tau persis mereka mungkin bisa lewat Afrika tapi secara langsung belum terlihat dampaknya," ucapnya.

Meski begitu, Hendra mengakui akan ada dampak tidak langsung yang dirasakan setelah bertambahnya ketegangan perang AS-Israel vs Iran. "Tapi mungkin secara tidak langsung pasti akan berdampak karena kondisi financial keuangan dunia juga akan makin tertekan dan tentu tidak langsungnya akan berdampak ke depan," jelas dia.

Mendag Waspada

Sebelumnya, Menteri Perdagangan, Budi Santoso mewanti-wanti kenaikan harga imbas memanasnya perang Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran. Penutupan Selat Hormuz oleh pihak Iran menghambat jalur perdagangan internasional.

Budi memandang hambatan ini meningkatkan harga minyak mentah. Hal tersebut, turut mengerek biaya logistik hingga bahan baku industri.

"Nah ya pasti kan nanti minyak atau bahan baku lainnya jadi naik ya," kata Budi, di Kantor Kemendag, Jakarta, Senin (2/3/2026).

Harga Bahan Bakar Naik

Penutupan Selat Hormuz, kata Budi, berpotensi mengerek harga minyak mentah dunia. Alhasil, harga bahan bakar minyak (BBM) juga terpengaruh. Pada akhirnya, biaya produksi industri juga ikut meningkat.

"Ya misalnya kan bahan bakar ya, pastikan akan naik ya. Pasti kalau itu memang benar-benar terjadi, ya sekali lagi mudah-mudahan enggak ya," harapnya.

Budi menyampaikan, ketika bahan baku tersebut naik, maka kinerja ekspor juga terpengaruh. Meskipun, kata dia, dampaknya dirasakan semua negara. "Kalau itu benar-benar terjadi ya memang akan berdampak ke industri kita, ke ekspor kita, tidak hanya di Indonesia, ya ke semua lah, ke semua negara," ucap dia.

Penguatan Konsumsi Domestik

Budi menambahkan, saat ini ekonomi Indonesia ditopang dari konsumsi domestik. Dengan begitu, ketergantungan terhadap impor bisa semakin dikurangi.

"Jadi ya kita harus memberdayakan itu, tetap menjaga itu. Kalau di sektor perdagangan ya bagaimana kita tetap meningkatkan daya beli kita, ya di masyarakat dengan produk-produk kita. Ya itu yang paling penting sebenarnya," ujarnya.

Gun meningkatkan daya beli itu, Budi mengeklaim pemerintah sudah mengguyur banyak stimulus ekonomi. "Saya pikir banyak ya stimulus yang telah diberikan oleh pemerintah. Dan kita akan terus melakukan gerakan-gerakan bersama swasta, ya untuk meningkatkan daya beli kita, untuk meningkatkan daya beli kita di pasar domestik," beber dia.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |