Top 3: Indonesia Siap-Siap Ekspor Beras

3 hours ago 7

Liputan6.com, Jakarta -  Menteri Pertanian/Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Andi Amran Sulaiman melihat peluang ekspor beras. Menyusul, adanya peningkatan serapan beras produksi lokal oleh Perum Bulog.

Serapan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) dari produksi dalam negeri menunjukkan lonjakan signifikan. Serapan setara beras tercatat mencapai sekitar 112 ribu ton, meningkat lebih dari 700 persen dibandingkan periode yang sama di 2025 sekitar 14 ribu ton.

"Serapan bulan ini, kami terima kasih pada Dirut Bulog dan seluruh Direksi, serapan awal tahun ini meningkat pesat. Tahun lalu itu 14 ribu ton satu bulan. Tahun ini 112 ribu ton. Laporan harian kami terima dan ini naik 700 persen di Januari," kata Amran dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi IV DPR, mengutip keterangan resmi, Rabu, 4 Februari 2026.

Dia berharap angka serapan beras Bulog tetap positif kedepan. Maka, ekspor beras bisa dilakukan, utamanya untuk membantu negara lain yang membutuhkan bantuan.

"Ini kalau berlanjut, InsyaaAllah hampir pasti mudah-mudahnya, kalau ada negara sahabat yang butuh beras, mungkin kita bisa supply," imbuhnya.

Berdasarkan catatan Bapanas, capaian serapan setara beras sebesar 112 ribu ton tersebut menjadi realisasi tertinggi di awal tahun dalam lima tahun terakhir. Sebagai pembanding, realisasi serapan pada Januari dan Februari 2025 masing-masing tercatat sebesar 14,9 ribu ton dan 171,1 ribu ton.

Peningkatan serapan CBP ini sejalan dengan proyeksi produksi beras nasional. Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan total produksi beras pada periode Januari hingga Maret 2026 dapat mencapai 10,16 juta ton atau naik 1,39 juta ton dibandingkan periode sama pada 2025.

Artikel Indonesia Siap-Siap Ekspor Beras menarik perhatian pembaca di Kanal Bisnis Liputan6.com pada Rabu, 4 Februari 2026. Ingin tahu artikel terpopuler lainnya di Kanal Bisnis Liputan6.com? Berikut tiga artikel terpopuler di Kanal Bisnis Liputan6.com yang dirangkum pada Kamis, (5/2/2026):

1. Indonesia Siap-Siap Ekspor Beras

 Menteri Pertanian/Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Andi Amran Sulaiman melihat peluang ekspor beras. Menyusul, adanya peningkatan serapan beras produksi lokal oleh Perum Bulog.

Serapan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) dari produksi dalam negeri menunjukkan lonjakan signifikan. Serapan setara beras tercatat mencapai sekitar 112 ribu ton, meningkat lebih dari 700 persen dibandingkan periode yang sama di 2025 sekitar 14 ribu ton.

"Serapan bulan ini, kami terima kasih pada Dirut Bulog dan seluruh Direksi, serapan awal tahun ini meningkat pesat. Tahun lalu itu 14 ribu ton satu bulan. Tahun ini 112 ribu ton. Laporan harian kami terima dan ini naik 700 persen di Januari," kata Amran dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi IV DPR, mengutip keterangan resmi, Rabu, 4 Februari 2026.

Dia berharap angka serapan beras Bulog tetap positif kedepan. Maka, ekspor beras bisa dilakukan, utamanya untuk membantu negara lain yang membutuhkan bantuan.

"Ini kalau berlanjut, InsyaaAllah hampir pasti mudah-mudahnya, kalau ada negara sahabat yang butuh beras, mungkin kita bisa supply," imbuhnya.

Berdasarkan catatan Bapanas, capaian serapan setara beras sebesar 112 ribu ton tersebut menjadi realisasi tertinggi di awal tahun dalam lima tahun terakhir. Sebagai pembanding, realisasi serapan pada Januari dan Februari 2025 masing-masing tercatat sebesar 14,9 ribu ton dan 171,1 ribu ton.

Peningkatan serapan CBP ini sejalan dengan proyeksi produksi beras nasional. Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan total produksi beras pada periode Januari hingga Maret 2026 dapat mencapai 10,16 juta ton atau naik 1,39 juta ton dibandingkan periode sama pada 2025.

Berita selengkapnya baca di sini

2. Bingung Investasi Emas atau Saham? Simak Plus Minusnya di Sini

Instrumen investasi hadir dalam banyak pilihan, mulai dari yang berisiko rendah hingga berpotensi memberi imbal hasil besar. Dua di antaranya yang paling sering dibandingkan adalah emas dan saham.

Pertanyaannya, mana yang lebih menguntungkan? Meski sama-sama populer, emas dan saham memiliki sifat, risiko, serta tujuan investasi yang sangat berbeda.

Memahami perbedaannya penting agar keputusan investasi tidak keliru.Berikut ulasan lengkap mengenai perbandingan investasi emas dan saham, dirangkum dari laman Pegadaian.co.id, Rabu (4/2/2026).

Emas kerap dijadikan instrumen lindung nilai sekaligus penyeimbang portofolio. Sementara saham merupakan bukti kepemilikan atas sebagian perusahaan yang memberi hak atas keuntungan dan aset perusahaan tersebut.

Keduanya memiliki daya tarik masing-masing. Agar tidak salah pilih, berikut beberapa aspek utama yang perlu dipertimbangkan sebelum menentukan akan investasi ke emas atau saham.

Berita selengkapnya baca di sini

3. 1.236 Perusahaan Industri Bakal Berproduksi Pertama Kali pada 2026

Kementerian Perindustrian menegaskan bahwa investasi di sektor industri manufaktur nasional tetap tumbuh dan berkelanjutan, sebagaimana tercermin dari realisasi kapasitas produksi baru serta indikator investasi riil lainnya.

Menanggapi pernyataan sejumlah pihak yang meragukan keberlanjutan investasi manufaktur, Kementerian Perindustrian menilai pandangan tersebut kurang tepat dan tidak sepenuhnya mencerminkan data faktual.

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian per 15 Januari 2026, terdapat 1.236 perusahaan industri yang telah menyelesaikan tahap pembangunan pada 2025 dan siap mulai berproduksi untuk pertama kalinya pada 2026. Kehadiran kapasitas produksi baru ini menjadi bukti konkret bahwa investasi manufaktur bukan hanya tumbuh, tetapi juga direalisasikan secara nyata di sektor riil.

Investasi industri pada tahun 2026 tersebut diharapkan menyerap tenaga kerja baru sebanyak 218 ribu orang. Industri baru ini merupakan relokasi dari luar negeri, ekspansi atau investasi baru. Industri baru ini diharapkan mampu menciptakan PDB (Produk Domestik Bruto) dan kemudian menambah PDB IPNM yang telah ada selama ini.

Berita selengkapnya baca di sini

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |