Bappenas Sebut Danantara dan MBG jadi Program Unggulan Pemerintah

3 weeks ago 41

Liputan6.com, Jakarta - Deputi Bidang Perencanaan Makro Pembangunan Kementerian PPN/Bappenas, Eka Chandra Buana, menyatakan Indonesia saat ini berada dalam fase krusial pembangunan nasional yang menuntut arah kebijakan fiskal dan pembiayaan yang tepat guna mendukung pertumbuhan berkelanjutan dan inklusif.

"Kita saat ini sedang dalam fase krusial pembangunan nasional, di mana ada tantangan global yang menuntut Indonesia tidak hanya tumbuh, tetapi tumbuh secara berkelanjutan, inklusif, dan berbasis kualitas sumber daya manusia,” ujar Eka Chandra Buana dalam diskusi daring yang diselenggarakan INDEF, Kamis (8/1/2026).

Ia menjelaskan, dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang 2025–2029 terdapat amanat trisula pembangunan sebagai fondasi transformasi nasional. Trisula tersebut mencakup pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, pemerataan dan pengurangan kemiskinan, serta pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas.

"Kerangka trisula tersebut menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak bisa dilepaskan dari kualitas pembangunan manusia,” katanya.

Dalam kerangka tersebut, Danantara dan program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi program unggulan pemerintah. Eka menyebut Danantara sebagai instrumen pembiayaan strategis yang diarahkan pada investasi sektor-sektor berkualitas.

"Danantara adalah salah satu instrumen pembiayaan strategis yang mendorong investasi pada sektor kualitas dengan multiplier dan spillover effect yang tinggi,” ujarnya.

Menurut Eka, peran Danantara adalah melengkapi dan memperkuat efektivitas kebijakan fiskal melalui investasi yang produktif. Sementara itu, program Makan Bergizi Gratis dipandang sebagai investasi sumber daya manusia lintas generasi.

"Program ini secara langsung akan meningkatkan status gizi anak, tetapi memang dampak ekonomi akan terrealisasi dalam jangka menengah panjang melalui peningkatan kemampuan belajar, peningkatan produktivitas, dan juga bagaimana kita meningkatkan pendapatan sepanjang siklus hidup tersebut,” jelasnya.

Eka menekankan, alokasi anggaran harus diarahkan pada program dengan daya ungkit tinggi agar belanja negara tidak hanya bersifat konsumtif.

"Transformasi belanja negara perlu diarahkan kepada program dengan leverage efek yang tinggi seperti Danantara dan MBG, agar belanja fiskal tidak hanya bersifat konsumtif, tetapi juga bisa menghasilkan dampak ekonomi sosial yang terukur,” katanya.

Bos BGN Pede 60 Juta Warga Bisa Terima Makan Bergizi Gratis Bulan Ini

Sebelumnya, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadab Hindayana memastikan ada 60 juta orang yang menerima makan bergizi gratis (MBG) hingga Desember 2025 ini. Jumlah tersebut bisa didapat setelah terbangun 20 ribu satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG).

Dadan optimistis 60 juta orang menerima MBG di penghujung 2025 ini. Jumlah itu semakin mendekati target total sebanyak 82,9 juta penerima manfaat.

"Kita akhir tahun ini mungkin sudah bisa melayani lebih dari 60 juta penerima manfaat, karena kita optimis bisa membentuk 20 ribu SPPG di daerah agglomerasi, dan minimal sekitar 200 di daerah terpencil," kata Dadan dalam Indonesia Connect Outlook 2026, di The Hall Senayan City, SCTV Tower, Jakarta, dikutip Sabtu (6/12/2025).

Dia menjelaskan, targetnya ada 8.000 dapur MBG di daerah terpencil. Seluruhnya diharapkan bisa beroperasi pada akhir Januari 2026. Dadan mengatakan, target 60 juta orang menerima MBG setara dengan jumlah penduduk Prancis dan lebih banyak daripada penduduk Korea Selatan.

"Jadi kita optimis target minimal 60 juta di akhir 2025 akan tercapai, dan itu artinya akan setara dengan penduduk Prancis. Korea Selatan 51 juta (penduduk) dan saya yakin per tengah bulan ini akan terlampaui oleh kita," jelas Dadan.

Adapun, target 82,9 juta orang bisa menerima MBG pada Februari-Maret 2026 mendatang. Peningkatan jumlah penerima MBG sejalan dengan semakin banyaknya SPPG yang dibangun.

3 Hal jadi Perhatian

Sebelumnya, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana menargetkan tidak ada orang lagi yang keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dia pun telah menyusun sejumlah strategi untuk menjaga higienitas makanan sehingga tak berdampak buruk ke penerimanya.

Dadan tak menampik masih ada kasus keracunan MBG hingga saat ini. Namun, dia bertekad targetnya tidak akan ada lagi kasus keracunan MBG kedepannya.

"Memang masih ada yang mengalami kejadian dan itu jumlahnya harus kita tekan terus-menerus dan kita targetnya nol kejadian," kata Dadan dalam Indonesia Connect Outlook 2026, di The Hall Senayan City, SCTV Tower, Jakarta, dikutip Sabtu, 6 Desember 2025.

Ada tiga hal utama yang menjadi perhatiannya. Pertama, mengurangi jumlah penerima dari satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau Dapur MBG. Dengan begitu, diharapkan kualitas makanannya masih bisa terjaga.

"Sekarang kita kurangi, maksimal 3.000 itu pun kalau ada juru masak yang profesional. Kalau tidak ada juru masak yang profesional, kita minta mereka maksimal melayani 2.500 saja," jelas Dadan.

Kedua, setiap bahan baku MBG diuji dengan rapid test untuk melihat kandungan dalam makanan tersebut. Baik sebelum maupun setelah diolah. "Sehingga kita akan tahu bahan bakunya baik atau tidak, kemudian hasil masakannya apakah layak dikonsumsi atau tidak," ujarnya.

Sterilisasi Tempat Makan

Ketiga, Dadan mewajibkan setiap dapur MBG memiliki alat untuk sterilisasi food tray atau tempat makanan MBG tadi. Mengingat, jumlah food tray yang banyak dan digunakan oleh banyak orang.

Dadan menegaskan, langkah sterilisasi harus dilakukan untuk memastikan foodtray lebih bersih, bahkan setelah dicuci sekalipun.

"Jadi ketika selesai digunakan mereka harus cuci dan kemudian disterilisasi dengan mekanisme penguapan udara panas dan dipanaskan dengan suhu 120 derajat selama 3 menit agar food tray itu kembali steril," kata dia.

Kualitas Air

Tidak ketinggalan, Dadan meminta seluruh Dapur MBG memasak dengan air berkualitas baik. Dia mewajibkan proses masak menggunakan air siap konsumsi atau air matang.

"Kemudian yang penting juga kualitas air dalam memasak ini penting, baik untuk masak maupun mencuci," kata dia.

"Karena di seluruh Indonesia ini kualitasnya berbeda-beda, sehingga kita memberikan instruksi agar mereka menggunakan air yang sudah tersertifikasi, baik itu air dalam kemasan maupun air isi ulang dengan peralatan-peralatan yang sudah tersertifikasi," jelas Dadan.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |