Harga Emas Dunia Tembus US$ 4.100 Usai Keputusan The Fed

21 hours ago 16

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia berbalik menguat pada perdagangan Rabu setelah sempat tertekan pada awal sesi. Harga emas melonjak sekitar 2% setelah bank sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga acuannya.

Keputusan The Fed tersebut mendorong pelemahan dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau Treasury. Pelaku pasar juga mencermati pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh untuk mencari petunjuk mengenai arah kebijakan moneter selanjutnya.

Mengutip CNBC, (Kamis (30/7/2026), harga emas di pasar spot naik 1,9% menjadi US$ 4.101,99 per ounce. Sebelumnya, harga emas sempat menyentuh US$ 4.116,26 per ounce, level tertinggi sejak 23 Juli.

Sementara itu, harga emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus ditutup melemah sekitar 0,1% ke posisi US$ 4.036,30 per ounce.

The Fed mempertahankan suku bunga acuannya. Keputusan tersebut berpotensi memunculkan lebih banyak pertanyaan mengenai langkah Warsh untuk memenuhi komitmennya membawa inflasi AS kembali ke target 2%.

Dolar AS melemah terhadap euro setelah keputusan suku bunga diumumkan. Pelemahan dolar membuat emas menjadi lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang lainnya.

Pada saat bersamaan, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun memangkas kenaikan yang sempat terjadi sebelumnya. Kondisi tersebut turut memberikan dukungan terhadap pergerakan harga emas.

Pasar Cermati Pernyataan Kevin Warsh

Pedagang logam independen Tai Wong mengatakan logam mulia memimpin penguatan sejumlah aset meski pernyataan Warsh secara keseluruhan cenderung hawkish.

"Ini terasa seperti reli kelegaan setelah The Fed mempertahankan suku bunga. Tidak jelas berapa lama kondisi ini akan bertahan," kata Wong.

"Cara Warsh menyampaikan pernyataannya cukup canggih dan kompleks, sehingga pasar mungkin mengubah pandangannya setelah mencermatinya lebih dalam," lanjut dia.

Warsh menegaskan bank sentral AS tidak memiliki "target lunak" inflasi yang lebih tinggi. The Fed tetap bertekad mencapai target inflasi jangka panjang sebesar 2%, meskipun memilih mempertahankan suku bunga di tengah tingkat inflasi yang masih tinggi.

Menurut Wong, kekhawatiran terhadap inflasi juga memberikan dukungan bagi harga emas, mengingat logam mulia secara tradisional dipandang sebagai aset lindung nilai terhadap kenaikan harga.

"Obligasi jangka panjang mengalami kepanikan dan menyeret saham turun menjelang penutupan. Kekhawatiran terhadap inflasi membantu emas mencatat kinerja lebih baik," ujar Wong.

Setelah keputusan The Fed, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga pada September ikut berubah.

Berdasarkan FedWatch Tool milik CME Group, pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada September sebesar 64%. Angka tersebut turun dibandingkan sekitar 81% sebelum pernyataan kebijakan The Fed dirilis.

Investor Tunggu Data Inflasi AS

Perhatian investor selanjutnya tertuju pada data Personal Consumption Expenditures (PCE) AS periode Juni yang dijadwalkan dirilis pada Kamis. Data tersebut akan menjadi salah satu petunjuk penting bagi pasar untuk membaca arah kebijakan moneter The Fed.

PCE menjadi salah satu indikator inflasi yang diperhatikan The Fed dalam menentukan kebijakan suku bunga. Data inflasi terbaru akan membantu pasar menilai apakah tekanan harga masih cukup kuat untuk mendorong kenaikan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang.

Selain The Fed, pasar juga mencermati kebijakan bank sentral utama lainnya. Bank of England (BoE) dan Bank of Japan (BoJ) secara luas diperkirakan mempertahankan suku bunga pada pekan ini.

Kedua bank sentral tersebut juga diperkirakan memberikan perhatian terhadap meningkatnya tekanan inflasi akibat perang di Timur Tengah.

Di pasar logam mulia lainnya, harga perak di pasar spot melonjak 3,2% menjadi US$ 58,96 per ounce.

Harga platinum menguat 1,9% menjadi US$ 1.636,10 per ounce, sedangkan palladium naik 1% ke posisi US$ 1.281,75 per ounce.

Penguatan sejumlah logam mulia terjadi ketika pasar menimbang prospek inflasi, arah suku bunga, serta dampak ketegangan geopolitik terhadap perekonomian global.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |