Harga Plastik Melonjak, Pemerintah Amankan Pasokan Nafta dari India hingga AS

6 hours ago 28

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah bergerak cepat merespons lonjakan harga plastik di dalam negeri dengan mengamankan pasokan bahan baku dari berbagai negara. Langkah ini diambil di tengah terganggunya suplai nafta dari kawasan Timur Tengah akibat eskalasi geopolitik.

Menteri UMKM, Maman Abdurrahman, menyampaikan Indonesia telah mendapatkan komitmen pasokan nafta—bahan baku utama plastik—dari India, Afrika, dan Amerika Serikat.

“Sekarang ini kita sudah dapat dari Afrika, India dan Amerika. Sekarang lagi proses administrasi,” kata Maman dikutip dari Antara, Kamis (9/4/2026). 

Ia menambahkan, Kementerian Perdagangan tengah menindaklanjuti proses pengadaan tersebut agar kebutuhan industri tetap terpenuhi.

“Kementerian Perdagangan sedang melakukan tindak lanjut untuk mengambil pasokan nafta dari Afrika, India dan Amerika,” ujarnya.

Langkah ini merupakan strategi jangka pendek pemerintah untuk menjaga stabilitas industri plastik nasional yang saat ini menghadapi tekanan akibat lonjakan harga bahan baku global.

Strategi Jangka Panjang

Selain mengamankan pasokan, pemerintah juga menyiapkan strategi jangka panjang untuk menekan harga plastik, salah satunya melalui diversifikasi bahan baku.

Maman menjelaskan, pemerintah mulai mendorong pemanfaatan biomaterial seperti rumput laut dan singkong sebagai alternatif bahan baku plastik.

Menurutnya, rumput laut telah diteliti sebagai bahan baku kantong plastik ramah lingkungan, meski saat ini biaya produksinya masih relatif tinggi.

Pemerintah juga berencana menggandeng pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) yang telah mengembangkan plastik berbasis rumput laut.

Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas produksi sekaligus menekan biaya melalui skala industri yang lebih besar.

Jika substitusi bahan baku ini berhasil dikembangkan, maka biaya operasional industri plastik berpotensi turun secara signifikan.

Dipicu Konflik Timur Tengah

Lonjakan harga plastik di dalam negeri dilaporkan mencapai 30 hingga 80 persen dalam beberapa waktu terakhir. Kenaikan ini dipicu konflik di Timur Tengah yang berdampak pada distribusi nafta sebagai turunan minyak bumi.

Selain itu, kenaikan harga minyak global juga turut mendorong biaya produksi plastik.

Data dari Independent Commodity Intelligence Services (ICIS) menunjukkan ekspor nafta dari Timur Tengah mencapai jutaan ton per tahun.

Arab Saudi menjadi salah satu pemasok utama dengan ekspor sekitar 3,6 juta ton per tahun, disusul Oman sekitar 2,7 juta ton per tahun. Bahkan, hampir 4 juta ton nafta melewati Selat Hormuz menuju Asia setiap bulan.

Gangguan di jalur tersebut membuat pasokan global terganggu dan berdampak langsung pada harga plastik di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Pemerintah berharap kombinasi strategi jangka pendek dan jangka panjang dapat menjaga stabilitas harga plastik sekaligus memperkuat ketahanan industri nasional.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |