Mengenal Kevin Warsh, Ketua The Fed Terpilih oleh Senat AS

12 hours ago 19

Liputan6.com, Jakarta - Senat Amerika Serikat (AS) pada Rabu, 13 Mei 2026 mengukuhkan Kevin Warsh untuk memimpin The Federal Reserve (the Fed) atau bank sentral AS. Presiden AS Donald Trump telah memilih mantan gubernur tersebut untuk menggantikan Jerome Powell. Ia percaya Warsh dapat mewujudan pertumbuhan ekonomi yang telah dijanjikan presiden kepada pemilih.

Mengutip laman AP, ditulis Jumat, (15/5/2026), Warsh mengambil alih bank sentral yang yang terpecah belah dan bergulat dengan dampak ekonomi dari perang yang dimulai oleh Amerika Serikat dan Israel dengan Iran pada 28 Februari 2026.

Konflik itu telah mendorong kenaikan harga eneri dan semakin mempersulit the Fed untuk menurunkan inflasi ke target 2%. Demikian mengutip AP.

Namun, Trump menuntut suku bunga yang lebih rendah, bukan yang lebih tinggi yang mungkin diperlukan untuk mengendalikan inflasi. Warsh, yang sebelumnya memposisikan dirinya sebagai pendukung kebijakan anti-inflasi yang ketat, baru-baru ini menyelaraskan dirinya dengan pandangan Trump. Ia menilai, kecerdasan buatan dan teknologi lainnya dapat meningkatkan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi tanpa memicu inflasi.

Trump konsisten menyerang Powell karena menolak pemotongan suku bunga yang signifikan yang diyakini presiden akan mendorong perekonomian. Departemen Kehakiman telah meluncurkan penyelidikan terhadap Fed yang secara luas dianggap sebagai upaya untuk menggulingkan Powell. Drama hukum tersebut menunda pengesahan Warsh.

Senator Thom Tillis, seorang Republikan dari Carolina Utara, mengatakan akan menentang Warsh sampai Departemen Kehakiman menghentikan penyelidikan, yang akhirnya dilakukan bulan lalu.

Ciri Khas Kevin Warsh

Dalam langkah yang tidak biasa, Powell mengatakan dia akan tetap berada di dewan pengawas Fed tanpa batas waktu setelah Warsh menjabat sebagai ketua, dengan alasan serangan Trump yang "belum pernah terjadi sebelumnya" terhadap independensi bank sentral. Meskipun masa jabatan Powell sebagai ketua akan berakhir, masa jabatannya sebagai gubernur Fed baru akan berakhir pada tahun 2028.

Kehadiran Powell yang berkelanjutan dapat membuat keadaan menjadi canggung bagi Warsh, terutama jika ia mencoba meyakinkan pejabat Fed lainnya untuk menyetujui pemotongan suku bunga.

Trump mengatakan, Warsh berasal dari "pilihan yang ideal," yang mengungkapkan banyak hal tentang pandangan presiden sendiri tentang penampilan dan latar belakang konvensional pria berusia 56 tahun itu.

Warsh memiliki banyak ciri khas pilihan tradisional untuk memimpin bank sentral terpenting di dunia, namun ia melakukannya pada saat yang sangat tidak konvensional bagi Fed karena Trump mengatakan ketua baru perlu memotong suku bunga acuan sesuai keinginan Gedung Putih.

Pemotongan suku bunga sebesar yang diinginkan Trump dapat meningkatkan pertumbuhan untuk sementara waktu, tetapi juga menimbulkan risiko pemanasan ekonomi. Saat ini inflasi sudah tinggi dan keterjangkauan menjadi perhatian utama bagi sebagian besar masyarakat Amerika Serukat.

Mengecam Kevin Warsh

Warsh sebelumnya menjadi kandidat kedua untuk jabatan Ketua Fed yang disetujui Senat pada 2017, ketika Trump memilih Powell untuk memimpin bank sentral. Trump kemudian mengatakan bahwa ia diberi nasihat yang buruk mengenai Powell.

Warsh memiliki gelar dari Universitas Stanford dan Sekolah Hukum Universitas Harvard. Ia juga menikah dengan Jane Lauder, putri dari pewaris perusahaan kosmetik miliarder Ronald Lauder, seorang donor utama Partai Republik.

Demokrat Senat telah mengecam Warsh karena tidak sepenuhnya mengungkapkan detail kekayaannya sendiri, yang berjumlah setidaknya USD 100 juta atau Rp 1,75 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.550). Investasinya termasuk saham di Polymarket dan SpaceX, tetapi ia belum mengungkapkan besarnya kepemilikan tersebut. Ia berjanji untuk menjual semua aset tersebut dalam waktu 90 hari setelah dilantik.

Anggota The Fed Termuda

Pada usia 35 tahun, Warsh menjadi gubernur termuda di dewan tujuh anggota Fed, menjabat posisi tersebut dari 2006 hingga 2011. Sebelumnya, ia adalah asisten ekonomi di pemerintahan Republik George W. Bush dan seorang bankir investasi di Morgan Stanley.

Warsh bekerja sama erat dengan Ketua saat itu, Ben Bernanke, pada 2008-2009 selama upaya bank sentral untuk mengatasi krisis keuangan dan Resesi Besar. Bernanke kemudian menulis dalam memoarnya bahwa Warsh adalah "salah satu penasihat dan orang kepercayaan terdekat saya" dan menambahkan bahwa "kecerdasan politik dan pasar serta banyak kontaknya di Wall Street akan terbukti sangat berharga."

Namun demikian, Warsh tampak keliru pada momen-momen penting mengenai kedalaman tantangan yang dihadapi ekonomi AS ketika gagal bayar hipotek dan PHK meningkat selama Resesi Besar. Ia ingin Fed mempertahankan suku bunga acuannya lebih tinggi ketika ekonomi berisiko mengalami deflasi dan kemungkinan runtuh.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |