Harga Emas Melonjak Usai Turun Tajam

2 hours ago 4

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia berbalik menguat pada perdagangan Kamis (Jumat waktu Jakarta) setelah data inflasi Amerika Serikat (AS) dirilis sesuai dengan ekspektasi pasar. Kondisi tersebut meredakan sebagian kekhawatiran investor terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga agresif oleh bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed), sekaligus mendorong pelemahan dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Dikutip dari CNBC, Jumat (26/6/2026), harga emas di pasar spot naik 0,7% menjadi US$ 4.029,09 per ons setelah sebelumnya sempat melemah hingga 1% pada awal perdagangan. Sementara itu, harga emas AS menguat 0,9% menjadi US$ 4.045,20 per ons.

Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures, David Meger, mengatakan data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) yang dirilis sesuai dengan perkiraan menjadi salah satu faktor yang menopang pergerakan harga emas.

"Data PCE secara umum sesuai dengan ekspektasi pasar. Hal itulah yang membuat pergerakan harga emas hari ini relatif stabil," ujar Meger.

Berdasarkan data pemerintah AS, indeks harga PCE meningkat 4,1% secara tahunan hingga Mei 2026. Angka tersebut menjadi kenaikan tertinggi sekaligus pertama kalinya inflasi PCE kembali berada di atas level 4% sejak April 2023. Hasil tersebut juga sejalan dengan proyeksi para ekonom yang disurvei Reuters.

Setelah data inflasi diumumkan, indeks dolar AS berbalik melemah sehingga membuat emas yang diperdagangkan dalam dolar menjadi lebih murah bagi pembeli dari luar negeri. Imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) juga mengalami penurunan.

Meski demikian, pelaku pasar masih memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Desember mendatang cukup besar. Berdasarkan CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga pada Desember berada di kisaran 80%, turun dari 85% sebelum data inflasi dirilis. Namun angka tersebut masih lebih tinggi dibandingkan 61% sebelum rapat kebijakan The Fed pekan lalu.

Menurut Meger, perhatian investor ke depan masih akan tertuju pada perkembangan inflasi yang akan menjadi faktor utama dalam menentukan arah kebijakan moneter The Fed.

"Fokus utama pasar tetap pada tekanan inflasi ke depan. Itulah salah satu alasan mengapa harga emas mengalami pelemahan dalam beberapa sesi terakhir," katanya.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |