Bos Superbank Sebut AI Tak akan Gantikan Manusia

8 hours ago 10

Liputan6.com, Jakarta - Direktur Keuangan Superbank, Melisa Hendrawati menyebut kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) tidak akan menggantikan manusia. AI baginya adalah sebuah alat untuk mempermudah pekerjaan.

Dia mengisahkan perkembangan teknologi digital membawa kehadiran AI di berbagai aspek. Tak dapat dipungkirinya kalau AI menjadi bagian dari berbagai aktivitas, baik di ranah akademik, hingga pasar modal.

"Siapa yang gak pake AI? Gak ada, ya kan? So AI itu, tapi you know aside from all this usage of AI, saya sering kok survei baik di UI maupun di other university semua pakai," ucap Melisa dalam International Capital Market Seminar 2026, di FEB Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Jumat (6/2/2026).

Menurutnya, ada dua poros ekstrem yang memandang kehadiran ekstrem. Pertama, terlalu optimistis, dan kedua, terlalu khawatir. Padahal, AI berfungsi sebagai salah satu alat yang mampu membantu pekerjaan yang dijalankan manusia.

"AI is a tool. Di pasar modal, AI membantu analisa data, risk management, efisiensi dari proses," ujarnya.

Dia menegaskan kalau AI tak akan menggantikan manusia. Karena pada akhirnya yang mengambil keputusan adalah manusia yang menjalankan pekerjaannya.

"But the value of innovation still comes from human. Human judgement, from our ethics, from our accountability. So AI again is a tool, is not a human replacement," tegas dia.

Peran Penting AI di Industri Kreatif

Sebelumnya, CEO Vidio Sutanto Hartono mengajak mahasiswa menguasai Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) dan seni berkomunikasi. Dua hal ini menjadi modal memasuki dunia kerja saat ini. Dua kemampuan yang menjadi dasar untuk menjadi seorang profesional.

Pesan ini disampaikan Sutanto saat berbicara di depan peserta Vidio Goes To Campus bertajuk ‘Fight Beyond; The Future of Media Industri in OTT and Onside Pertarungan The Series’, di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Senin (1/12/2025).

“Saat ini industri content creator menyediakan kesempatan yang terbuka luas, yang di masa lalu tidak ada. Industri ini membutuhkan orang-orang yang mempunyai bakat dan passion yang berbeda-beda. Ini dibutuhkan untuk membangun hubungan langsung antara pengguna dengan penyedia platform digital,” jelas Sutanto.

Harus Paham AI

Sutanto memaparkan, di industri ini salah satu yang paling penting adalah kemampuan dalam penggunaan AI. Sekarang ini banyak perusahaan yang begitu agresif dalam penggunaan AI.

“Setidaknya teman-teman di sini harus memaksakan diri untuk lebih memahami AI itu seperti apa. Contoh paling mudah pakai Chat GPT atau Gemini untuk segala sesuatu yang ingin dipelajari,” jelasnya.

Sutanto memberi bocoran. Kata kuncinya adalah hal terpenting untuk mendapatkan hasil yang bagus dalam proses AI. Sutanto berbagi kisah inspiratif perjalanan karirnya. Sebagai lulusan kimia, Sutanto kini memimpin perusahaan yang bergerak di bidang industri kreatif.

“Fokuskan kekuatan kalian pada kemampuan unggul yang kalian miliki. Namun dari semua itu yang terpenting adalah jago berkomunikasi. Melalui story telling akan dituntut bagaimana menjelaskan logika yang dijalankan,” katanya.

Konten Lokal Tinggi Peminat

Pada kesempatan tersebut, Managing Director Emtek ini memberi gambaran konten lokal berbahasa Indonesia masih tinggi peminat. Saluran televisi masih ditonton lebih dari 62 persen dari 280 penduduk Indonesia.

Seperti presentasi berjudul 'Winning the Digital Leadership: Vidio's Local Formula to Compete with Global Giants'.

"Hal ini dikarenakan televisi mampu menjangkau 17.000 pulau. Ini berbeda dengan jangkauan data internet yang tidak merata dan masih mahal," jelasnya.

Sebagai praktisi media, Sutanto mengatakan saat ini ada beberapa pilar strategi yang harus dipenuhi untuk menjangkau audiens lebih luas.

Pertama, memperkuat isi siaran televisi dan berkreasi dengan acara yang tinggi ratingnya. Kedua menyajikan berbagai peristiwa olahraga langsung. Ketiga, menghadirkan keberagaman konten-konten lokal, dan perkembangan teknologi.

"Sebagai data kenapa konten lokal masih diminati. Sepanjang 2025 ini, tiket untuk film Indonesia telah menembus 80 juta lembar yang terjual. Angka ini sebesar 60 persen dari total tiket terjual. Ini bukti film nasional masih sangat dinanti," paparnya.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |