Kementerian ESDM Buka Potensi DMO Batu Bara di Atas 30%

12 hours ago 11

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tidak menutup kemungkinan kewajiban penyerapan dalam negeri, alias Domestic Market Obligation (DMO) untuk komoditas baru bara bakal naik pada 2026 ini.

Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengatakan, kenaikan DMO batu bara dilakukan untuk melindungi kepentingan industri di dalam negeri, termasuk untuk kebutuhan pasokan pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) milik PT PLN (Persero).

Oleh karenanya, ia buka potensi jika kewajiban DMO batu bara tahun ini bisa melampaui porsi 30 persen, sesuai dengan usulan yang dilayangkan DPR RI.

"Ya kita perhatikan (usul DPR), kita hitung terlebih dahulu. Range-nya mungkin bisa lebih dari 30 persen," ujar Yuliot saat ditemui di kantornya, Jakarta, Jumat (6/2/2026).

Adapun untuk produksi batu bara, Kementerian ESDM memproyeksikan total yang bakal tercantum dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 bakal melebihi 600 juta ton. Jumlah itu lebih rendah dari realisasi produksi batu bara 2025 di kisaran 800 juta ton.

Berkaca pada tahun lalu, Yuliot menyebut total produksi batu bara yang disetujui dalam RKAB 2025 sebesar 1,2 miliar ton. Namun, realisasinya berada jauh dari angka tersebut.

"Jadi dampaknya kelebihan RKAB itu kan juga harga turun sangat signifikan," tegas dia.

Imbas Harga Batu Bara Anjlok

Imbas anjloknya harga batu bara, Kementerian ESDM lantas melakukan evaluasi dan penghitungan soal kebutuhan di dalam negeri, terutama untuk energi primer.

"Jadi berdasarkan perhitungan dari Dirjen Minerba dan juga ini berdasarkan permintaan dari PLN, dan juga industri dalam negeri, jadi perkiraan sekitar lebih dari 600 juta ton per tahun. Kondisinya seperti itu," imbuh dia.

Kendati begitu, Yuliot membuka peluang bagi badan usaha untuk mengusulkan perubahan RKAB. Revisi tersebut bakal dipertimbangkan pemerintah jika memang ada peningkatan permintaan.

"Prinsipnya, sumber daya yang kita miliki harus berkelanjutan. Ini kan bukan untuk kebutuhan hari ini saja, tapi kita harus mewariskan kepada anak cucu kita ke depan," tegas Yuliot.

Bos Danantara: 6 Proyek Hilirisasi Bakal Dimulai Pekan Ini

Chief Executive Officer (CEO) Danantara, Rosan Perkasa Roeslani mengungkap rencana dimulainya enam proyek hilirisasi. Enam proyek tersebut akan melakukan groundbreaking pada 6 Februari 2026, pekan ini. 6 proyek itu termasuk dalam proyek yang dikaji oleh Danantara. Ini menjadi tahap awal dari 18 proyek hilirisasi yang dikaji oleh Danantara.

"6 proyek hiliriisasi akan groundbreaking tanggal 6 Februari," ungkap Rosan, di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (3/2/2026).

Dalam Rapat Kerja dengan Komisi XII DPR, Rosan memaparkan kalau sejumlah proyek hilirisasi sudah masuk tahap financial closing. 

"Nanti di bulan Februari ini, kami juga dari 18 proyek hilirisasi ini ada 6 proyek hilirisasi yang akan dimulai, yang groundbreaking itu diantaranya bauksit di Kalimantan Barat, di Mempawah," ucapnya.

Dia bilang, nilai proyek hilirisasi bauksit seperti smelter alumina menjadi salah satu yang sudah mencapai financial closing dengan nilai USD 3 miliar. "Jadi financial closing sudah berjalan terus dan salah satunya juga adalah mengenai KPI atau output yang memang kami selalu kawal ke depannya agar apa yang sudah kita canangkan ini bisa berjalan dengan dengan baik," bebernya.

6 Proyek Hilirisasi

Sebelumnya, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) segera memulai proyek hilirisasi pada Februari 2026, bulan depan. Lantas, proyek di sektor apa saja yang akan dimulai lebih dahulu?

Rosan Roeslani pernah mengungkapkan beberapa sektor hilirisasi yang akan dimulai. Ada hilirisasi bauksit, aluminium, hingga proyek kilang pemurnian (refinery).

"Itu ada bauksit, aluminium di Balikpapan, kemudian ada bioavtur, kemudian ada refinery juga. Kemudian ada unggas di lima tempat," ungkap Rosan, ditemui di Menara Global, Jakarta, Rabu, 14 Januari 2026.

Dia memberikan bocoran kalau proyek gasifikasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME) sebagai pengganti Liquified Petroleum Gas (LPG) juga akan dijalankan.

Soal teknologi yang akan dipilih nantinya, Rosan menyebut hal itu sudah masuk kajian oleh Chief Technology Officer (CTO) Danantara.

"Kalau enggak salah (DME) itu Februari. Kalau teknologinya kita dianaliasa oleh Chief Technology Officer kita pak Sigit. Jadi kita baru mau meetingin sih hari ini," ujarnya.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |