China dan Jepang Lepas Obligasi Pemerintah AS Imbas Perang Iran

1 day ago 23

Liputan6.com, Jakarta - China dan Jepang mengurangi kepemilikan obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) pada Maret 2026. Hal ini karena perang di Timur Tengah mendorong bank sentral melikuidasi cadangan dolar AS. Selain itu, melindungi mata uang domestik dari guncangan biaya energi yang menyebabkan nilai tukar melemah.

Mengutip CNBC, Selasa (19/5/2026), China mengurangi kepemilikan menjadi USD 652,3 miliar atau Rp 11.577 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.750). Kepemilikan itu turun sekitar 6% dari Februari ke level terendah sejak September 2008, menurut data Departemen Keuangan AS, yang dirilis Senin malam di Amerika Serikat.

Selain itu, Jepang, pemegang obligasi pemerintah AS terbesar di luar negeri mengurangi kepemilikan sekitar USD 47 miliar menjadi USD 1,191 triliun. Secara keseluruhan, kepemilikan asing turun menjadi USD 9,25 triliun pada Maret dari USD 9,49 triliun pada Februari.

Mengutip CNBC, penjualan besar-besaran terjadi karena pecahnya konflik AS-Iran dan lonjakan harga minyak yang terjadi kemudian menyebabkan yen Jepang dan mata uang Asia lainnya melemah.

Ekonomi regional yang bergantung pada impor minyak Teluk, termasuk Jepang, menghadapi guncangan energi terbesar dalam beberapa dekade, mendorong pembuat kebijakan untuk menjual sebagian aset mereka yang didedominasi dolar AS untuk mendanai intervensi mata uang.

“Mengingat meningkatnya volatilitas keuangan sejak dimulainya perang di Teluk dan tekanan yang dihasilkan pada nilai tukar, terutama di Asia, tidak mengherankan jika kepemilikan obligasi pemerintah AS oleh bank sentral telah menurun,” ujar Ekonom HSBC, Frederic Neumann.

“Intervensi pasar valuta asing untuk mendukung mata uang lokal telah menyebabkan beberapa bank sentral menjual sebagian kepemilikan obligasi pemerintah AS mereka,” ia menambahkan.

Data April yang akan dirilis bulan depan, mungkin menunjukkan seberapa jauh bank sentral bersedia bertindak untuk menstabilkan mata uang mereka.

Para pembuat kebijakan juga cenderung menyesuaikan kembali portofolio selama periode tekanan pasar. Hal ini sejumlah penjualan mencerminkan kekhawatiran taktis tentang meningkatnya inflasi dan penurunan nilai obligasi. “Sebuah langkah menuju aset seperti uang tunai untuk memastikan likuiditas jika dibutuhkan intervensi meningkat,” kata Neumann.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |