Defisit APBN Menyusut, Purbaya Soroti Hitungan Analis

1 day ago 25

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap terjaga. Ia menyoroti penurunan defisit APBN hingga akhir April 2026 yang turun dari 0,93% atau Rp 240,1 triliun pada Maret menjadi 0,64% atau Rp 164,4 triliun.

Purbaya menuturkan, bila menggunakan metode perhitungan yang selama ini dipakai para analis dalam memproyeksikan defisit APBN 2026 di atas 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), angka defisit saat ini justru mengindikasikan posisi yang jauh lebih rendah, yakni sekitar 1,8% terhadap PDB pada akhir tahun.

"Jadi kalau pakai hitung-hitungan yang sama dengan analis 0,6% itu 4 bulan, kalau satu tahun 1,8%. Itu hitung-hitungan mereka, tapi enggak begitu. Itu hitungan ajaib," ujar Purbaya dalam Konferensi Pers APBN Kita, Selasa (19/5/2026).

Selain defisit yang menurun, Purbaya juga menyampaikan keseimbangan primer mencatat surplus sebesar Rp 28 triliun dan diyakini akan terus membaik ke depan.

Sebelumnya, Purbaya Yudhi Sadewa membantah anggapan yang menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 hanya ditopang oleh belanja pemerintah. Dia menuturkan, perhitungan tersebut keliru karena kontribusi terbesar justru berasal dari konsumsi masyarakat dan investasi.

“Jadi kita pertumbuhan di Q1 2026 5,61. Analis bilang bahaya karena tumbuhnya didukung oleh belanja pemerintah aja. Saya sudah bilang di satu tv, itungnya ga begitu, kalau 5,61 berasal dari mana, anda kalikan pertumbuhan kali pangsanya,” ujar Purbaya dalam Konferensi Pers APBN Kita, Selasa, 19 Mei 2026.

Ia merinci, kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi berasal dari belanja masyarakat sebesar 2,9%, investasi sebesar 1,7%, dan sekitar 1,3% dari belanja pemerintah. Dengan komposisi tersebut, menurutnya, tudingan bahwa pertumbuhan hanya ditopang pemerintah tidak berdasar.

“Jadi ketika ada yang bilang oh bahaya karena pertumbuhan hanya didukung belanja pemerintah, ternyata salah bacanya,” tutur Purbaya.

Purbaya menambahkan, pertumbuhan konsumsi masyarakat yang mencapai sekitar 5,5% juga menjadi indikator bahwa daya beli masyarakat tetap terjaga dan masih menjadi pondasi utama ekonomi nasional.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |