Ekonomi Global Bergejolak, Ini Strategi Bertahan untuk Masyarakat

7 hours ago 10

Liputan6.com, Jakarta - Gejolak ekonomi global yang kian dinamis menuntut respons cepat dan tepat sasaran dari seluruh lapisan elemen bangsa. Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM), Eddy Junarsin, mengingatkan bahwa kondisi saat ini berada dalam situasi yang tidak biasa, sehingga memerlukan sinergi kuat antara kebijakan pemerintah yang taktis dan sikap masyarakat yang adaptif.

Eddy mengingatkan bahwa kondisi ekonomi global saat ini sedang berada dalam situasi luar biasa. Fenomena ini memerlukan respons yang sederhana namun tepat sasaran, baik dari sisi pemerintah maupun masyarakat.

Dalam menghadapi ketidakpastian ini, Eddy menilai pemerintah harus memprioritaskan kebijakan yang menyentuh langsung kebutuhan dasar. Selain itu, bantuan bagi masyarakat yang terdampak pemutusan hubungan kerja (PHK) menjadi krusial.

“Pemerintah perlu memberikan edukasi ekonomi politik kepada masyarakat, sekaligus menyosialisasikan kebijakan untuk melewati masa sulit ini. Kebijakan sebaiknya diarahkan pada aspek survival dan intermediate ranges, seperti ketersediaan pangan, tempat tinggal, energi, dan akses pendidikan,” ujar Eddy kepada Liputan6.com, Selasa (31/3/2026).

Ia juga menambahkan bahwa sektor lapangan kerja yang terpangkas harus segera diintervensi. “Pemerintah perlu membantu melalui bantuan pengangguran sementara serta penyaluran tenaga kerja ke daerah atau industri yang masih memungkinkan untuk menyerap pegawai,” lanjutnya.

Tak Boleh Pasif

Di sisi lain, Eddy menekankan bahwa masyarakat tidak boleh pasif menunggu kondisi membaik. Penyesuaian diri terhadap situasi baru sangat diperlukan agar tetap bertahan.

“Masyarakat perlu menyadari bahwa ini adalah situasi luar biasa yang membutuhkan persatuan dan kolaborasi. Kita harus dinamis, bukan statis. Cobalah berbagai ide pekerjaan atau usaha baru dan tetap fokus pada solusi. Kurangi perdebatan atau pertikaian personal yang tidak relevan,” tegas Eddy.

Menurutnya, langkah-langkah seperti mencari peluang usaha baru, memperkuat kolaborasi, dan berfokus pada pemecahan masalah adalah cara paling efektif bagi masyarakat untuk menghadapi tekanan ekonomi yang masih berlangsung.

Menkeu Purbaya: Ekonomi Indonesia Masih Akselerasi, Jauh dari Krisis

Sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa kondisi perekonomian Indonesia saat ini masih dalam fase ekspansi dan belum menunjukkan tanda-tanda krisis, meski di tengah tekanan global.

Ia menilai daya beli masyarakat tetap kuat, terlihat dari tingginya aktivitas konsumsi selama periode Lebaran yang mencerminkan perputaran ekonomi masih berjalan baik. Selain itu, berbagai indikator ekonomi juga menunjukkan tren positif yang menandakan laju pertumbuhan masih terjaga.

"Siapa yang bilang krisis? Baru Lebaran kemarin kan? Di mana-mana macet. Di semua tempat pada belanja. Artinya daya beli ada dan kalau kita lihat, dari indikator-indikator yang ada, kita memang sedang bergerak lebih cepat,” ujar Purbaya di Kantornya, Jumat (27/3/2026).

Purbaya menjelaskan, pemerintah mampu meredam dampak kenaikan harga minyak dunia melalui kebijakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), sehingga tekanan eksternal tidak secara langsung membebani masyarakat. Ia juga menyebut proyeksi ekonomi ke depan masih menunjukkan tren ekspansi hingga beberapa tahun mendatang.

"Jadi kita jauh dari krisis, kita malah ekspansi terus. Kalau bola kristal yang saya bilang, leading economic index kita nggak salah, sampai nanti 2029-2030 kita ekspansi terus,” tutur Purbaya.

Perbaikan Iklim Usaha

Terkait target pertumbuhan ekonomi sekitar 5,7 persen, ia menegaskan bahwa angka tersebut didasarkan pada data, seperti survei konsumen, PMI, hingga penjualan kendaraan yang menunjukkan peningkatan.

Menurutnya, pemerintah juga telah memastikan likuiditas dalam sistem perekonomian tetap terjaga, belanja negara dilakukan tepat waktu, serta iklim usaha terus diperbaiki untuk mendorong aktivitas ekonomi.

Ia menambahkan, kombinasi kebijakan fiskal dan moneter yang berjalan saat ini menjadi mesin penggerak utama pertumbuhan ekonomi. Dengan kondisi tersebut, ia meyakini Indonesia tidak berada di jalur menuju resesi, melainkan masih dalam fase percepatan.

"Jadi hampir pasti kita tidak menuju resesi apalagi krisis,” lanjutnya.

Purbaya juga menanggapi sejumlah pandangan yang memprediksi kondisi ekonomi Indonesia akan memburuk dalam waktu dekat. Ia menegaskan bahwa pemerintah saat ini memiliki kendali dan langkah kebijakan untuk menjaga stabilitas serta mendorong pertumbuhan ekonomi ke depan. 

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |