Harga Emas Dunia Naik ke US$ 4.087, Perhatian Investor Tertuju pada The Fed

5 hours ago 9

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia menguat pada perdagangan Senin setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran menghentikan sementara serangan. Perkembangan ini membuat harga minyak mentah turun ke level terendah dalam sepekan, sekaligus meredakan kekhawatiran terhadap inflasi. Investor kini mengalihkan perhatian pada keputusan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) pekan ini.

Mengutip CNBC, Selasa (28/7/2026), harga emas di pasar spot naik 0,9% menjadi US$ 4.087,59 per ounce. Sementara itu, harga emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus menguat 0,5% ke posisi US$ 4.090 per ounce.

Penguatan emas juga ditopang pelemahan dolar AS. Indeks dolar AS turun 0,1%, sehingga emas yang dihargai menggunakan mata uang tersebut menjadi lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.

“Terutama yang kita lihat adalah pasar minyak turun dari lebih dari US$ 100 pekan lalu menjadi US$ 90, dan hal itu mendorong prospek suku bunga lebih rendah,” kata Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities, Bart Melek.

Harga minyak turun sekitar 6% hingga menyentuh level terendah dalam sepekan. Pelemahan terjadi setelah AS dan Iran menghentikan sementara serangan pada akhir pekan, menyusul aksi saling serang yang berlangsung selama dua pekan.

Perkembangan tersebut memunculkan harapan adanya penyelesaian diplomatik yang dapat meredakan konflik sekaligus membuka kembali jalur pelayaran melalui Selat Hormuz.

Harga Minyak Turun, Kekhawatiran Inflasi Mereda

Penurunan harga energi turut meredakan kekhawatiran pasar terhadap inflasi. Kondisi tersebut juga mengurangi ekspektasi bahwa suku bunga AS harus bertahan tinggi dalam waktu lebih lama.

Emas selama ini dipandang sebagai salah satu instrumen lindung nilai terhadap inflasi. Namun, suku bunga tinggi umumnya menjadi tekanan bagi harga emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil berupa bunga.

Perhatian investor kini tertuju pada keputusan suku bunga The Fed pada Rabu. Berdasarkan data CME FedWatch, sekitar 66% pelaku pasar memperkirakan bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga.

Meski demikian, pasar melihat peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan berikutnya. Pelaku pasar memperkirakan probabilitas sekitar 79% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada September.

Investor juga menantikan data personal consumption expenditures (PCE) AS periode Juni yang dijadwalkan dirilis pada Kamis. Data tersebut menjadi salah satu indikator inflasi utama yang digunakan The Fed dalam menentukan arah kebijakan moneternya.

Pergerakan data inflasi akan menjadi perhatian pasar karena dapat memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai prospek suku bunga AS setelah pertemuan The Fed pekan ini.

Impor Emas China Melonjak

Dari Asia, permintaan emas China turut menjadi perhatian pasar. Impor bersih emas China melalui Hong Kong tercatat meningkat lebih dari dua kali lipat pada Juni dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Namun, secara bulanan, impor emas tersebut turun lebih dari 5% dibandingkan Mei. Data itu mengacu pada laporan Departemen Sensus dan Statistik Hong Kong yang dirilis pada Senin.

Selain emas, sejumlah logam mulia lainnya juga mencatat penguatan.

Harga perak di pasar spot naik 1,3% menjadi US$ 58,92 per ounce. Harga platinum menguat 2,3% ke posisi US$ 1.625,31 per ounce, sedangkan palladium melonjak 3,4% menjadi US$ 1.285,79 per ounce.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |