Harga Minyak Dunia Naik Tajam, Brent Cetak Lonjakan Bulanan Terbesar sepanjang Sejarah

9 hours ago 14
  • Apa penyebab utama lonjakan harga minyak dunia pada Maret 2026?
  • Seberapa signifikan kenaikan harga minyak Brent dan WTI?
  • Apa ancaman Presiden AS Donald Trump terkait Selat Hormuz?

Baca artikel ini 5x lebih cepat

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia terus menguat dan mencatat lonjakan signifikan sepanjang Maret 2026, dipicu konflik yang kian memanas antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Mengutip CNBC, Selasa (31/3/2026), harga minyak mentah Brent sebagai acuan global naik 0,19% atau 21 sen menjadi USD 112,78 per barel.

Secara bulanan, Brent melonjak sekitar 55%—menjadi kenaikan terbesar sejak kontrak ini pertama kali diperdagangkan pada 1988. Rekor sebelumnya terjadi pada September 1990 saat Perang Teluk, dengan kenaikan 46%.

Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat naik 3,25% atau USD 3,24 ke level USD 102,88 per barel. Kenaikan ini juga menandai pertama kalinya WTI ditutup di atas USD 100 sejak Juli 2022.

Lonjakan harga terjadi di tengah eskalasi konflik yang telah memasuki pekan kelima. Presiden AS, Donald Trump, memperingatkan Iran bahwa negaranya akan menghancurkan sumur minyak, pembangkit listrik, dan Pulau Kharg jika Selat Hormuz tidak segera dibuka.

Dalam wawancara dengan Financial Times, Trump bahkan menyebut opsi yang diinginkannya adalah “mengambil minyak,” mengacu pada langkah AS di Venezuela yang berhasil menguasai sektor minyak negara tersebut setelah penangkapan pemimpinnya, Nicolás Maduro.

Houthi Ikut Terlibat

Ketegangan semakin meningkat setelah kelompok Houthi di Yaman ikut terlibat. Juru bicara mereka, Yahya Saree, mengatakan pihaknya meluncurkan rudal balistik ke target militer Israel sebagai bentuk dukungan terhadap Iran dan Hizbullah di Lebanon.

Serangan ini memperluas konflik yang sebelumnya dipicu oleh serangan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari, sekaligus meningkatkan risiko terhadap infrastruktur energi global.

Analis memperingatkan bahwa gangguan pasokan bisa semakin parah, terutama di jalur strategis seperti Selat Bab el-Mandeb yang menghubungkan Teluk Aden dan Laut Merah. Jalur ini dilalui sekitar 4 hingga 5 juta barel minyak per hari.

Michael Haigh dari Societe Generale mengatakan, jika gangguan bertambah hingga jutaan barel per hari, maka harga minyak bisa melonjak jauh lebih tinggi.

Bahkan, analis Societe Generale memperkirakan harga minyak berpotensi menembus USD 150 per barel pada April jika gangguan pasokan terus berlanjut.

Pasar Keuangan Global

Kenaikan tajam harga minyak juga mulai memengaruhi pasar keuangan global. Presiden Yardeni Research, Ed Yardeni, menyebut pasar saham mulai mencerminkan skenario harga minyak dan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lama.

Ia memperingatkan bahwa penutupan Selat Hormuz secara berkepanjangan dapat memperdalam koreksi pasar dan meningkatkan risiko resesi global.

“Kecepatan dan besarnya lonjakan menunjukkan bagaimana pasar energi dengan cepat menyesuaikan risiko geopolitik, sekaligus memperkuat potensi gangguan berkepanjangan,” tulis Yardeni.

Sementara itu, ahli strategi Quantum Strategy, David Roche, menilai pasar mulai mengantisipasi respons militer AS yang lebih agresif, termasuk kemungkinan pengerahan pasukan darat dan upaya menguasai Pulau Kharg—jalur utama ekspor minyak Iran yang menyumbang sekitar 90% aliran minyak negara tersebut.

Langkah tersebut berisiko memicu eskalasi besar, karena Iran kemungkinan akan membalas dengan menyerang infrastruktur penting di kawasan Teluk.

Kerentanan Distribusi Minyak

Roche juga menyoroti kerentanan jalur distribusi minyak global, termasuk pipa East-West Arab Saudi yang menyalurkan sekitar 5 juta barel per hari ke Laut Merah. Jika jalur ini terganggu, pasokan global bisa terpangkas signifikan.

Bahkan melalui jalur alternatif seperti Terusan Suez, kapasitas distribusi tetap terbatas. Gangguan tambahan dapat mengurangi pasokan global hingga 4–5 juta barel per hari.

Situasi ini membuat pasar energi dan perdagangan global berada dalam tekanan tinggi, dengan volatilitas diperkirakan masih akan berlanjut hingga konflik mereda dan aliran minyak kembali normal.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |