Harga Minyak Merosot Setelah Trump Beri Sinyal Akhiri Perang di Iran

19 hours ago 19

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia merosot pada perdagangan Rabu, 1 April 2026. Harga minyak turun seiring investor mempertimbangkan kesediaan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk keluar dari konflik Iran dalam beberapa minggu meskipun Selat Hormuz sebagian besar masih tertutup.

Mengutip CNBC, Kamis (2/4/2026), harga minyak West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Mei turun 1,24% atau USD 1,26 menjadi USD 100,12 per barel. Sementara itu, harga minyak Brent untuk pengiriman Juni 2026 merosot 2,82% atau USD 2,93 per barel menjadi USD 101,04 per barel.

Patoka harga minyak global melonjak lebih dari 60% bulan lalu, dalam reli bulanan terkuatnya sejak 1988. Kontrak Mei ditutup naik 5% pada Selasa pekan ini di USD 118,35 per barel.

Harga minyak turun setelah Trump mengatakan pada Selasa malam kalau memperkirakan militer AS akan mengakhiri operasi melawan Iran dalam dua atau tiga minggu dan tampaknya menyatakan kemenangan.

“Kami pergi karena tidak ada alasan bagi kami untuk melakukan ini. Kami akan segera pergi,” ujar Trump kepada wartawan di Gedung Putih.

Trump juga menolak gagasan untuk mencapai kesepakatan melalui negosiasi untuk mengakhiri perang. Ia mengatakan, Iran tidak perlu membuat kesepakatan. “Itu adalah rezim baru. Mereka jauh lebih mudah diakses,” kata dia.

Ia juga menegaskan telah mencegah Iran memperoleh senjata nuklir. Kemudia pada Selasa pekan ini, Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menuturkan dalam sebuah unggahan di platform X kalau Trump akan menyampaikan pidato nasional untuk memberikan pembaruan penting tentang Iran pada pukul 9 malam ET Rabu pekan ini.

Pasar Global Tunggu Pernyataan Trump

Kampanye AS-Israel melawan Iran telah memicu gangguan pasokan energi yang parah sejak perang dimulai pada 28 Februari, memicu kekhawatiran di seluruh ekonomi global yang sangat bergantung pada minyak Timur Tengah.

Iran secara efektif telah menghentikan pengiriman melalui Selat Hormuz, jalur air penting yang menghubungkan Teluk Persia dan Teluk Oman yang biasanya dilalui 20% aliran minyak global sebelum perang pecah.

Sementara pasar global menunggu komentar Trump pada Rabu sore, permusuhan militer terus berlanjut. Garda Revolusi Iran mengatakan akan mulai menyerang perusahaan-perusahaan AS di kawasan itu mulai Rabu, dengan menyebutkan 18 perusahaan termasuk Google, Microsoft, Apple, Intel, IBM, Tesla dan Boeing.

Drone Iran menargetkan tangki bahan bakar di Bandara Internasional Kuwait pada Rabu, menyebabkan kebakaran besar dan kerusakan pada tangki, media lokal Kuwait melaporkan, mengutip otoritas penerbangan sipil.

“Trump tetap terjebak. Meninggalkan sekarang berarti mengakui kekalahan,” kata salah satu pendiri lembaga think-tank Geopolitical Strategy, Michael Feller.

Tidak Termasuk Negosiasi

Ia menambahkan, menghancurkan infrastruktur sipil, seperti yang diancam Trump awal pekan ini, “tidak akan membuat perbedaan selain semakin menaikkan harga minyak.”

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan kepada Al Jazeera pada Selasa pesan telah dipertukarkan dengan AS, secara langsung atau melalui negara-negara di kawasan itu, tetapi pesan tersebut tidak termasuk “negosiasi.”

“Saya menerima pesan langsung dari [utusan khusus AS] Witkoff, seperti sebelumnya, dan ini tidak berarti bahwa kami sedang bernegosiasi,” ujar dia.

“Tidak ada kebenaran dalam klaim negosiasi dengan pihak mana pun di Iran. Semua pesan disampaikan melalui Kementerian Luar Negeri atau diterima olehnya, dan ada komunikasi antara lembaga keamanan,” kata dia.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |