Hong Kong Jadi Mitra Ekonomi Strategis Indonesia di Tengah Gejolak Global

16 hours ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, menyebut Hong Kong sebagai mitra ekonomi strategis bagi Indonesia. Ia menegaskan peran penting Hong Kong dalam memperkuat hubungan ekonomi dan investasi dengan Indonesia.

Airlangga mengungkapkan, nilai perdagangan bilateral antara Indonesia dan Hong Kong saat ini mencapai sekitar USD 6,5 miliar. Selain itu, Hong Kong juga telah menanamkan investasi sebesar USD 10 miliar di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, mencerminkan tingginya kepercayaan pelaku usaha Hong Kong terhadap prospek ekonomi nasional.

“Hong Kong memiliki kemitraan ekonomi khusus dengan Indonesia, dengan nilai perdagangan bilateral sekitar USD 6,5 miliar, serta telah menanamkan investasi sebesar USD 10 miliar di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir,” katanya dalam forum CCSEA 2026, Selasa (10/2/2026).

Ia juga menyoroti perjanjian perdagangan bebas antara Hong Kong dan ASEAN yang mulai berlaku pada 2020. 

Menurutnya, kesepakatan tersebut telah membuka peluang baru sekaligus memperkuat kerja sama ekonomi dan bisnis antara Indonesia dan Hong Kong, khususnya di sektor perdagangan, jasa, dan investasi.

Di tengah lanskap global yang dipengaruhi oleh pergeseran geopolitik serta pesatnya kemajuan teknologi, 

Airlangga menilai kemitraan strategis semacam ini menjadi semakin penting. Indonesia, kata dia, terus mendorong kolaborasi dengan mitra internasional untuk menjaga stabilitas ekonomi, memperkuat rantai pasok, serta memanfaatkan peluang baru di era transformasi digital dan ekonomi hijau.

“Perjanjian perdagangan bebas antara Hong Kong dan ASEAN yang mulai berlaku pada 2020 telah membuka dan memperkuat hubungan ekonomi serta bisnis antara Indonesia dan Hong Kong,” jelasnya.  

Transformasi Ekonomi Hijau, Pemerintah Anggarkan Rp 402,4 Triliun

Sebelumnya, Pemerintah menegaskan ekonomi Indonesia tetap tangguh di tengah ketidakpastian global. Stabilitas makro, koordinasi lintas sektor, serta komitmen pada ekonomi hijau menjadi fondasi utama menjaga pertumbuhan berkelanjutan.

Pemerintah Indonesia terus menegaskan perannya dalam memperkuat ketahanan ekonomi kawasan di tengah dinamika global yang ditandai ketidakpastian geopolitik, volatilitas pasar keuangan, hingga tantangan transisi menuju ekonomi rendah karbon. Dalam kondisi tersebut, Indonesia memosisikan diri sebagai kekuatan ekonomi yang resilien dengan kebijakan makro yang kredibel serta pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menekankan pentingnya kemitraan ekonomi Indonesia dengan berbagai negara, termasuk Hong Kong. Hubungan dagang dan investasi dinilai menjadi penopang penting pertumbuhan ekonomi nasional.

“Hong Kong memiliki kemitraan ekonomi khusus dengan Indonesia, dengan nilai perdagangan bilateral sekitar USD 6,5 miliar dan dalam beberapa tahun terakhir telah berinvestasi sebesar USD 10 miliar di Indonesia,"  tutur Airlangga saat menjadi keynote speaker dalam China Conference: Southeast Asia 2026 di Jakarta, Selasa (10/2/2026).

"Perjanjian Perdagangan Bebas Hong Kong–ASEAN yang mulai berlaku pada tahun 2020 telah membuka hubungan ekonomi dan bisnis antara Indonesia dan Hong Kong,” tambah Airlangga.

Ia menegaskan, kemitraan tersebut memperkuat posisi Indonesia sebagai motor pertumbuhan ekonomi kawasan Asia Tenggara.

Kinerja Makro Solid dan Peran Aktif di Perdagangan Global

Dalam paparannya, Airlangga menyampaikan kinerja makroekonomi Indonesia menunjukkan prospek yang konstruktif. Pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV 2025 tercatat mencapai 5,39 persen (yoy), sementara pertumbuhan sepanjang tahun 2025 berada di level 5,11 persen.

Inflasi juga tetap terkendali pada level 3,55 persen (yoy) pada Januari 2026. Sektor manufaktur masih berada di fase ekspansi, tercermin dari indeks PMI manufaktur yang bertahan di level 52,6 selama enam bulan berturut-turut.

Dari sisi eksternal, Indonesia mencatat surplus neraca perdagangan sebesar USD2,51 miliar pada Desember 2025 dan mempertahankan surplus selama 68 bulan berturut-turut. Kinerja tersebut berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat, dengan tingkat kemiskinan menurun menjadi 8,5 persen, rasio gini 0,375, Indeks Pembangunan Manusia meningkat menjadi 75,9, serta terciptanya sekitar 1,4 juta lapangan kerja sepanjang 2025.

Untuk memperkuat perdagangan global, Indonesia aktif di berbagai forum internasional seperti ASEAN, APEC, G20, dan COP, sekaligus mempercepat implementasi perjanjian dagang strategis dengan mitra global.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |