IMF Bikin 3 Skenario Imbas Perang di Timur Tengah

12 hours ago 17
  • Mengapa IMF memangkas prospek pertumbuhan ekonomi global?
  • Apa dampak terburuk konflik Timur Tengah terhadap ekonomi global menurut IMF?
  • Bagaimana konflik ini mempengaruhi inflasi global?

Baca artikel ini 5x lebih cepat

Liputan6.com, Jakarta - Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) memangkas prospek pertumbuhan ekonomi global pada Selasa, 14 April 2026. Hal ini seiring lonjakan harga energi dan gangguan pasokan yang dipicu oleh perang di Iran. Namun, IMF memperingatkan ekonomi global akan berada di ambang resesi jika konflik memburuk dan harga minyak tetap di atas USD 100 per barel hingga 2027.

Mengutip Channel News Asia, Rabu (15/4/2026), dengan ketidakpastian besar atas konflik Timur Tengah yang melanda pejabat keuangan yang berkumpul untuk pertemuan musim semi IMF dan Bank Dunia di Washington, Amerika Serikat (AS), IMF menyajikan tiga skenario pertumbuhan. Tiga skenario itu antara lain lebih lemah, lebih buruk dan parah tergantung pada bagaimana perang itu berlangsung.

Skenario referensi paling optimistis dari World Economic Outlook (WEO) mengasumsikan perang Iran yang singkat dan memprediksi pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) riil sebesar 3,1% pada 2026, turun 0,2% dari perkiraan sebelumnya pada Januari.

Dalam skenario ini, harga minyak rata-rata USD 82 per barel sepanjang 2026, penurunan dari level terkini sekitar USD 100 untuk harga acuan berjangka Brent.

Tanpa konflik di Timur Tengah, IMF mengatakan akan meningkatkan prospek pertumbuhan sebesar 0,1% menjadi 3,4%. Hal ini karena terus berlanjutnya investasi teknologi, suku bunga lebih rendah, tarif Amerika Serikat (AS) yang kurang ketat dan dukungan fiskal di beberapa negara.

Namun, kepada Reuters, Kepala Ekonom IMF Pierre-Oilivier Gourinchas menuturkan, perang itu telah menciptakan risiko yang jauh lebih besar bagi ekonomi global daripada gelombang tarif tinggi yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump pada tahun lalu.

“Apa yang terjadi di Teluk berpotensi jauh lebih besar, dan itulah yang didokumentasikan oleh skenario kami,” ujar dia.

Skenario Buruk

Dalam skenario buruk konflik yang lebih lama yang membuat harga minyak tetap sekitar USD 100 per barel tahun ini dan USD 75 pada 2027. Selain itu, IMF prediksi pertumbuhan PDB global akan turun menjadi 2,5% pada 2026. Pada Januari, IMF prediksi harga minyak akan turun menjadi USD 62 pada 2026.

Untuk skenario terburuk IM, skenario parah dengan mengasumsikan konflik yang berkepanjangan dan semakin dalam serta harga minyak yang jauh lebih tinggi yang memicu dislokasi pasar keuangan besar dan kondisi keuangan lebih ketat, memangkas pertumbuhan global menjadi 2%.

“Ini berarti hampir terjadi resesi global,” ujar IMF.

IMF juga menambahkan, pertumbuhan hanya berada di bawah level itu empat kali sejak 1980, dengan dua resesi parah terakhir apda 2009, setelah krisis keuangan dan pada 2020 ketika pandemi COVID-19 melanda.

Tekanan Inflasi

Gourinchas menuturkan, sejumlah negara akan mengalami resesi total dalam skenario ini. Rata-rata harga minyak mencapai USD 110 per barel pada 2026 dan USD 125 pada 2027. Harga pada level ini dalam jangka waktu yang lama juga akan meningkatkan harapan kalau inflasi akan terus berlanjut yang mendorong kenaikan harga lebih luas dan tuntutan kenaikan upah.

“Perubahan ekspektasi inflasi tersebut akan mengharuskan bank sentral untuk mengerem dan mencoba menurunkan inflasi kembali,” ujar dia.

Ia menambahkan, hal ini mungkin membutuhkan lebih banyak pengorbanan dari pada 2022.

Namun, IMF menuturkan, bank sentral dapat “mengabaikan” lonjakan harga energi yang berumur pendek dan mempertahankan suku bunga tetap stabil di tengah aktivitas yang lebih lemah. Ini akan menjadi pelonggaran moneter de facto tetapi hanya jika ekspektasi inflasi tetap terkendali.

Inflasi global 2026 akan mencapai lebih dari 6% dalam skenario terburuk dibandingkan 4,4% dalam skenario referensi paling optimistis yangn merupakan asumsi untuk perkiraan pertumbuhan negara dan regional.

Prospek Ekonomi

Selain itu, IMF memangkas prospek pertumbuhan AS pada 2026 menjadi 2,3%, turun 0,1% dari Januari, mencerminkan efek positif dari pemangkasan pajak, efek tertunda dari pemangkasan suku bunga dan investasi berkelanjutan di pusat data kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang sebagian mengimbangi biaya energi lebih tinggi.

Dampak ini akan berlanjut pada 2027, dengan pertumbuhan yang kini diprediksi 2,1%, naik 0,1% dari Januari.

Zona euro, yang masih berjuang dengan harga energi yang lebih tinggi akibat invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, mendapat pukulan yang lebih besar dari konflik Timur Tengah, dengan prospek pertumbuhan turun 0,2% menjadi 1,1% pada 2026 dan 1,2% untuk 2027.

Pertumbuhan Jepang sebagian besar tidak berubah di bawah skenario paling baik, yaitu 0,7% untuk 2026 dan 0,6 persen untuk 2027, tetapi IMF prediksi Bank Sentral Jepang akan menaikkan suku bunga dengan kecepatan yang sedikit lebih cepat daripada yang diantisipasi enam bulan lalu.

IMF memperkirakan pertumbuhan China untuk 2026 sebesar 4,4%, turun sepersepuluh poin dari Januari karena biaya energi dan komoditas yang lebih tinggi sebagian diimbangi oleh tarif AS yang lebih rendah dan langkah-langkah stimulus pemerintah. Namun, IMF mengatakan hambatan dari sektor perumahan yang lesu, penurunan angkatan kerja, pengembalian investasi yang lebih rendah, dan pertumbuhan produktivitas yang lebih lambat akan memangkas pertumbuhan ekonomi China pada 2027 menjadi 4,0%, perkiraan yang tidak berubah dari Januari.

Pasar Negara Berkembang dan Timur Tengah

Secara keseluruhan, pasar negara berkembang dan negara maju di mana Produk Domestik Bruto (PDB) cenderung lebih bergantung pada input minyak, terkena dampak lebih besar dari konflik Timur Tengah dibandingkan negara-negara maju, dengan pertumbuhan 2026 diperkirakan turun 0,3% menjadi 3,9%.

Hal ini paling terasa di pusat konflik di kawasan Timur Tengah dan Asia Tengah, yang akan mengalami penurunan pertumbuhan PDB tahun 2026 sebesar dua poin persentase penuh menjadi 1,9 persen di tengah kerusakan infrastruktur yang meluas dan ekspor energi dan komoditas yang sangat terbatas.

Penurunan PDB untuk 2026 diperkirakan sebesar 6,1% untuk Iran, 8,6 % untuk Qatar, 6,8% untuk Irak, 0,6% untuk Kuwait, dan 0,5% untuk Bahrain.

Namun dengan asumsi konflik yang singkat, kawasan ini pulih dengan cepat, dengan pertumbuhan PDB tahun 2027 meningkat menjadi 4,6 persen, melonjak 0,6 poin persentase dari perkiraan Januari.

Satu titik terang di antara pasar negara berkembang adalah India, yang mengalami peningkatan pertumbuhan sekitar sepersepuluh poin persentase menjadi 6,5% untuk 2026 dan 2027, sebagian karena momentum dari pertumbuhan yang kuat pada akhir tahun lalu dan kesepakatan untuk menurunkan tarif impor AS terhadap India.

Biaya Bahan Bakar Pengaruhi Fiskal

IMF mengatakan, pemerintah akan tergoda untuk menerapkan langkah-langkah fiskal untuk mengurangi dampak kenaikan harga energi, termasuk pembatasan harga, subsidi bahan bakar, atau pemotongan pajak, tetapi memperingatkan terhadap dorongan ini di tengah defisit anggaran yang masih tinggi dan meningkatnya utang publik.

Gourinchas mengatakan, keinginan untuk melindungi kelompok yang paling rentan adalah "sangat sah", tetapi subsidi di satu negara dapat menyebabkan kekurangan bahan bakar di negara lain yang tidak mampu membiayainya.

"Anda harus melakukannya dengan cara yang sangat terarah dan sementara, yang tidak benar-benar mengacaukan kerangka fiskal" yang dibutuhkan oleh sebagian besar negara untuk membangun kembali cadangan fiskal mereka, ujar dia.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |