Indonesia Targetkan Produksi Bensin dari Singkong dalam 4 Tahun

4 hours ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan pemerintah tengah mengembangkan bensin berbahan baku tanaman sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional. Selain memanfaatkan kelapa sawit, pemerintah juga menyiapkan bahan baku lain seperti singkong, jagung, dan sorgum untuk memproduksi bioetanol yang dapat diolah menjadi bensin.

Hal itu disampaikan Prabowo saat memberikan pidato dalam Puncak Perayaan Hari Koperasi Nasional ke-79 di Indonesia Arena, Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Minggu (12/7/2026).

Prabowo mengatakan, pemerintah telah memulai langkah menuju kemandirian energi melalui peluncuran program B50, yakni bahan bakar solar yang mengandung 50% biodiesel berbasis minyak kelapa sawit.

"Tahun pertama pemerintah yang saya pimpin baru berapa hari yang lalu kita launching B50, solar 50% dari kelapa sawit. Petani kelapa sawit ada di Indonesia, minyak kelapa sawit di Indonesia. Mulai bulan ini kita tidak impor lagi solar dari luar negeri," kata Prabowo.

Menurut Presiden, langkah berikutnya adalah mengembangkan bensin yang berasal dari sumber daya pertanian dalam negeri. Ia menyebut para peneliti dan akademisi Indonesia saat ini tengah mengembangkan teknologi tersebut.

"Dan profesor-profesor kita sekarang sedang mengembangkan bensin dari kelapa sawit, etanol dari singkong, dari jagung, dari sorgum, Saudara-saudara," ujarnya.

Prabowo optimistis dalam tiga hingga empat tahun mendatang Indonesia sudah mampu memproduksi bensin berbahan baku tanaman secara mandiri. Menurutnya, program tersebut tidak hanya memperkuat kemandirian energi, tetapi juga membuka peluang peningkatan kesejahteraan petani.

"Jadi, saya harap dalam 3-4 tahun lagi kita nanti juga bisa menghasilkan bensin dari tanaman. Berarti petani singkong akan hidup makmur, petani jagung akan hidup makmur. Petani-petani di seluruh Indonesia akan berbuat yang terbaik untuk bangsa dan untuk keluarganya sendiri," tutur Prabowo.

Selain menekan ketergantungan terhadap impor bahan bakar, pengembangan bioenergi berbasis tanaman juga diharapkan menciptakan permintaan baru terhadap komoditas pertanian nasional. Pemerintah menilai langkah tersebut dapat memperkuat ketahanan energi sekaligus meningkatkan nilai tambah hasil pertanian di dalam negeri.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |