Rupiah Merosot ke 17.585 Tersengat Lonjakan Harga Minyak

6 hours ago 9

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) lesu pada pembukaan perdagangan Jumat, (11/9/2026). Ekonom menilai, tekanan rupiah terhadap dolar AS dipicu kenaikan harga minyak mentah global.

Mengutip Antara, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS turun 38 poin atau 0,22% menjadi 17.585 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di 17.547.

"Harga minyak Brent menembus level US$ 100 di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, menyusul klaim Iran kalau pihaknya telah menyerang 10 kapal di sekitar Selat Hormuz setelah serangan AS menenggelamkan lima kapal tanker Iran,” kata Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede dikutip dari Antara, Jumat (11/9/2026).

Dia menuturkan, kenaikan harga minyak global kembali memicu kekhawatiran investor terhadap risiko pelebaran twin deficits, yaitu defisit transaksi berjalan dan defisit fiskal.

Melihat sentimen global, data Producer Price Index (PPI) AS untuk Agustus 2026 tercatat di atas ekspektasi, mencerminkan tekanan inflasi yang masih persisten pada tingkat produsen. PPI AS meningkat menjadi 5,4% year on year (yoy) dari 4,8% yoy pada bulan sebelumnya, melampaui konsensus sebesar 5,3% yoy, terutama didorong oleh kenaikan biaya energi.

Setelah rilis data tersebut, probabilitas kenaikan suku bunga The Federal Reserve (the Fed) pada Federal Open Market Committee (FOMC) September 2026 meningkat di atas 70%, mendorong kenaikan indeks dolar AS dan yield UST. Keduanya sebelumnya telah meningkat seiring harga minyak global yang terus naik menembus US$ 100 per barel selama sesi perdagangan Asia.

"Hari ini, kami memperkirakan rupiah akan bergerak pada kisaran 17.575–17.700 per dolar AS," ujar Josua.

Rupiah Tertekan ke 17.547 per Dolar AS, Data Inflasi AS Jadi Penentu Arah

Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada penutupan perdagangan Kamis (10/9/2026). Pergerakan rupiah dipengaruhi sikap investor yang cenderung menahan diri menjelang rilis sejumlah data ekonomi penting AS, terutama Producer Price Index (PPI) dan Consumer Price Index (CPI).

Rupiah ditutup di level 17.547 per dolar AS, turun 36 poin atau 0,21 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di 17.511 per dolar AS.

Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia justru menguat. JISDOR hari ini berada di level 17.536 per dolar AS, naik dari posisi sebelumnya 17.552 per dolar AS.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa mengatakan investor memilih bersikap wait and see sebelum mengambil posisi baru di pasar valuta asing.

“Pergerakan rupiah dipengaruhi oleh sikap investor yang cenderung menunggu sebelum mengambil posisi baru. Pasar saat ini menantikan rilis PPI AS pada Kamis malam dan CPI AS pada Jumat malam,” katanya dikutip dari Antara.

Menurut Amru, kedua data tersebut akan menjadi indikator penting bagi pasar untuk membaca arah kebijakan Federal Reserve (The Fed).

Kondisi tersebut membuat pelaku pasar lebih berhati-hati sehingga rupiah mengalami koreksi, meskipun sejumlah sentimen domestik masih tergolong positif.

Bagian Konsolidasi

Amru menambahkan, pelemahan rupiah juga merupakan bagian dari konsolidasi setelah mata uang Garuda mencatat penguatan cukup kuat pada perdagangan sebelumnya.

“Meskipun sentimen domestik masih positif dan dolar AS secara umum masih berada dalam tekanan, kenaikan yield US Treasury 10 tahun ke sekitar 4,84 persen kembali meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar dan menahan penguatan rupiah,” ujar Amru.

Selain itu, pergerakan rupiah turut dipengaruhi harga minyak dunia yang masih bertahan di atas US$ 100 per barel. Kenaikan harga minyak terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan memicu kekhawatiran terhadap inflasi global serta prospek suku bunga.

Meski demikian, Amru melihat rupiah masih memiliki peluang untuk menguat dalam jangka pendek.

“Dalam jangka pendek, rupiah masih berpeluang melanjutkan penguatan dan diperkirakan bergerak di kisaran 17.450-17.600. Penguatan menuju area 17.450 akan lebih terbuka apabila pelemahan dolar berlanjut, sementara data inflasi AS yang lebih tinggi dari ekspektasi dapat kembali memberikan tekanan terhadap rupiah,” kata dia pula.

Dengan demikian, pasar akan mencermati hasil PPI dan CPI AS sebagai faktor penting yang dapat menentukan arah rupiah dalam perdagangan selanjutnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |