Sarjito Jadi Pengawas BMKS OJK, Ekonom Yakin Kompetensinya Mumpuni

5 hours ago 10

Meski memiliki potensi manfaat, Esther mengingatkan pengembangan bursa mineral juga dapat menimbulkan tambahan biaya kepatuhan bagi perusahaan tambang. Keberhasilan BMKS akan sangat bergantung pada tingkat likuiditas serta minat pelaku pasar, termasuk dari pasar global.

“Kebijakan baru ini menambah faktor ketidakpastian regulasi jangka pendek bagi investor di sektor mineral dan batubara,” katanya.

Karena itu, penguatan tata kelola dan kepastian regulasi perlu menjadi perhatian agar BMKS dapat berkembang menjadi pasar komoditas yang kredibel serta menarik bagi pelaku pasar domestik maupun global.

Tiga Kunci Bursa Komoditas

Sementara itu, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Dipo Satria Ramli menilai ada tiga faktor utama yang akan menentukan keberhasilan bursa komoditas, yakni kepastian hukum, tata kelola kelembagaan, dan likuiditas.

“Yang paling penting menurut saya adalah kepastian hukum dan masalah tata kelola kelembagaan,” kata Dipo kepada Liputan6.com.

Menurut Dipo, kepastian hukum penting untuk memberikan kejelasan mengenai penyelesaian apabila terjadi sengketa antara penjual dan pembeli.

Dia menilai mekanisme mediasi harus berjalan secara adil, transparan, dan bebas dari intervensi politik. Hal ini diperlukan agar pelaku pasar memiliki kepercayaan untuk bertransaksi melalui bursa.

Selain itu, regulator perlu memastikan transparansi data dan mencegah manipulasi dalam pembentukan harga. Mekanisme perdagangan harus tetap mengikuti prinsip penawaran dan permintaan sehingga harga yang terbentuk mencerminkan kondisi pasar secara objektif.

“Jadi, satu masalah hukum, kedua tata kelola, lalu masalah likuiditas,” ujarnya.

Dipo mengatakan Indonesia dapat memprioritaskan komoditas yang memiliki keunggulan produksi, seperti batu bara dan kelapa sawit. Menurut dia, tidak semua komoditas harus dipaksakan menjadi acuan harga domestik karena masing-masing memiliki karakteristik pasar dan basis pembeli yang berbeda.

Indonesia sendiri telah memiliki Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) dan Jakarta Futures Exchange (JFX) sebagai infrastruktur perdagangan komoditas.

Karena itu, tantangan BMKS bukan sekadar membangun infrastruktur. Yang lebih penting adalah meningkatkan volume transaksi, membangun kepercayaan pelaku pasar, serta mengembangkan produk derivatif.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |