Top 3: Bapanas Sebut Tak Ada Alasan Harga MinyaKita Mahal

21 hours ago 11

Liputan6.com, Jakarta - Badan Pangan Nasional (Bapanas) meminta harga minyak goreng merek Minyakita bisa terkendali sesuai harga eceran tertinggi (HET). Deputi Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Bapanas, Andriko Noto Susanto, memastikan produksi minyak goreng cukup.

Dia bilang harga Minyakita sudah diatur dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 43 Tahun 2025 dengan harga Rp 15.700 per liter. Faktor lainnya, produksi juga tak terkendala, sehingga harga Minyakita di tingkat konsumen seharusnya sesuai.

"Harga Minyakita di tingkat konsumen sudah ditetapkan Rp 15.700 per liter. Itu harus dijaga. Produksi di tingkat produsen mencukupi, jadi tidak ada alasan harga naik di masyarakat,” ujar Andriko, mengutip keterangan resmi, Sabtu, 7 Februari 2026.

Dia turut memantau salah satu produsen minyak goreng, PT SMART Tbk dalam grup Sinarmas. Pemerintah, menurut dia, telah menetapkan skema harga yang jelas dari hulu hingga hilir melalui regulasi yang berlaku.

Dia mencatat produksinya cukup stabil, termasuk pasokan untuk wilayah Indonesia Timur yang didistribusikan dari Surabaya. Dengan kondisi produksi yang stabil tersebut, pemerintah optimistis pasokan dan harga minyak goreng dapat tetap terkendali selama periode Ramadan dan Idulfitri.

Artikel Bapanas: Produksi Cukup, Tak Ada Alasan Harga Minyakita Mahal menyita perhatian pembaca di Kanal Bisnis Liputan6.com pada Sabtu pekan ini. Ingin tahu artikel terpopuler lainnya di Kanal Bisnis Liputan6.com? Berikut tiga artikel terpopuler di Kanal Bisnis Liputan6.com yang dirangkum pada Minggu, (8/2/2026).

1. Bapanas: Produksi Cukup, Tak Ada Alasan Harga Minyakita Mahal

Badan Pangan Nasional (Bapanas) meminta harga minyak goreng merek Minyakita bisa terkendali sesuai harga eceran tertinggi (HET). Deputi Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Bapanas, Andriko Noto Susanto, memastikan produksi minyak goreng cukup.

Dia bilang harga Minyakita sudah diatur dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 43 Tahun 2025 dengan harga Rp 15.700 per liter. Faktor lainnya, produksi juga tak terkendala, sehingga harga Minyakita di tingkat konsumen seharusnya sesuai.

"Harga Minyakita di tingkat konsumen sudah ditetapkan Rp 15.700 per liter. Itu harus dijaga. Produksi di tingkat produsen mencukupi, jadi tidak ada alasan harga naik di masyarakat,” ujar Andriko, mengutip keterangan resmi, Sabtu, 7 Februari 2026.

Dia turut memantau salah satu produsen minyak goreng, PT SMART Tbk dalam grup Sinarmas. Pemerintah, menurut dia, telah menetapkan skema harga yang jelas dari hulu hingga hilir melalui regulasi yang berlaku.

Dia mencatat produksinya cukup stabil, termasuk pasokan untuk wilayah Indonesia Timur yang didistribusikan dari Surabaya. Dengan kondisi produksi yang stabil tersebut, pemerintah optimistis pasokan dan harga minyak goreng dapat tetap terkendali selama periode Ramadan dan Idulfitri.

Berita selengkapnya baca di sini

2. Menko Airlangga Bidik Peluang Ekspor Tambahan ke Negara Anggota APEC

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian atau Menko Airlangga Hartarto membidik penambahan ekspor ke negara anggota Asia-Pasific Economic Cooperation (APEC). Mengingat Indonesia memiliki sejumlah komoditas unggulan.

Airlangga mengatakan, saat ini sekitar 70% ekspor Indonesia menyasar ke negara-negara APEC. Dengan penambahan ekspor, diharapkan mampu juga mengerek pertumbuhan ekonomi nasional RI.

"Indonesia perlu mendukung agar APEC berjalan secara baik karena ini adalah salah satu ekonomi terbesar dan tentu Indonesia membutuhkan pertumbuhan ekonomi yang kuat dan dengan negara-negara APEC ini bisa kita tingkatkan ekspor kita," ungkap Airlangga usai APEC Business Advisory Council (ABAC) Meeting, di Jakarta, Sabtu (7/2/2026).

Dia menuturkan, sejumlah komoditas andalan Indonesia yang bisa menangkap peluang ekspor tambahan. Komoditas logam dan kelapa sawit menjadi yang paling diandalkan.

"Kalau Indonesia tentu mendorong ekspor yang sekarang menjadi andalan yaitu pertama logam, kedua kelapa sawit, ketiga tentu yang padat karya tekstil, furnitur, apparel, shoes kemudian produk daripada agrikultur itu seperti udang dan yang lain," urainya.

Berita selengkapnya baca di sini

3. Gelombang PHK Januari Tahun Ini Sentuh Level Tertinggi Sejak 2009

Konsultan ketenagakerjaan Challenger, Gray & Christmas melaporkan jumlah rencana pemutusan hubungan kerja (PHK) pada Januari tercatat menjadi yang tertinggi sejak krisis keuangan global. Di saat yang sama, rencana perekrutan tenaga kerja turun ke level terendah untuk periode tersebut.

Dilansir dari CNBC, Sabtu (7/2/2026), perusahaan-perusahaan di Amerika Serikat mencatat sebanyak 108.435 pemutusan hubungan kerja (PHK) pada Januari.. Angka ini melonjak 118% dibanding periode yang sama tahun lalu dan naik 205% dari Desember 2025. Jumlah itu menjadi yang tertinggi untuk bulan Januari sejak 2009, ketika perekonomian berada di fase akhir resesi terdalam sejak era Depresi Besar.

Pada saat yang sama, perusahaan hanya mencatat 5.306 perekrutan baru, menjadi jumlah terendah untuk bulan Januari sejak 2009, tahun ketika Challenger mulai menghimpun data tersebut. Adapun resesi global secara resmi dinyatakan berakhir pada Maret 2009.

Pada periode yang sama, perusahaan hanya menambah 5.306 tenaga kerja baru, tercatat sebagai angka perekrutan terendah untuk bulan Januari sejak 2009 saat Challenger mulai mengumpulkan data. Tahun tersebut juga menjadi penanda berakhirnya resesi global yang secara resmi dinyatakan selesai pada Maret 2009.

Di tengah kondisi pasar tenaga kerja yang cenderung stagnan—minim perekrutan sekaligus penambahan karyawan—data Challenger menunjukkan potensi peningkatan pemutusan hubungan kerja (PHK).

Berita selengkapnya baca di sini 

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |