Profil Para Konglomerat Indonesia yang Temui Prabowo di Hambalang

17 hours ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto menerima audiensi lima pengusaha besar Indonesia di Padepokan Garudayaksa, Hambalang, Bogor, Selasa (10/2/2026) malam. Prabowo menyerap berbagai masukan dari para pelaku usaha terkait tantangan dan peluang ekonomi.

Audiensi ini diselenggarakan atas permintaan para pengusaha untuk berdiskusi langsung dengan Prabowo. Lima pengusaha nasional yang hadir yakni Prajogo Pangestu (Barito Pacific Group), Anthony Salim (Salim Group), Franky Widjaja (Sinar Mas Group), Boy Thohir (Adaro Energy), dan Sugianto Kusuma atay Aguan (Agung Sedayu Group).

Profil Prajogo Pangestu

Bos Barito Pacific Group, Prajogo Pangestu adalah orang terkaya di Indonesia berdasarkan Forbes tahun 2025 dengan kekayaan bersih sebesar USD46,5 miliar atau sekitar Rp752 triliun. Ia bahkan masuk dalam peringkat ke-31 di daftar orang terkaya di dunia.

Pria yang lahir di Bengkayang, Kalimantan Selatan, pada 13 Mei 1944 ini memiliki nama asli Phang Djoen Phen. Ia dari keluarga Hakka, yang merupakan rumpun di Guangdong, Cina. 

 Ia pindah ke Jakarta pada tahun 1965 dan memulai karir pada lima tahun kemudian, saat ia bergabung dengan perusahaan kayu milik Burhan Uray, Djajanti Group. Pada tahun 1976, ia diangkat sebagai General Manager PT Nusantara. 

Namun, pada tahun 1977, ia memutuskan untuk keluar dan membangun bisnisnya sendiri, dengan mendirikan Barito Pacific Timber yang kemudian menjadi perusahaan kayu terbesar di Bursa Efek Jakarta pada tahun 1993.

Pada tahun 2007, nama perusahaan ini diubah menjadi Barito Pacific untuk mencerminkan diversifikasi bisnisnya yang meluas ke sektor petrokimia, energi, dan sumber daya alam lainnya. Tahun yang sama, perusahaannya mengakuisisi 70% saham perusahaan petrokimia Chandra Asri. 

Empat tahun kemudian, Chandra Asri bergabung dengan Tri Polyta Indonesia dan menjadi salah satu produsen petrokimia terintegrasi terbesar di Indonesia. Bahkan, mereka menjalin kerja sama strategis dengan produsen ban Prancis Michelin pada tahun 2015 untuk mendirikan pabrik karet sintetis di Indonesia.

Tidak berhenti di sana, ia mengembangkan sayapnya ke sektor energi terbarukan melalui Barito Renewables Energy, yang mengendalikan Star Energy, salah satu perusahaan panas bumi terbesar di dunia. 

Hingga pada tahun 2022, melalui Green Era, perusahaan swasta yang berbasis di Singapura dan dikendalikan oleh Prajogo. Di sana, keluarganya membeli 33,33% saham Star Energy dari BCPG Thailand senilai USD440 juta, membuat keluarganya memiliki kendali penuh atas Star Energy. Tahun depannya, dua perusahaan batu bara yang dimilikinya, yakni Petrindo Jaya Kreasi, dan Barito Renewables Energy resmi meluncur ke publik. 

Profil Anthoni Salim

Nama Anthoni Salim tak pernah lepas dari daftar konglomerat papan atas Indonesia. Lahir di Kudus, Jawa Tengah, 25 Oktober 1949, Anthoni memiliki nama asli Liem Hong Sien, meneruskan dan membesarkan kerajaan bisnis yang dirintis ayahnya, Sudono Salim (Liem Sioe Liong). 

Di bawah kepemimpinannya, Salim Group bukan hanya bertahan dari badai krisis 1998, tetapi juga kembali menguat dan berekspansi ke berbagai sektor strategis.

Lulusan North East Surrey College of Technology, Inggris, itu mulai memegang kendali bisnis keluarga pada masa yang penuh tantangan. Krisis moneter 1998 sempat membuat Salim Group terlilit utang besar dan kehilangan sejumlah aset penting. 

Namun, melalui restrukturisasi menyeluruh dan negosiasi dengan kreditur, Anthoni berhasil menyelamatkan lini usaha inti seperti Indofood dan Bogasari. Langkah tersebut menjadi titik balik kebangkitan grup usaha tersebut.

Sejak saat itu, strategi diversifikasi dijalankan secara agresif namun terukur. Di sektor makanan dan produk konsumen (FMCG), Salim Group mengendalikan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) sebagai induk usaha, serta PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) yang memproduksi berbagai merek populer seperti Indomie, Indomilk, Chitato, hingga bumbu instan. Di lini roti, terdapat PT Nippon Indosari Corpindo Tbk (ROTI) dengan merek Sari Roti yang telah menjangkau pasar nasional.

Ekspansi juga merambah sektor ritel. Melalui PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET), jaringan Indomaret berkembang pesat hingga pelosok daerah. Salim Group juga tercatat sebagai pemegang saham utama PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST), operator waralaba KFC di Tanah Air.

Di sektor perkebunan dan agribisnis, PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) memproduksi minyak goreng Bimoli, sementara PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) bergerak di perkebunan kelapa sawit dan karet. 

Diversifikasi berlanjut ke infrastruktur dan digital melalui PT Nusantara Infrastructure Tbk (META) yang mengelola jalan tol serta PT DCI Indonesia Tbk (DCII), salah satu operator pusat data terbesar di Indonesia.

Tak berhenti di situ, gurita bisnis Salim Group juga menjangkau sektor energi dan pertambangan. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menjadi salah satu tambang emas dan tembaga terbesar di Indonesia. 

Selain itu, keterlibatan di PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menempatkan grup ini di industri batu bara. Di sektor otomotif dan keuangan, terdapat PT Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS) serta PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA).

Ekspansi internasional dijalankan melalui First Pacific, perusahaan investasi berbasis di Hong Kong yang mengelola portofolio bisnis di berbagai negara, termasuk Filipina dan Thailand. Langkah ini memperkuat posisi Salim Group sebagai pemain regional, bukan sekadar domestik.

Berdasarkan data Forbes pada akhir 2025 hingga awal 2026, kekayaan Anthoni Salim diperkirakan berada di kisaran USD 13,6 miliar hingga USD 16,8 miliar, tergantung fluktuasi harga saham dan nilai tukar. Dengan angka tersebut, ia menempati posisi kelima orang terkaya di Indonesia dan masuk dalam jajaran 200 besar miliarder dunia. 

Franky Oesman Widjaja

Nama Franky Oesman Widjaja telah lama dikenal sebagai salah satu figur kunci di balik kiprah Grup Sinar Mas. Lahir pada 1958, ia merupakan putra dari mendiang Eka Tjipta Widjaja, pendiri salah satu konglomerasi terbesar di Indonesia. 

Franky menjabat sebagai Chief Executive Officer (CEO) Golden Agri-Resources Ltd. (GAR) sejak 1996. Perusahaan ini merupakan salah satu produsen minyak sawit terbesar di Indonesia dengan jaringan operasi yang luas, baik di dalam maupun luar negeri. 

Selain itu, ia juga menduduki posisi Komisaris Utama PT SMART Tbk, entitas agribisnis yang menjadi bagian penting dari rantai usaha sawit Sinar Mas.

Karier Franky dimulai pada awal 1980, ketika dirinya terlibat langsung dalam pengembangan berbagai unit usaha keluarga, mulai dari pulp dan kertas hingga agribisnis. 

Saat krisis moneter 1998 menghantam perekonomian nasional dan mengguncang banyak konglomerasi, ia termasuk sosok yang berperan dalam menjaga stabilitas dan keberlangsungan bisnis Sinar Mas Group.

Lulusan Universitas Aoyama Gakuin, Jepang, dengan gelar sarjana perdagangan ini dikenal memiliki pengalaman lintas sektor. Selain agribisnis, ia juga terlibat dalam pengembangan usaha di bidang jasa keuangan, properti, hingga telekomunikasi.

Dalam beberapa tahun terakhir, kekayaan keluarga Widjaja menunjukkan peningkatan signifikan. Berdasarkan data Forbes, total kekayaan keluarga ini mencapai US$18,9 miliar per November 2024 atau sekitar Rp296 triliun. 

Angka tersebut melonjak dibandingkan tiga tahun sebelumnya. Pada 2021, nilai kekayaan keluarga Widjaja tercatat sekitar US$9,7 miliar. Angka itu naik menjadi US$10,8 miliar pada 2022 dan 2023, sebelum melonjak tajam pada 2024. 

Dengan capaian tersebut, keluarga Widjaja menempati posisi keempat dalam daftar Indonesia’s 50 Richest 2024 versi Forbes.

Di luar aktivitas korporasi, Franky aktif di berbagai organisasi bisnis nasional. Ia menjabat sebagai Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia Bidang Agrobisnis, Pangan, dan Peternakan. Ia juga dipercaya sebagai Ketua Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI), serta penasihat di Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI). 

Tak hanya itu, ia tercatat sebagai pengurus Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) dan anggota Dewan Kehormatan Asosiasi Emiten Indonesia (AEI).

Namanya sempat menjadi perhatian publik pada awal April 2025 ketika hadir dalam pencatatan perdana saham PT Fore Kopi Indonesia Tbk (FORE). Kehadirannya dinilai sebagai bentuk dukungan terhadap perusahaan ritel kopi tersebut. 

Sugianto Kusuma atau Aguan

Nama Sugianto Kusuma atau yang akrab disapa Aguan dikenal luas di industri properti nasional. Lahir di Palembang, Sumatera Selatan, pada 10 Januari 1951, ia merupakan pendiri sekaligus pemimpin Agung Sedayu Group, salah satu pengembang properti terbesar di Indonesia. 

Dalam beberapa tahun terakhir, Aguan juga tampil sebagai pemimpin konsorsium investor yang terlibat dalam pengembangan Ibu Kota Nusantara (IKN).

Perjalanan bisnis Aguan dimulai dari bawah. Pada awal kariernya, ia pernah bekerja sebagai penjaga gudang dan pembantu di perusahaan impor.

Pada 1971, ia mulai merintis usaha sendiri di bidang bahan bangunan sebelum akhirnya masuk ke sektor properti. Dari langkah kecil tersebut, Agung Sedayu Group tumbuh menjadi perusahaan dengan portofolio proyek berskala besar di berbagai kota.

Sejumlah proyek ikonik berada di bawah pengembangannya, seperti Harco Mangga Dua, Pantai Indah Kapuk (PIK), hingga District 8 di kawasan SCBD. 

Dalam pengembangan kota dan kawasan terpadu (city & township), Agung Sedayu Group mengelola proyek seperti Pantai Indah Kapuk 2 (PIK 2), Green Lake City, Grand Galaxy City, Puri Mansion, dan Sedayu City Kelapa Gading.

Di segmen bangunan tinggi (high-rise building), perusahaan ini membangun apartemen dan perkantoran seperti District 8, Ancol Mansion, Gold Coast Sea View Apartment & Office, serta The Mansion at Dukuh Kemayoran. 

Sementara di sektor perhotelan dan resort, portofolionya mencakup Harris Puri, Oakwood Apartment PIK Jakarta, The Langham Jakarta, hingga Pesona Alam Resort & Spa.

Agung Sedayu Group juga aktif mengembangkan pusat perbelanjaan, antara lain PIK Avenue, Mall of Indonesia, Ashta District 8, dan Green Sedayu Mall. Di sektor kawasan komersial, perusahaan ini mengelola Green Sedayu Bizpark di Cakung dan Daan Mogot, serta Sedayu Square.

Dalam menjalankan bisnisnya, Aguan dikenal memiliki jejaring kuat di kalangan pengusaha nasional. Ia disebut memiliki hubungan bisnis erat dengan sejumlah tokoh seperti Tomy Winata dan Anthoni Salim. Meski demikian, di ruang publik ia dikenal sebagai sosok yang cenderung low profile.

Di luar dunia usaha, Aguan aktif dalam kegiatan sosial melalui Yayasan Buddha Tzu Chi bersama istrinya, Rebecca Halim. Kegiatan filantropi tersebut mencakup bantuan kemanusiaan, pendidikan, dan layanan kesehatan.

Terkait kekayaan, sejumlah sumber memperkirakan harta Aguan pernah berada di kisaran USD 970 juta atau sekitar Rp14 triliun. Namun, seiring ekspansi bisnis properti yang terus berkembang, nilai kekayaannya diperkirakan meningkat menjadi lebih dari Rp42 triliun, didorong oleh luasnya portofolio proyek dan kawasan yang dikelola. 

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |