Bahlil Ungkap Alasan Harga Pertalite dan LPG 3 Kg Tak Naik

3 hours ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia menjamin tidak ada kenaikan harga BBM dan LPG bersubsidi. Dia mengatakan, harga jual keduanya tetap dan tidak berubah.

Hal ini merepons penyesuaian yang terjadi pada BBM nonsubsidi jenis Pertamax dan Pertamax Green. Sementara itu, harga BBM Subsidi seperti Biosolar dan Pertalite, serta LPG subsidi 3 kilogram (kg) tidak berubah.

"Kami menyampaikan bahwa harga BBM untuk bersubsidi maupun LPG itu tidak ada perubahan sama sekali," tegas Bahlil di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (11/6/2026).

Dia menjelaskan, keputusan untuk tidak menaikkan harga BBM Subsidi diambil untuk menjaga daya beli masyarakat. Terutama bagi masyarakat dengan ekonomi menengah ke bawah yang berhak menerima subsidi pemerintah.

"Makanya kita untuk menjaga daya beli masyarakat, terutama kepada BBM subsidi sama sekali tidak kita naikkan. Untuk subsidi sama sekali enggak ada (perubahan)," tegas Bahlil.

Informasi, harga Pertalite masih ditetapkan sebesar Rp 10.000 per liter, sementara itu harga Biosolar masih Rp 6.800 per liter. Sedangkan, harga LPG subsidi di pangkalan Rp 16.000-19.000 per tabung. Harga LPG subsidi berbeda-beda di setiap wilayah, termasuk setelah masuk ke pengecer.

Sepeda Motor Tak Dibatasi Beli Pertalite

Sebelumnya, Juru Bicara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Dwi Anggia memastikan tidak ada pembatasan bagi sepeda motor membeli BBM Pertalite. Namun, dia meminta tak ada yang menimbun BBM subsidi tersebut.

Anggia menerangkan, proses pengendalian konsumsi Pertalite dan BBM Subsidi oleh kendaraan roda empat atau mobil akan dilakukan. Salah satunya melalui pindai barcode yang telah dijalankan selama ini. Namun, sepeda motor tidak akan dibatasi untuk membeli Jenis Bahan Bakar Khusus Penugasan (JBKP) Pertalite.

"Untuk motor tidak akan ada pembatasan apapun. Itu sudah jelas disampaikan oleh Pak Menteri bahwa untuk kendaraan roda dua bebas," tegas Anggia di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (11/6/2026).

Jangan Ditimbun

Meski tak dibatasi, dia meminta tak ada penimbunan BBM dengan berbagai modus. Misalnya, mengisi BBM Subsidi secara berulang-ulang untuk ditimbun.

Modus tersebut akan membuat pasokan BBM Subsidi tidak stabil dan bisa berujung pada kelangkaan. Dia juga meminta masyarakat tidak panik untuk beli BBM subsidi.

"Jangan juga ada praktik-praktik helikopter yang bolak-balik tangkinya diisi bolak-balik SPBU kan juga banyak tuh. Itu juga yang mengakibatkan kondisinya jadi gak stabil," ucap Anggia.

"Tambah lagi jangan ada panik baying, jangan ada penimbunan. Itu yang mengakibatkan kelangkaan di mana-mana," sambung dia.

Peralihan Pengguna BBM

Anggia mengamini adanya peralihan antara produk BBM nonsubsidi, seperti dari Pertamax Turbo ke Pertamax. Namun, peralihannya disebut tidak begitu besar.

Dia juga mengamini ada peralihan dari pengguna Pertamax ke Pertalite sebagai BBM dengan subsidi pemerintah. "Masih belum ini ya terlalu banyak shiftingnya, alhamdulillah. Tapi yang paling penting itu tadi, bahwa semua juga harus aware dong, mana yang bukan haknya, jangan diambil," kata Anggia.

Dia menerangkan, Pertamina tetap melakukan pengawasan dan pengendalian konsumsi BBM Bersubsidi. "Sehingga masyarakat yang memang harus dilindungi nih masyarakat bawah, petani, nelayan itu bisa tetap survive jalan terus roda perekonomiannya. Itu yang paling penting," imbuh dia.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |