BI Siapkan Instrumen Baru Agar Dana Investor Tetap di Rupiah

10 hours ago 13

Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) terus memperkuat langkah menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Salah satunya dilakukan melalui pengembangan instrumen pasar uang bagi investor ritel maupun korporasi agar masyarakat tetap tertarik menempatkan asetnya dalam mata uang rupiah.

Upaya tersebut juga diarahkan untuk memperluas pilihan investasi bagi masyarakat sekaligus meningkatkan inklusi dan literasi keuangan di Indonesia.

Deputi Gubernur BI Aida Budiman mengatakan pengembangan instrumen pasar uang diharapkan dapat menciptakan daya tarik yang lebih besar bagi investor dalam negeri maupun masyarakat luas.

“Supaya investor mau menanam modalnya di Indonesia dan masyarakat tetap memegang aset dalam rupiah,“ ujar Aida dalam acara Literasi Keuangan Indonesia Terdepan (LIKE IT) dikutip dari Antara, Minggu (24/5/2026).

Menurut Aida, BI bersama Kementerian Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) juga terus memperkuat literasi keuangan, terutama bagi generasi muda.

Ia menjelaskan bahwa literasi keuangan tidak hanya sekadar memahami produk keuangan atau investasi, tetapi juga membangun kemampuan mengambil keputusan finansial secara bijak dan berkelanjutan.

Literasi Keuangan Dinilai Penting di Tengah Dinamika

Aida menjelaskan peningkatan pemahaman masyarakat mengenai keuangan menjadi semakin penting mengingat kondisi ekonomi global yang terus berubah dan berpotensi mempengaruhi kondisi finansial masyarakat.

Menurut dia, kemampuan mengelola keuangan secara tepat menjadi salah satu bekal penting dalam menghadapi berbagai tantangan ekonomi.

"Di tengah dinamika global, BI memastikan setiap kebijakan yang ditempuh diarahkan untuk memperkuat stabilitas sekaligus tetap mendorong pertumbuhan ekonomi, di antaranya melalui peningkatan inklusi dan literasi keuangan," ujarnya.

Selain memperkuat literasi keuangan, BI juga terus mendorong pengembangan sistem pembayaran digital agar transaksi masyarakat semakin mudah dan efisien.

Salah satu inovasi yang terus diperkuat adalah Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS), yang mempermudah akses transaksi sekaligus layanan keuangan dan investasi.

Hingga April 2026, QRIS tercatat telah digunakan oleh 63 juta pengguna dan lebih dari 45 juta merchant. Sebagian besar merchant tersebut berasal dari sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

BI Siapkan Talenta Digital dan Perkuat Stabilitas Rupiah

Selain memperluas literasi keuangan, Bank Indonesia juga mendorong pengembangan talenta digital melalui berbagai program inovasi, seperti Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI) dan Digdaya x Hackathon.

Program tersebut ditujukan untuk mempersiapkan generasi muda yang inovatif, adaptif, serta siap menghadapi percepatan transformasi ekonomi digital.

Aida juga mengingatkan pentingnya kewaspadaan masyarakat terhadap risiko penipuan digital yang semakin berkembang.

"BI secara aktif juga menjalankan upaya pelindungan konsumen melalui program PeKA (Peduli, Kenali, dan Adukan) guna meningkatkan awareness masyarakat terhadap berbagai risiko fraud dan kejahatan digital," kata dia.

Sementara itu, pada awal Mei 2026, BI juga mengumumkan tujuh instrumen stabilisasi nilai tukar rupiah. Langkah tersebut mencakup:

  1. intervensi pasar spot domestik,
  2. domestic non-deliverable forward (DNDF),
  3. non-deliverable forward (NDF) luar negeri,
  4. pembelian Surat Berharga Negara (SBN),
  5. penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI),
  6. penguatan pengawasan transaksi dolar AS, hingga
  7. pembatasan pembelian dolar tanpa underlying.
Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |