China Blokir Ekspor Barang dari 20 Perusahaan Jepang

1 month ago 35

Liputan6.com, Jakarta - China menambahkan 20 entitas Jepang ke dalam daftar hitam pada Senin, 29 Juni 2026. Tambahan itu termasuk perusahaan-perusahaan besar. Kementerian Perdagangan menyebutkan, langkah itu dilakukan untuk memblokir ekspor barang-barang dwiguna, yakni barang, teknologi dan perangkat lunak yang memiliki fungsi komersial dan militer atau strategis. Hal ini yang meningkatkan perselisihan selama berbulan-bulan antara Beijing dan Tokyo.

"Untuk tujuan menjaga keamanan dan kepentingan nasional serta memenuhi kewajiban internasional, termasuk non-proliferasi, telah diputuskan untuk memasukkan 20 entitas Jepang, yang telah berpartisipasi dalam meningkatkan kemampuan militer Jepang ke dalam daftar kontrol ekspor,” demikian disebutkan dalam pernyataan itu.

Mengutip Channel News Asia, Senin, (29/6/2026), hubungan antara China dan Jepang terguncang pada November ketika Perdana Menteri Jepang Sanaei Takaichi mengatakan, Tokyo mungkin akan bereaksi secara militer terhadap serangan terhadap Taiwan.

Otoritas China meningkatkan tekanan pada Februari. China memberlakukan pembatasan ekspor pada puluhan perusahaan Jepang yang dikatakan terlibat dalam membangun militer Tokyo.

20 tambahan ke daftar hitam ekspor yang diumumkan pada Senin termasuk berbagai anak perusahaan khusus dan perusahaan teknologi yang terlibat dalam memasok komponen dan dukungan teknik untuk sektor pertahanan Jepang.

Di antara lembaga-lembaga tersebut adalah Institut Nasional untuk Studi Pertahanan dan Perusahaan Teknologi Pertahanan dan Antariksa Mitsubishi Electric, demikian disebutkan dalam pernyataan.

China adalah produsen dan pengolah logam tanah jarang terbesar di dunia, yang sangat penting untuk berbagai produk teknologi tinggi termasuk kendaraan listrik, ponsel pintar, sistem panduan rudal, dan laser.

"Jepang telah semakin menyimpang ke jalan yang salah, mengintensifkan dorongannya untuk 'bentuk militerisme baru," kata seorang juru bicara kementerian perdagangan yang tidak disebutkan namanya dalam pernyataan terpisah mengenai langkah-langkah terbaru tersebut.

"Langkah China sepenuhnya dibenarkan, masuk akal, dan sah," ujar dia.

Ia menambahkan, keputusan tersebut tidak memengaruhi ekonomi dan perdagangan normal antara China dan Jepang.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |